Meraih Cintanya

Meraih Cintanya
Bab. 61


__ADS_3

"Abang Muller!!" Teriaknya Faqih yang kembali berlari setelah berbincang dengan bapaknya Pak Hasan Ishaaq.


Muller yang sedang memikirkan sesuatu yang tidak bertepi itu menolehkan kepalanya ketika mendengar suara teriakan seseorang yang sangat dikenalinya itu.


"Kenapa meski berlarian, kamu cukup berjalan kaki biasanya saja Dek!" Ketusnya Muller kepada adik angkatnya itu.


Faqih segera menghentikan laju larinya, lalu tersenyum cengengesan menangapi gerutunya abangnya itu.


"Hehehe Maaf Abang," ujarnya Faqih anak sulung dari pak Hasan dan Bu Siti Aminah.


Muller menepuk papan balai-balai itu dengan pelan ke arah balai-balai kosong yang ada di samping kirinya itu, "Sini duduk di sampingnya Abang!" Perintahnya Muller.


Faqih dengan patuh memenuhi permintaan abangnya itu lalu ikut duduk bersama abangnya di atas balai-balai bambu itu.


"Apa yang terjadi padamu, kenapa mesti harus berteriak seperti Tarzan di tengah hutan saja?" Tanyanya Muller yang menatap intens adiknya itu.


"Begini Abang, sekolah kami menang dan berhasil mewakili kabupaten dan satu minggu lagi kami akan berangkat ke Ibu kota Jakarta," jelasnya Faqih panjang lebar.


Muller tersenyum bahagia mendengar kabar dan informasi tersebut. Apa yang diharapkan dan diprediksi oleh Muller menjadi kenyataan.


"Terus?" Tanya Muller yang tatapan matanya masih jauh memandangi dan mengamati lautan yang semakin berombak sore hari itu.


"Saya ingin Abang juga ikut bersama kami ke Jakarta sebagai pelatih khusus untukku, apa Abang tidak keberatan?" Faqih berharap penuh kepada abangnya itu agar Muller bisa mendampinginya dalam kejuaraan sepak bola junior u 17 itu.


"Berangkat ke Jakarta!" Beonya Mueller.

__ADS_1


"Iya Abang, karena berkat bantuannya Abang selama ini ikhlas dan tekun mengajari kami sehingga sekolah kami menjadi juara di tingkat kabupaten dan saya satu-satunya yang terpilih akan mewakili kabupaten untuk ikut dalam pelatnas Timnas U-17 di Jakarta Abang," imbuhnya Faqih yang sangat bahagia dan antusias mengutarakan hal itu sambil memeluk tubuh kakak satu-satunya itu.


Apa yang mereka lakukan berdua dilihat langsung oleh Pak Hasan Ishaaq dengan istrinya Bu Siti Aminah. Mereka berdua sangat bersyukur dan bahagia karena berkat kehadiran Muller di tengah-tengah keluarga mereka sehingga perekonomian dan kondisi kehidupan keluarganya drastis berubah.


Bahkan pak Desa setempat sangat bangga dan berterima kasih kepada Muller yang selalu memberikan kepada mereka masukan dan berbagai bentuk keahlian yang dimilikinya untuk diajarkan kepada masyarakat dan para pemuda desa dengan sukarela tanpa mengharapkan imbalan apapun itu.


Bahkan Muller memberikan pelatihan khusus bahasa asing kepada anak sekolah yang menginginkan diajarkan berbagai macam bahasa. Sepertinya bahasa Inggris, Jerman, Korea Selatan.


"Saya sangat bahagia suamiku karena Muller sangat berjasa dalam kehidupan kita, mungkin tanpa kehadirannya di sini apalah artinya kehidupan kita," tuturnya Bu Siti Aminah.


"Betul sekali apa yang kamu katakan, Muller sangat baik dan berjasa dengan kemajuan desa kita ini yang selama beberapa tahun selalu ketinggalan dalam hal apapun, tapi berkat bantuannya desa kita sudah terpandang dan diperhitungkan oleh pemerintah provinsi." Timpalnya Pak Hasan Ishaaq.


Muller membalas memeluk tubuhnya Faqih dan tiba-tiba terlintas dalam bayangan di kepalanya ada seseorang perempuan yang sedang dibonceng motor gede oleh seorang pria. Wajah wanita itu cukup samar-samar tapi wajah pria yang mengendarai motor itu sangat jelas terlihat di dalam benak dan pikirannya itu.


"Itu kan saya, kenapa bisa aku mengendarai motor balap seperti itu sedangkan di kampung satupun orang tidak memilikinya?" Seribu bahasa tanda tanya menghampiri pikirannya hingga ia sedikit mengeluh pusing ketika berusaha kembali mengingat bayangan perempuan yang memakai hijab pink itu.


Muller sedikit tersentak kaget mendengar perkataan dari mulutnya Faqih," ehh apa?"


Faqih sama sekali tidak mencurigai apa yang terjadi pada Muller, "Apa Abang setuju ikut bersamaku ke Jakarta? Karena Bapak tidak mungkin bisa pergi jadi pilihan satu-satunya Abang," terangnya Faqih sambil tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang putih bersih itu.


"Apa sebaiknya aku berangkat saja, mungkin di sana aku dapat petunjuk dari ingatan memory aku yang hilang itu," Muller membatin.


Sedangkan Faqih harap-harap cemas menunggu jawaban dari Muller. Tatapan matanya Faqih menyiratkan keinginan yang besar.


"Baiklah, kita akan berangkat ke Jakarta dan persiapkan dirimu sebaik mungkin karena fii sana saingan kamu banyak dan pastinya sangat hebat," tutur Muller seraya menepuk pundaknya Faqih berulang kali.

__ADS_1


"Syukur Alhamdulillah… yes! Aku akan berangkat ke Jakarta, Jakarta tunggu aku!!" Jeritnya Faqih yang berdiri menghadap ke laut.


Muller tersenyum melihat sikap dan reaksinya Faqih.


"Kamu pantas mendapatkannya Dek, kamu memang memiliki bakat yang alami," gumam Mueller sambil menenteng beberapa bakul ikan yang sudah ia jemur dibawah teriknya sinar matahari langsung.


Setiap harinya Muller selalu berangkat ke laut untuk membantu Pak Hasan menangkap ikan. Bulan ini pak Hasan sudah membeli dua kapal baru lagi.


Orang yang bekerja dengannya juga semakin bertambah sehingga lambat laun usahanya semakin besar, makmur, berjaya dan berkah serta sudah diperhitungkan oleh pemerintah setempat maupun rakyat di kampungnya.


Setiap hari pula Faqih jika tidak memiliki kegiatan ia akan berlatih sepak bola dibawah pelatihan Muller. Dengan gigih dan pantang menyerah, Faqih tak henti-hentinya berlatih karena ia tidak membuat kecewa kedua orang tuanya, sekolah, kampungnya, dan juga pelatih khususnya itu.


Hari minggu bertepatan dengan hari keberangkatan Muller dan Faqih ke ibu kota. Mereka menaiki salah satu kapal milik Pak Hasan untuk menyeberang pulau menuju kota propinsi. Di sana lah baru akan berangkat ke Jakarta. Tapi, harus transit terlebih dahulu di bandara internasional Sultan Hasanuddin Makassar baru melanjutkan perjalanan ke Jakarta.


"Faqih maafkan Bapak Nak, bapak tidak bisa mengantar kamu ke Jakarta hanya sampai di sini saja," ucapnya Pak Hasan Ishaaq sambil memeluk tubuh putra semata wayangnya itu.


Faqih meneteskan air matanya karena selama hidupnya ini yang pertama kalinya ia berpisah dan akan tinggal jauh beberapa bulan ke depan dari keluarga dan kedua orang tuanya.


"Tidak apa-apa kok Bapak, Faqih sangat bersyukur, bahagia dan bangga pada Bapak karena sudah mengantar Faqih hingga ke kota itu sudah cukup luar biasa bagi Faqih," timpalnya Faqih.


Air matanya Bu Siti Aminah dan adiknya Faizah tak terbendung lagi. Mereka sungguh sedih harus berpisah dengan salah satu anggota keluarganya itu. Sampai-sampai Bu Siti seolah tidak mampu berucap sepatah katapun untuk melepas kepergian putranya pertamanya itu.


Kedua bola pasangan suami istri itu juga gelisah dan ketakutan karena Muller ikut bersama Faqih. Mereka cemas dan takut jika kepergiannya kali ini untuk selamanya karena kemungkinan besar dugaan mereka adalah Muller berasal dari Ibu kota besar.


Perpisahan itu penuh haru dan air mata, beberapa rekan sekolahnya dan juga beberapa guru serta kepala sekolah dan kepala desa turut hadir untuk turut ikut mengantar kepergian mereka.

__ADS_1


Mereka sedih tapi sekaligus bangga karena satu-satunya putra dari desa dan juga kabupaten mewakili daerahnya yang terpilih sebagai pemain u-18. Satu kata untuk Faqih Muhammad Iqbal Ishaaq kami bangga padamu. Kejarlah cita-citamu setinggi langit hingga mampu menunjukkan pada dunia jika Indonesia bisa bersaing di kancah internasional.


__ADS_2