
Faqih tersenyum setelah mendapatkan nomor hpnya Galang," makasih banyak Abang, tunggu informasi saya selajutnya, "
"Oke, aku akan tunggu apa yang bisa kamu berikan untuk kami, semoga kerjasama kita ini sukses," ujarnya Galang Aryanta Martadinata sambil menepuk pundaknya Faqih sebelum meninggalkan toilet.
Faqih bisa bernafas lega karena sudah menemukan solusi untuk mengatasi masalah Abang nya Muller.
"Ya Allah… semoga saja apa yang aku lakukan ini berhasil, kasihan dengan Abang Muller yang selalu nampak kebingungan mencari tahu kegelisahan hatinya padahal kami sangat ingin membantunya, tapi bapak dan ibu sama sekali tidak menemukan cara untuk mengatasi hal itu," Gumamnya Faqih lalu pergi dari tempat tersebut.
Satu minggu kemudian, Galang mendapatkan informasi dari Faqih jika ia tinggal di salah satu tempat pelatihan yang berada di salah satu lokasi yang tidak terlalu jauh dari tempat perusahaannya Sanjana Alexandra dan juga Galang sendiri.
Galang bersandar di jendela kaca mobilnya," ya Allah… aku yakin dia adalah suaminya Nana, berarti saat kecelakaan pesawat terbang itu Sayed Alfarizi Satya Muller selamat," gumam Galang seraya melepaskan kacamata hitamnya yang bertengger di hidung mancungnya itu dengan senyuman smirknya.
Faqih tanpa sengaja melihat Galang yang sedari memperhatikan mereka, tepatnya memperhatikan Muller.
Faqih menyunggingkan senyumnya," Abang Galang sudah datang, apa hari ini rencana itu akan dilaksanakan?" Cicitnya Faqih yang segera menyudahi latihannya di sore hari itu.
__ADS_1
"Abang, saya pamit dulu yah, aku mau buang air kecil," ujarnya Faqih di depan Muller lalu berjalan ke arah pelatih fisik sepakbola U-19 itu.
"Jangan lama-lama, aku tunggu kamu di sana saja," pungkasnya Mueller seraya menunjuk ke arah kursi tunggu penonton.
Galang segera memasang kembali kacamatanya, lalu melangkahkan kakinya menuju ke arah jalan yang dilaluinya oleh Muller juga.
"Ya Allah, semoga saja apa yang sudah aku rencanakan berhasil dalam juga semoga pria itu setuju dengan perjanjian kerjasama sama kami ini," cicit Galang suami dari Sania Mirza Hakim itu.
Langkahnya pasti dan cukup panjang membuat ia cepat sampai ke tempat tujuan.
"Assalamualaikum," salamnya Galang ketika sudah berada di belakangnya Muller.
"Waalaikum salam," jawabnya Mueller tanpa menunjukkan sikap ramah sedikit pun malah hanya memperlihatkan sikap waspada kepada Galang yang notabene baru dilihatnya itu.
Galang segera menunjukkan raut wajahnya yang sedih dan seperti seseorang yang mengalami kesedihan yang cukup mendalam.
__ADS_1
"Abang Muller!" Teriaknya Galang sambil memeluk dengan erat tubuhnya Muller.
Muller yang dipeluk hanya terdiam saja tanpa memperlihatkan reaksi yang berarti apa-apa.
"Bang Sayed,kamu masih hidup,kami sudah mencari kamu di mana-mana tapi sama sekali tidak menemukan kamu bahkan sudah hampir enam tahun kami terus berusaha untuk mencarimu Abang, apa Abang tidak kasihan dengan istri Abang," tuturnya Galang disertai dengan air matanya yang semakin menetes saja.
"Sayed!" Beo Muller.
"Iya bang, kamu adalah suaminya Sanjana Alexandra Agung Miller ," balasnya Galang lagi.
Muller segera melerai pelukannya Galang dari tubuhnya dengan sedikit kasar karena Galang seolah tak ingin melepaskan pelukannya itu.
"Maaf sepertinya kamu salah orang, memang nama kami sama tapi, jelas-jelas kami berbeda dan bukan orang yang sama," tampiknya Muller yang sedikit tidak menyukai dengan tindakannya Galang yang baginya sok kenal sok dekat kepadanya.
Mueller segera meninggalkan Galang yang tangannya menggantung di udara.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita bekerja sama,kamu bekerja padaku sebagai suami pura-puranya teman aku?" Teriaknya Galang.
Muller hanya melirik sepintas ke arah Galang yang sudah berteriak itu tanpa berniat untuk menimpali perkataannya Galang yang sudah berjuang untuk meyakinkan Muller.