
"Ya Allah.. maafkanlah aku… saya ingin bertemu dengan istriku dan meminta maaf padanya serta akan menjelaskan kronologi kejadian yang terjadi tadi," imbuhnya Sayed.
Malam semakin larut tetapi,ia belum bertemu dengan Sanjana. Sedangkan Sanjana sudah meninggalkan tanah air Indonesia yang kemungkinannya tidak akan kembali dalam waktu dekat.
Sayed dibuat frustasi karena sudah berkali-kali menghubungi nomor hpnya Sanjana bahkan ratusan kali tapi, hasilnya masih tetap sama tidak bisa dihubungi.
Sayed semakin dibuat pusing,galau, ketakutan, cemas, khawatir dan juga penuh penyesalan yang sudah prustasi karena tidak tahu harus mencari keberadaan istrinya dan tidak mungkin juga ia mendatangi kediaman kedua mertuanya karena akan sia-sia saja usahanya itu. Karena semua anggota keluarga intinya Sanjana berada di luar negri.
Maaf yah kartu untuk beberapa hari ke depan kamu cuti dulu," gumamnya Sanjana seraya mengganti sim cardnya dengan yang baru dia beli itu.
"Aahhhhh!!!" Pekiknya Sayed sembari berulang kali memukul setir mobilnya dengan tangannya hingga kepalan tangannya sudah memerah dan membiru.
Sayed melampiaskan amarahnya pada setir mobilnya, bukannya pulang ke rumahnya untuk menginterogasi mantan kekasihnya itu, melainkan ke sana kemari mencari keberadaan Sanjana.
"Ya Allah… aku telah berlaku salah dan berbuat dosa, seharusnya aku memeriksa dengan teliti siapa perempuan yang telah lancang dan berani memelukku, aku terlalu bodoh tidak bisa membedakan mana Istriku mana Sarah, wanita brengsek itu!!" Umpatnya Sayed.
Sudah sekitar jam 12 malam, barulah Sayed pulang ke rumahnya. Ia membuka pintunya dan spontan bayang-bayang saat bersama dengan Sanjana terlintas di pelupuk mata dan benaknya.
Kenangan itu jelas terlihat dengan nyata, hingga seolah kebersamaannya beberapa bulan ini menari-nari di di dalam pikiran dan kedua bola matanya. Air matanya refleks menetes membasahi pipinya itu.
"Nana! Maafkan Mas, aku tidak sengaja dan tidak ada niat sedikit pun untuk melukai hatimu, semuanya terjadi begitu cepat tanpa aku sadari, aku yang salah terlalu bego sehingga tidak mampu membedakan kamu dengan dia!" Makinya Sayed Alfarizi Satya Muller yang berjalan mengelilingi area setiap sudut ruangan rumahnya itu.
Suara canda tawanya Sanjana begitu nyata, terdengar di telinganya. Hingga perlahan air matanya menetes membasahi pipinya. Ia menapaki anak tangga dengan perlahan tapi, langkahnya kembali terhenti ketika melihat ke arah belakang rumahnya.
Lampu warna warni yang berbentuk model love hati itu masih menyala, gelas dan piring makanan sama sekali belum tersentuh sedikit pun. Bunga mawar merah yang mengelilingi tempat itu perlahan satu persatu telah gugur dari tangkainya.
__ADS_1
Kelopak bunga mawar sudah berjatuhan memenuhi hampir seluruh tempat itu. Dia mengurungkan niatnya untuk naik ke atas lantai dua rumahnya. Sayed berjalan tertatih ke arah belakang rumahnya.
Air matanya semakin mengalir deras ketika, tanpa sengaja menyentuh saku celananya dan mendapati sebuah kotak beludru yang sangat cantik berwarna biru tua itu.
"Mas akan memberikan hadiah ini untuk kamu, tapi karena kebodohanku kamu harus marah dengan keadaan yang sama sekali aku tidak inginkan terjadi, kenapa juga perempuan ular berkepala dua itu harus kembali lagi, besok aku akan menemui perempuan itu dan menjelaskan padanya jika aku sama sekali tidak ada hubungan apapun dengannya lagi hubungan kami berakhir sekitar tiga tahun lalu," gumamnya Sayed sambil duduk di salah satu kursi yang menjadi saksi kehancuran rumah tangganya yang baru ia bangun dan bina hampir empat bulan itu.
Sedangkan jauh dari hiruk pikuk Ibu kota Jakarta. Seorang wanita dengan hijab yang senantiasa mempercantik penampilan dan wajahnya tersenyum gembira ketika pesawat yang ditumpanginya sudah berhasil mendarat dengan sempurna di bandara internasional Doha Qatar.
"Syukur Alhamdulillah… Qatar aku datang!!" Teriaknya ketika sudah berhasil menginjakkan kakinya di tanah jazirah Arab itu.
Awalnya Sanjana teringat akan berangkat ke Madrid Spain,tapi tiba-tiba ia melihat di layar kaca televisi swasta menyiarkan beberapa pertandingan sepakbola piala dunia untuk tahun ini.
Dari situlah dia tertarik untuk mengunjungi negara timur tengah yang kaya akan sumber daya alamnya itu. Dia berniat akan menetap beberapa hari di sana sampai world cup football selesai diselenggarakan.
"Semoga saja tidak ada yang mengetahui jika aku ke sini," gumam Sanjana lalu mengaktifkan layar hpnya itu.
"Aku angkat atau reject saja yah? Kalau enggak aku angkat pasti akan terus menghubungiku!" Cicit Sanjana.
Sanjana mencari tempat duduk untuk mengistirahatkan tubuhnya sebelum mencari beberapa potong pakaian baru yang cocok untuknya.
"Ini orang selalu saja tahu nomor baruku, apa dia punya mata banyak yah, atau jangan-jangan punya ilmu Kanuragan yang luar biasa," gerutunya Sanjana.
Sanjana dengan raut wajahnya yang kesal dengan ulahnya Willy yang terlalu pintar membuatnya dengan terpaksa dan berat hati menerima telpon dari asisten pribadinya sekaligus adik sepupunya itu yang hanya beda beberapa bulan dengan dirinya.
"Assalamualaikum, ada apa?" Dengusnya Sanjana dengan tatapan matanya yang ia edarkan ke segala penjuru sudut Bandara internasional Doha Qatar.
__ADS_1
"Waalaikum salam, kamu rencananya berapa hari di sana?" Tanyanya Willy yang langsung to the points tanpa banyak basa-basi lagi.
"Kamu selalu tahu kemana aku pergi, kamu itu punya ilmu cenayang yah!" Ketus Sanjana.
"Hahaha! Aku akan selalu tahu apa yang kamu lakukan dan apa yang terjadi padamu dengan suamimu yang tolol itu!" Cibirnya Willy sambil tangannya masih setia di atas keyboard komputernya.
Sanjana memutar bola matanya dengan jengah,"dari dulu seperti ini! Apa yang ingin kamu katakan, cepatlah karena aku…." Belum selesai ia selesaikan perkataannya perasaannya sudah merasakan keanehan.
Oek.. owek…
Sanjana tanpa mematikan sambungan teleponnya segera berlari ke arah toilet. Tanpa bertanya kepada orang lain karena kebetulan tempat duduk yang dipilihnya tidak terlalu jauh dari posisinya. Sanjana mempercepat langkah kakinya karena sesuatu akan keluar dari mulutnya.
Sanjana cukup tersenyum karena beberapa toilet tersebut kosong. Sanjana segera memuntahkan segala sesuatu yang ingin keluar dari mulutnya itu. Hpnya segera ia masukkan kedalam tas handbagnya karena ia ingin membersihkan wajahnya yang ada tersisa sedikit bekas muntahannya.
Berulang kali ia muntah dan mual, sekitar 10 menit lebih dia berada di dalam toilet itu. Setelah merasakan baik-baik ia pun keluar lalu berjalan ke arah westafel yang ada cermin besar nya. Sanjana menatap sekilas wajahnya melalui cermin datar itu.
Mimik wajahnya kebingungan dengan kondisinya yang baru kali ini mabuk perjalanan, "Ya Allah… apa yang terjadi padaku! Kenapa hanya perjalanan yang tidak terlalu jauh dan aku sudah biasa bepergian tapi, hari ini berbeda perutku terasa diaduk, kepalaku juga sedikit pusing kalau seperti ini bisa-bisa traveling ke tempat bersejarah di Qatar akan terganggu," lirihnya Sanjana Alexandra Agung Miller.
Hingga sebuah tangan mengulurkan ke hadapannya sebotol minyak kayu putih, Sanjana tanpa pikir panjang ia mengambil minyak itu karena entah kenapa ia sangat menyukai aroma dan wanginya minyak angin aromatherapy kualitas teratas itu.
"Sini Ibu bantuin kamu untuk menggosok punggung dan tengkuk lehernya! Pintanya Ibu yang memakai cadar itu dengan menggunakan bahasa Inggris.
Sanjana seolah terhipnotis dengan permintaan ibu-ibu itu yang mungkin usianya kira-kira sekitar 40an dengan hanya kedua pasang matanya yang mampu Nana lihat dengan jelas.
Ibu itu tersenyum ramah, " sepertinya kamu hamil, setelah kondisi kamu baikan, segeralah ke rumah sakit untuk memeriksakan diri kamu!" Imbuhnya ibu itu yang memakai pakaian yang tertutup khas orang perempuan Qatar.
__ADS_1
"Hamil!" Beo Sanjana seraya mengelus perutnya yang masih datar itu dan belum terisi makanan sedikitpun.