Meraih Cintanya

Meraih Cintanya
Bab. 60


__ADS_3

Pengorbanan waktu dan tenaga yang dicurahkan oleh kedua pasangan suami istri itu tidak terkira. Hingga kondisinya pria yang diselamatkannya sadarkan diri dari komanya kurang lebih satu bulan lamanya


"Ya Allah.. semoga Pria itu baik-baik saja, saya sangat mengkhawatirkan keadaannya," batinnya Bu Siti Aminah yang berjalan tergesa-gesa di sampingnya Tuan Dokter.


Pak Hasan Ishaaq berusaha menenangkan pria itu yang tidak berhenti mengeluh kesakitan.


"Pak kepalaku kenapa serasa mau pecah!!" Teriaknya sambil memegangi terus kepalanya seraya berguling di atas bangkarnya.


"Sabar Pak, kamu pasti akan segera sembuh dan sebut dan Ingat terus nama Allah SWT agar sakit yang kamu rasakan segera diangkat dan disembuhkan segera," ujarnya Pak Hasan yang sedih melihat kondisi dari pria itu yang sungguh menyayat hati jika melihatnya.


"Aahhh!!" Pekiknya lagi.


Pintu itu berdecit pertanda ada orang yang masuk ke dalam ruangan mesjid tersebut. Pak Hasan tersenyum melihat Tuan Dokter dan istrinya dan beberapa orang yang sudah berada di dalam ruangan tersebut.


"Ya Allah… makasih banyak pertolongan sudah datang," gumamnya Pak Hasan Ishaaq.


"Suster segera suntikkan secepatnya obat penenang dan siapkan satu botol cairan infus yang baru!" Perintahnya Dokter Juanda yang nampak tegang, serius juga.


Perawat segera mengerjakan sesuai dengan arahan dari dokter dengan cekatan dan terampil. Pak Hasan dengan Bu Siti memegang tangan dan kakinya Pria itu yang masih sering berontak untuk berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Ya Allah… apa sebenarnya yang terjadi padanya Dokter? padahal tadi kami hanya bertanya tentang namanya dan asalnya saja kok," ujarnya Pak Hasan yang kebingungan dengan keadaan itu.


Dokter menatap ke arah Pak Hasan Ishaaq," setelah kalian bertanya apa lagi yang terjadi padanya?"


"Dia langsung berteriak kencang dan histeris hingga ia mengeluh kesakitan dibagian kepalanya dan keadaannya seperti ini sudah Tuan Dokter." Jelasnya Bu Siti Aminah.


Dokter segera menyuntikkan obat ke dalam selang infusnya yang dan juga suntik langsung ke lengan tangannya itu. Apa yang dilakukan oleh Pak Dokter membuahkan hasil. Pria itu segera tenang dan juga tidak terlalu mengeluh kesakitan lagi. Walaupun masih sesekali meringis kesakitan tapi, kondisinya lebih bagus dari sekarang.


"Syukur Alhamdulillah, makasih banyak ya Allah pria itu sudah tertidur pulas, makasih banyak Tuan Dokter," tuturnya Bu Siti yang meneteskan air matanya karena tersentuh dan terharu melihat kesakitan yang dirasakan oleh pria yang sama sekali tidak dikenalnya itu.


Berselang beberapa menit kemudian, Pria itu sudah tertidur dengan tenang. Semua orang menghela nafas lega.


Pak Hasan melihat ke arah Pak Tuan Dokter," maksudnya kenapa bisa seperti itu? Bolehkah Tuan Dokter menjelaskan kepada kami apa yang terjadi padanya agar kedepannya kami tidak akan berani untuk melakukan hal itu lagi," imbuhnya Pak Hasan dengan wajahnya yang nampak keheranan.


"Begini pak, pria itu menderita amnesia atau sering kami sebut hilang ingatan, hal itu bisa terjadi karena kemungkinan besarnya pria itu ketika terjadi kecelakaan kepalanya terbentur kuat dengan benda yang cukup kuat,kasar dan besar sehingga menyebabkan sebagian memori ingatannya hilang," jelasnya Pak Tuan Dokter.


Bu Siti dan Pak Hasan saling menganggukkan kepalanya karena akhirnya baru mengetahui hal itu setelah mendengar perkataan dan penuturan dari Tuan Dokter Juanda, "Ohh seperti itu yah, berarti kami tidak boleh mengulangi pertanyaan itu dan memberikan kehidupan baru saja tanpa bayang-bayang masa lalunya sedikitpun," timpalnya Bu Siti.


"Benar sekali apa yang Ibu katakan," ucap Pak Dokter.

__ADS_1


"Makasih banyak atas bantuannya Dokter, kalau begitu saya permisi dulu karena sudah waktunya shalat ashar, assalamualaikum," ujarnya Tuan Dokter sambil berlalu dari kedua pasangan suami istri itu.


"Berarti kalau seperti itu, kita tidak akan menemukan keberadaan keluarganya suamiku, kasihan sekali nasibnya mungkin saja anggota keluarganya sudah menganggap ia sudah meninggal dunia padahal masih hidup dan juga selamat dari kecelakaan maut itu," pungkas Bu Siti Aminah.


"Mau diapa Istriku seperti ini jalannya tapi saya yakin jika suatu saat nanti ia akan tersadar dan sembuh dari penyakitnya itu, tetap lah sabar, ikhlas dan berdoa untuk kesembuhannya," imbuhnya Pak Hasan.


Tiba-tiba Ridwan segera berjalan ke arah dalam sambil melirik ke arah sekeliling kamar itu dan berjalan mendekat ke arah Pak Hasan.


"Pak Hasan, saya baru mendapatkan tas selempangnya pria itu yang kebetulan ada ditubuhnya saat ditemukan, semuanya sudah aku jemur tapi, banyak data di dalam tas itu tidak terbaca karena mungkin terlalu lama basah dan terendam dengan air asin di laut," ungkap Ridwan.


Pak Hasan segera meraih tas itu di dalam genggaman tangannya Ridwan dengan penuh kehati-hatian. Pak Hasan melihat ada beberapa barang penting di dalamnya seperti beberapa kartu kredit ATM, KTP, kartu nama dan juga sebuah dompet yang berwana cokelat.


Mereka segera satu persatu memeriksa kartu-kartu itu dan hanya KTP yang masih terbaca sedikit saja tulisannya.


"Di KTPnya tertulis namanya S terhapus sebagian dan yang terakhir tertulis namanya Muller Pak," ujar Bu Siti yang memegang sebuah kartu tanda penduduk seraya membolak-balik kartu itu.


"Muller," beonya Ridwan.


"Betul sekali mulai detik ini kita panggil dia Muller, gimana?" Tanya Pak Hasan Ishaaq.

__ADS_1


"Setuju Abang, saya sangat setuju," balasnya Bu Siti Aminah


__ADS_2