
Sanjana dengan penuh keyakinannya jika suaminya masih hidup. Feelingnya mengatakan jika Sayed berada di tempat yang jauh yang suatu saat nanti akan kembali pulang.
"Sayang, putrinya Mama please! Sabarlah dan tenangkan dirimu ingat kamu itu punya dua anak yang masih bayi dan mereka sangat butuh kasih sayang dan perhatianmu terutama asi kamu jika kamu terbebani, banyak pikiran dan emosional mulu hingga akan berpengaruh kepada kualitas asimu sayang, Mama juga sangat sedih dan kehilangan tapi, ini semua sudah Sunnahtulllah Allah SWT jika semua yang bernyawa cepat atau lambat pasti akan kembali ke sang Khaliq, karena mama yakin Allah SWT tidak akan memberikan ujian ini kepada kita semua jika kita tidak mampu untuk menanggungnya semua sudah ada takarannya masing-masing," nasehatnya Bu Siska yang sebenarnya dia yang paling sedih karena putranya itu termasuk anak yang sudah sangat lama ia impikan hampir enam tahun mereka menikah barulah diberi karunia resky berupa keturunan.
"Biarlah semua orang menganggap jika suamiku Sayed Alfarizi Satya Muller sudah meninggal dunia, tapi bagiku suamiku masih hidup hingga detik ini," batinnya Sanjana yang cukup kuat dan tegar menghadapi cobaan ini.
Satu minggu kemudian, kondisinya Sanjana dan kedua bayinya Yardan dan Yasmine sudah pulih total. Mereka hari ini diijinkan untuk pulang ke rumah.
"Nona, apa mau pulang ke rumahnya Tuan Besar mertuanya Nona atau rumahnya Tuan Besar Papanya Nona?' Mbak Tuti berbicara seperti sambil membereskan beberapa barang yang sempat mereka bawa dan pakai selama di rumah sakit.
Sanjana tersenyum simpul sambil mengelus puncak rambutnya Yasmine yang sedang minum asi dari Sanjana," kita pilih ke rumahnya Mas Sayed!"
Sanjana sudah memutuskan untuk melanjutkan kehidupannya walau belum menemukan dan mengetahui keberadaan dari Sayed suaminya.
"Mbak tolong atur aqiqahan anakku minggu ke tiga dari sekarang,tapi aku maunya cukup mengundang anak yatim piatu dan juga ibu-ibu majelis ta'lim saja tidak perlu mengundang orang banyak khusus keluarga inti saja dan juga sahabatku dan sahabat Mas Sayed jangan lupa Mbak!" perintahnya Sanjana Alexandra Agung Miller.
"Baik Nona Muda,semua akan kami laksanakan sesuai dengan arahan Nona, semua sudah beres tinggal kita pulang saja dari sini," imbuhnya Mbak Tuti.
Sanjana tersenyum simpul," makasih banyak,"
Mbak Tuti diam-diam memperhatikan perubahan raut wajahnya Sanjana," kenapa aku merasakan Nona Muda tidak seperti biasanya, apa semua gara-gara kepergian Tuan Sayed yah sehingga mengubah karakter dan sifatnya Nona, tapi aku berharap semoga psikisnya Nona baik-baik saja kasihan kedua anak kembarnya jika terjadi gangguan kesehatan diakibatkan meninggalnya Tuan Sayed," batinnya Mbak Tuti dengan wajah sendunya.
__ADS_1
Sanjana menidurkan bayinya ke atas box masing-masing, tatapannya tajam menelisik ke arahnya jendela kamarnya itu yang kebetulan terbuka hingga angin bertiup sepoi-sepoi masuk ke dalam kamarnya menerpa hijabnya yang berwarna ungu soft itu.
"Aku tidak boleh berputus asa dengan semua ini karena aku yakin cepat atau lambat suamiku pasti pulang walaupun harus menghabiskan sisa waktuku di dunia ini," Sanjana membatin.
Sanjana berjalan ke box salah satu bayinya," sayang, apa yang Mama rasakan pasti kamu juga rasakan kan kalau papa suatu saat nanti akan pulang?" Sanjana mengajak bayinya berbicara walaupun ia tahu jika bayinya tidak akan memberikan respon yang seperti dia harapkan.
Tapi, diluar dugaan ternyata Yasmine bangun dari tidurnya lalu menatap ke arah mamanya seolah memberikan jawaban sesuai yang mamanya inginkan.
"Putrinya Mama kok bangunnya cepat banget, apa popoknya basah putriku yang paling cantik?" Sanjana menggendong bayinya lalu mengecek pampers bayinya tapi, ternyata masih kering.
Sanjana sedikit keheranan karena bayi yang baru berumur tiga minggu itu memberikan reaksi di luar dugaannya itu. Sanjana menghujani ciuman pipi chubby putrinya itu sedangkan anaknya yang cowok Yardan Mikail Muller lebih tenang dan nyaman sama sekali tidak terusik dengan kegiatan dua perempuan cantik di dalam hidupnya itu.
Keesokan harinya, acara aqiqahan pun dilaksanakan tiga ekor kambing yang cukup gemuk, besar dan sehat dalam proses penyembelihan. Satu persatu keluarganya datang untuk memberikan ucapan selamat dan juga doa untuk penerus dua keluarga besar Muller dan Miller 2M.
"Yardan semoga kamu bisa membuat Mama kamu bahagia dan selalu tersenyum bahagia walaupun papa kalian sudah tidak ada lagi di sisimu," ujarnya Fatih Terim Januar suami dari kakak sepupunya Sanjana.
"Makasih banyak Uncle atas doanya dan juga kadonya yang paling spesial bisa datang jauh-jauh dari Doha Qatar khusus untuk Yardan dan Yasmine," imbuhnya Sanjana.
Sofia memeluk tubuh adik sepupunya itu karena baru bisa datang berkunjung ke Indonesia setelah hampir sebulan suami dari adiknya itu meninggal dunia sekaligus sahabat terbaiknya suaminya dokter Fatih.
"Kamu harus kuat,sabar dan ikhlas dengan semua ketentuannya Allah SWT, karena kami yakin kamu adalah seorang perempuan dan sekaligus seorang istri yang sangat kuat, walaupun hingga detik ini hanya mayat Sayed yang belum ditemukan dalam kecelakaan pesawat tersebut, tapi mungkin ini jalan yang terbaik untuk kalian," Sofia menepuk dengan penuh kelembutan punggungnya Sanjana yang berusaha untuk menahan laju air matanya itu.
__ADS_1
"Makasih banyak Mbak, insya Allah aku bisa menjalani semuanya ini dengan penuh kesabaran dan keikhlasan karena kalian selalu bersamaku dikala suka dan dukaku, thanks all…" lirih Sanjana.
Fatih diam-diam menyeka air matanya menetes membasahi pipinya itu. Siapapun yang mengenal baik Sayed pasti akan merasa kehilangan, walaupun pernah hidup sebagai Casanova karena patah hati.
"Ya Allah… aku tidak menyangka sahabatku itu pergi begitu cepatnya hingga menyisakan duka yang mendalam di hati kami ini," gumam Fatih seorang dokter Muda yang cukup handal dan memiliki nama.
Sarah dan Willy pun datang memberikan ucapan yang spesial untuk kedua anaknya Sanjana. Sarah sebenarnya agak segan untuk berkomunikasi langsung dengan Sanjana mengingat masa lalu mereka sebelumnya.
Sarah menatap ke arah suaminya itu dengan tatapan matanya yang meminta petunjuk, Willy Widianto Ardiansyah tersenyum seraya menganggukkan kepalanya tanda setuju dan memberikan dukungan moril kepada Sarah untuk berani dan percaya diri.
"Sanjana, maafkan kami baru hari ini bisa datang menjenguk bayimu karena aku juga baru melahirkan anak kedua kami, aku ucapkan semoga keduanya jadi anak yang sholeha dan Sholeh berbakti kepada kedua orang tuanya, agama bangsa dan negara, maaf kadonya terlambat juga datangnya," ungkap Sarah dengan penuh penyesalan sambil mengecup pipinya Yasmine.
Sanjana yang berdiri sambil menggendong bayinya tersenyum tulus," tidak apa-apa kok aunty, iya kan sayang yang penting Aunty sama uncle sudah datang hari ini itu sudah cukup bagi kami," pungkas Sanjana yang merasa terharu karena hanya mengundang sebagian orang saja tapi, banyak yang datang mengucapkan doa yang tulus kedua anak kembarnya.
"Kami sangat bersyukur karena banyaknya ucapan doa yang tulus dihaturkan dan diberikan kepada kedua cucuku, aku sebagai kakeknya tidak mampu membalas ucapan kalian satu persatu," tuturnya Pak Farid Alexander Agung Miller.
Willy yang mendengar pamannya berbicara seperti itu segera ikut menimpali," santai Paman, yang paling penting setiap ke perusahaan kami menawarkan proyek kerjasama selalu digolkan iya enggak Galang Aryanta Martadinata!" Willy menatap ke arah Galang yang baru bergabung dengan mereka semua.
Suasana semakin terasa kental kekerabatannya dan keakrabannya dengan suasana yang cukup hangat siang hari itu.
"Kalau gitu mari kita sama-sama memotong rambutnya si kecil untuk acara pemotongan rambutnya,saya kakeknya dengan ini tanpa mengurangi rasa hormatku mari kita laksanakan acaranya hingga selesai acaranya," pintanya Pak Farhan Fathanah Muller.
__ADS_1
Acara pun semakin meriah setelah acara pengajian dan ceramah dari salah satu ustadz kondang ibu kota. Semuanya cukup dibuat terharu dan trenyuh jika kembali mengingat masa lalu kebersamaan mereka.
Bu Ratih dan Bu Siska tidak bisa menahan kesedihannya. Mereka terkenang dengan kebaikan dan kehangatan dari sifatnya Sayed Alfarizi Satya Muller.