
"Iya, aku akan kembali besok subuh, Mama harus sabar, saya sama Sanjana akan langsung ke rumahnya nenek," ujarnya Sayed Alfarizi Satya Muller.
Sanjana berjalan ke arah suaminya berada yang duduk di sofa walaupun sesekali ia meringis kesakitan dan ngilu dibagian daerah intimnya itu tapi, tetap melangkahkan kakinya menuju tempat suaminya berada. Sanjana menyentuh lengan suaminya yang tidak tertutupi apapun.
"Sayang! Apa yang terjadi kenapa Mas menangis?" Tangannya segera menyeka air matanya Sayed dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.
"Nenek!! Nenek meninggal dunia Istriku!" Jawabnya Sayed yang sudah menangis tersedu-sedu.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun," lirihnya Sanjana.
Sanjana sedari tadi mengelus punggung suaminya agar merasa kalau ia sedang tidak sendiri.
"Yang sabar yah sayang, Allah SWT lebih menyayangi nenek dari pada kita semua," ujarnya Sanjana yang berusaha menguatkan suaminya itu.
Sayed memaksakan dirinya untuk tersenyum," makasih banyak sayang, kamu sudah berada di sampingnya Mas," jawab Sayed yang terpukul atas meninggalnya nenek dari mamanya itu.
Keesokan paginya, sekitar jam 6 pagi mereka bertolak dari Nusa Tenggara Timur menuju Ibu Kota Jakarta. Mereka memilih dan penerbangan pagi karena tidak ingin cepat sampai di kediaman kakeknya.
Duka haru menyelimuti seluruh anggota keluarganya Keluarga Muller kembali berduka tanpa terkecuali. Setelah sekitar dua tahun lalu kakeknya Tuan Muller meninggal dunia. Pria keturunan berdarah indo Inggris itu telah meninggalkan seorang istri, tiga anak dan puluhan cucu dan cicitnya.
Tapi, hari ini kembali anggota keluarganya meneteskan air mata duka kehilangan sosok mama yang sangat baik, humble humoris dan penyayang. Karena Nyonya Karina Muller lah yang menjodohkan keduanya hingga mereka hingga saat ini menjadi pasangan suami istri.
Walaupun Mama nya Sanjana sempat menolak dan menentang perjodohan tersebut tapi, dengan bujukan dari suaminya Pak Alexander Agung sehingga Sanjana resmi menjadi istrinya Sayed.
Silsilah keluarga Sanjana hingga detik ini Sayed sama sekali tidak mengetahuinya karena sejak mereka berencana untuk menikah mulai dari acara lamaran hingga resepsi dan sampai detik ini sekalipun Sayed tidak pernah bertanya tentang kedua mertuanya baginya kedua orangtuanya Sanjana tidak lebih dari kedua orang tuanya yang dari kalangan menengah saja.
Karena mereka menikah secara sederhana atas permintaan dari Sayed dan Sanjana sendiri hal itu kembali ditentang keras oleh mamanya Sanjana tapi, kembali lagi papannya Sanjana Tuan Alexander sama sekali tidak ingin dan tidak pernah memaksakan kehendak kepada anak-anaknya.
__ADS_1
Hanya satu yang dikatakan Sanjana pada papanya dulu sebelum menikah," makasih banyak papa sudah merestui pernikahan dan hubunganku dengan Mas Sayed,Sanjana berjanji jika pernikahan kami tidak bahagia Sanjana akan kembali ke kehidupan Sanjana yang dulu untuk membantu papa menjalankan bisnisnya Papa jika hanya air kesedihan yang diberikan oleh Sayed,"
Walaupun kenyataannya seperti itu tapi, Sanjana berusaha untuk menutupi biduk rumah tangganya dari sorotan kelurganya. Hari ini semuanya sudah berubah, senyuman kebahagiaan sudah jelas terpancar dari wajah pasangan suami istri tersebut yang baru saja pulang dari bulan madu.
Setelah pernikahan mereka yang hampir setahun itu, hari ini keluarganya melihat jika mereka sudah bahagia tidak seperti dulu lagi.
Pak Ahmed Muller tersenyum menyambut kedatangan anak dan menantunya dari Labuhan Bajo. Walaupun dalam suasana duka menyelimuti keluarga Muller tetapi, kedua orang tuanya merasa bahagia dan bersyukur karena berkat rencana mereka kedua anaknya tidak jadi bercerai.
"Assalamualaikum Mama," sapanya Sanjana di hadapan mama mertuanya itu.
Bu Trie Husnah menyambut pelukan hangat anak menantunya itu, "Waalaikum salam Nak," balasnya Bu Trie Husnah yang tersenyum bahagia karena tidak melihat adanya sosok benalu dalam kehidupan anaknya lagi.
Bu Trie Husnah mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat, tapi tetap tidak menemukan Sania Mirza Hakim.
"Syukur Alhamdulillah, Sania sudah tidak bersama putraku, semoga bukan cuma hari ini saja tetapi untuk seterusnya dan selamanya pelakor itu tidak akan muncul lagi," batinnya Bu Trie Husnah.
Begitupun halnya dengan Sayed dan Sanjana pengantin lama rasa baru itu. Mereka meninggalkan rumah ke-dua orang tua Sayed. Mereka memilih untuk pulang ke rumahnya sendiri untuk beristirahat.
Di dalam mobil Sanjana merebahkan kepalanya ke arah sandaran kursi. Ia sesekali memejamkan matanya karena tubuhnya cukup kelelahan. Sayed mengelus rambut panjang istrinya yang dicepol asal saja dengan menggunakan tangan kirinya sedang tangan kanannya dengan setia memegang kendali setir mobilnya itu.
"Kamu pasti kelelahan sayang, ini semua gara-gara Mas yang tidak hentinya meminta jatah," gumam Sayed dengan senyuman penuh maksudnya itu.
Beberapa hari kemudian, hubungan Sayed dengan Sanjana sudah ada perubahan seperti pagi ini, Sayed turun langsung membantu Istrinya memasak masakan untuk sarapan pagi mereka.
"Humm!! Wangi banget aromanya, kamu masak apa sayang?" Sayed berdiri dibelakang Sanjana sambil melingkarkan tangannya ke pinggangnya Sanjana.
Sanjana yang diperlakukan seperti itu cukup terkejut karena tiba-tiba Sayed melingkarkan tangannya.
__ADS_1
"Ehh Mas! Sudah bangun rupanya aku pikir setelah shalat subuh Mas kembali tidur," imbuhnya Sanjana dengan tangannya masih setia membalik tempe mendoan dan perkedel jagung manis yang ia goreng di dalam wajan.
"Aku awalnya pengen tidur sih, tapi lupa kalau hari ini anaknya Pak Agung akan datang jadi aku tidak boleh terlambat, entar kena teguran lagi," jawab Sayed.
Sanjana sedikit merasa geli karena Sayed menyandarkan kepalanya di salah satu pundaknya Sanjana.
"Geli Mas, nanti malam lanjutnya yah, entar gorengan aku gosong lagi gara-gara ulahnya Mas, ini dapur loh nanti lanjutnya di dalam kamar saja sayang!" gurauannya Sanjana yang tersenyum sambil sedikit menggoyangkan tubuhnya tubuhnya karena kegelian lalu tanpa sepengetahuan Sayed, Sanjana segera mencium sekilas pipinya Sayed.
Sayed tersenyum penuh arti ketika diam-diam mendapatkan hadiah ciuman pagi hari. Sayed terdiam sejenak tanpa bisa berbuat apa-apa dan tak bergeming.
"Kamu sudah mulai pintar yah sayangku!" Tuturnya Sayed.
Sedangkan Sanjana segera buru-buru mematikan kompornya lalu berjalan untuk menghindar agar tidak mendapatkan serangan balasan dari suaminya itu. Ia berjalan ke arah mesin pendingin kulkas.
Sayed segera menghentikan kegiatannya untuk menggoda istrinya sebelum makan pagi. Dia cukup terhibur di pagi hari itu dengan gayanya istrinya yang mampu membuatnya cukup tersenyum kegirangan.
Sayed yang sudah berjalan ke arah kursi meja makan menanti makanan yang tersisa untuk disajikan oleh Sanjana. Sebenarnya memegang spatula, panci dan semacamnya itu baru dilakukan oleh Sanjana ketika menikah dengan Sayed.
"Kalau kamu, apa ingin berangkat kerja hari ini atau masih mau istirahat? Kalau kamu capek istirahat saja di rumah sayang," Sayed segera membalik piring untuk mengisi beberapa makanan ke atas piringnya itu.
Sanjana menatap sekilas ke arah suaminya lalu mendudukkan bokongnya ke atas kursi.
"Insya Allah… saya akan ke kantor Mas, karena ada meeting penting yang harus aku hadiri," timpalnya Sanjana.
Perbincangan mereka berlanjut ke jenjang lebih jauh hingga makanan mereka tandas setelah mereka menyantap makanan yang sungguh menggugah selera makan. Mereka sama-sama meninggalkan rumah mereka menuju ke tempat kerja mereka.
Setiap kali Sanjana berangkat dari rumah dengan pakaian kerja yang biasa saja tapi, jika sudah berada di kantornya selalu mengganti pakaian stelan kerjanya. Sanjana melakukan hal itu dengan tujuan yang hanya dia dan papanya mengetahuinya.
__ADS_1