
Wajah mereka sangat bahagia karena setelah penantian panjang akhir mereka memiliki kesempatan untuk pulang kampung dan bekerja di tanah air kelahiran mereka.
"Banyak pepatah mengatakan hujan emas di negeri orang lebih baik hujan batu di negeri sendiri, iya kan bestiku?" Mbak Tuti merangkul pinggangnya Mbak Annisa bagaikan sepasang kekasih saja yang dimabuk asmara padahal hanya mendapatkan hadiah untuk pulang ke negara asalnya.
Segala persiapan mereka sudah lakukan untuk kembali ke tanah air. Sanjana sangat bahagia karena bisa pulang dengan tenang dan memboyong serta ketiga asisten rumah tangganya.
Mbak Annisa memejamkan matanya, "Alhamdulillah… akhirnya kami kembali setelah hampir lima tahun di Doha Qatar," batinnya Mbak Annisa.
"Aku yakin kamu tidak tidur, karena pasti memikirkan anakmu di kampung kan?' tanyanya Mbak Titin.
"Kamu sok tahu saja, aku memikirkan banyak hal Mbak entah kenapa seolah perasaanku mengatakan jika kita akan kehilangan seseorang yang dekat dengan kita," imbuhnya Mbak Annisa yang kembali memejamkan matanya.
"Jangan dzuzon berfikir jelek, insya Allah semuanya akan baik-baik saja kok," pungkasnya Mbak Tuti yang ikut menimpali percakapan kedua rekan kerjanya itu.
Perjalanan yang mereka tempuh cukup jauh sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama juga. Keesokan harinya, mereka sudah sampai dengan selamat di bandara internasional Soekarno Hatta Jakarta.
__ADS_1
"Alhamdulillah setelah sekian lama kita masih bisa menghirup udaranya Ibu kota," Mbak Tuti merentangkan kedua tangannya sambil menghirup udara segar di sepanjang jalan yang ia lewati.
Kebahagiaan terpancar dari kedua orang tuanya Sanjana ketika mengetahui jika putrinya dan suaminya sudah kembali dari Doha luar negeri.
Mereka disambut hangat ketika menginjakkan kakinya di bandara. Suasana haru menyelimuti pertemuan antara Sanjana dengan mamanya Bu Intan Ayundia Miller.
Setelah acara penjemputan tersebut mereka akhirnya berpisah karena Sanjana dan Sayed hari ini akan langsung menempati rumah baru nya. Sanjana sudah memutuskan akan pindah ke rumah lain, karena menurutnya sudah cukup kenangan pahit itu tinggal di rumah lama mereka.
Sanjana memejamkan matanya ketika sudah berada di atas mobilnya. Sayed dengan telaten dan sabar memasangkan sabuk pengaman ke tubuhnya Sanjana. Sayed sangat memaklumi apa yang telah terjadi padanya karena Sanjana yang sedang hamil jalan empat bulan.
Sanjana terbangun ketika mesin mobilnya sudah berhenti. Sayed sebenarnya baru ingin membangunkan Sanjana, tapi usahanya itu gagal karena didahului oleh kelopak matanya Sanjana sudah terbuka. Dia tersenyum melihat siapa orang yang pertama dia lihat ketika membuka matanya.
"Sudah sampai yah Mas?" Sanjana mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.
Sanjana terkejut melihat sekelilingnya, ia begitu takjub dengan rumah yang berdiri kokoh yang berada di depannya.
__ADS_1
Sayed segera memeluk tubuh istrinya itu," apa kamu suka dengan rumahnya?"
Sanjana tersenyum lebar sambil menjawab pertanyaan dari suaminya itu," aku sangat senang dengan rumahnya tapi, ngomong-ngomong ini rumah punya siapa Mas?"
"Rumah ini aku beli khusus untuk permaisuri hatiku sebagai bentuk wujud cintaku padanya dan aku berharap di rumah ini lah nantinya anak-anak penerus Sayed Alfarizi Satya Muller!" Jelasnya Sayed yang langsung berlutut di hadapan Sanjana Alexandra Agung Miller dengan satu lututnya bertumpu pada salah satu kakinya.
Sanjana cukup tersanjung dengan sikap kelembutan Sayed, ia tersipu malu menanggapi perkataannya Sayed.
"Makasih banyak sayang, tapi tidak perlu sebesar ini juga, rumah sekecil apapun jika Mas bersamaku aku sudah sangat bahagia apa lagi rumah yang sudah mirip Istana," balasnya Sanjana dengan tatapannya terus tertuju pada rumah itu yang memuja bentuk bangunannya hingga model arsitekturnya.
Sayed segera memeluk tubuhnya Sanjana dari arah belakang dengan posesif. Mereka berdiri di depan rumah mereka seolah mereka baru pertama kalinya menikmati dan memiliki rumah yang bagus dan mahal.
"Kamu tidak perlu banyak mikir gitu, aku beli rumahnya pakai uang pribadiku kok, bukan uang perusahaan istriku!" Guraunya Sayed yang tersenyum simpul.
"Ihh Mas sakit tahu ditarik gitu hidung mancungku, tapi saya perlu luruskan, Mas pakai uang perusahaan saya tidak pernah permasalahkan karena itu milik Mas juga, lagian Mas sudah berusaha dan berjuang sekuat tenaga untuk memajukan perusahaan," tampiknya Sanjana.
__ADS_1