
Awalnya Sanjana mengira jika suaminya sudah pergi dari dalam kamarnya. Dia sudah marah-marah melampiaskan kejengkelannya tapi, ketika tanpa sengaja ia melihat bayangan Sayed dari layar hpnya itu. Sanjana menutup mulutnya saking tidak percayanya karena mendapati suaminya diam-diam memperhatikan apa yang sedang ia lakukan.
"Ya Allah… seperti ini kah nasibnya istriku gara-gara sakit hati, sedih yang berlarut-larut gara-gara kesalah pahaman dari perbuatannya Sarah sehingga Sanjana harus menderita seperti ini, semua kesalahanku, maafkan aku sayang," gumamnya Sayed Alfarizi Satya Muller dengan wajah sendu nya itu.
"Ya Allah… aku sudah berdosa membuat suamiku seperti itu, tapi aku merasa sedikit terhibur dengan lega melihat tampangnya Mas Sayed jika harus pasrah dengan keadaannya itu, tapi tak apa-apa lah hitung-hitung sebagai hiburan, bosan juga harus tinggal di dalam kamar ini seperti pasien penyakitan saja," geramnya Sanjana.
Sayed terduduk di atas sofa buludru cokelat yang terletak di sudut ruangan VVIP tersebut. Dia sesekali menghembuskan nafasnya dengan cukup kasar dan sesekali menyugar rambutnya ke arah belakang.
Sanjana diam-diam melirik sekilas ke arah Sayed yang tersenyum penuh kemenangan," maafkan aku suamiku, demi ingin melihat apa cintanya Mas padaku tulus dan tidak akan ada wanita lain di luar sana aku memilih bersikap seperti ini," cicit Sanjana lalu mm menyalakan rekaman videonya di hpnya ia melakukan hal itu bertujuan untuk menyimpan sebagai kenangan-kenangan indah jika suatu saat mereka tua nanti.
Sayed meneteskan air matanya saking sedihnya melihat kondisi dari istrinya yang menurutnya mengalami gangguan mental ringan,defresi, traumatis dan sejenisnya.
"Aku harus segera bertanya ke salah satu dokter yang ada di sini agar bisa berkonsultasi dengan dokter mengenai kondisi kesehatan dan mentalnya Sanjana istriku itu," lirihnya yang masih mampu di dengar oleh pendengarannya Sanjana Alexandra Agung Miller.
"Waduh gawat kalau seperti ini, apa yang harus aku lakukan, gimana kalau akting aku ketahuan bisa gawat kalau seperti ini jadinya," Sanjana membatin dan sesekali ia menatap sekilas ke arah Sayed Alfarizi Satya Muller.
__ADS_1
Raut wajah keduanya nampak kebingungan dan keheranan serta ada tersirat rasa takut dari kedua pasangan suami istri tersebut tapi, alasan dibalik semua itu berbeda dengan satu dan yang lainnya.
Pintu terbuka lebar dan berdecit dan masuklah beberapa orang yang berpakaian seragam almamater kebesaran dokter sebagai pekerjaannya yang berwarna putih itu. Di belakang mereka ikut berjalan sekitar dua perawat.
Sanjana dan Sayed sama-sama menatap ke arah pintu, betapa terkejutnya Sanjana melihat salah orang yang berjalan beriringan masuk ke dalam kamarnya
"Itu kan suaminya Mbak Sofia sepertinya aku bisa ajak kerjasama dan semoga bisa membantuku, aku harus segera mengirim pesan chat ke nomornya," gumamnya Sanjana sembari segera meraih hpnya dengan cepat ia mengetik pesan khusus tersebut sebelum terlambat.
Sayed yang menyadari kedatangan dari beberapa dokter dan perawat segera tersenyum penuh bahagia karena ia bisa meminta tolong kepada dokter tersebut mengenai kesehatannya istrinya itu.
"Assalamualaikum," sapanya mereka.
"Waalaikum salam," jawab Sayed dan Sanjana bersamaan.
Fatih ingin bertanya kepada Sanjana tapi, Sanjana menatapnya dengan tajam sambil memberikan kode kepada suami dari sepupunya itu Mbak Sofia. Sanjana tiba-tiba berbicara seperti orang yang berkumur-kumur dan mengarahkan pandangannya ke arah saku jasnya Fatih.
__ADS_1
Fatih segera merogoh sakunya untuk mengambil hpnya tersebut, lalu membuka aplikasi layar hpnya tersebut. Ia mengerutkan keningnya lalu kembali mengarahkan pandangannya ke arah Sanjana. Sedangkan Sanjana yang ditatap seperti itu berpura-pura menarikan tangannya padahal ia sedang memohon bantuannya Fatih sebagai dokter.
"Dokter tolong segera diperiksa istriku ini, lihatlah apa yang terjadi padanya, aku tidak mengerti kenapa bisa terjadi seperti itu padanya, apa karena terlalu sedih menahan rasa sedihnya sehingga kondisi psikis dan mentalnya seperti ini, saya sangat takut Dokter karena istriku ini juga sedang hamil calon baby kami juga," terangnya Sayed dengan wajah sendu penuh kecemasan yang berlebihan.
Fatih tersenyum tipis dan merasa iba dan juga sekaligus kasihan sekali melihat Sayed yang dikerjain oleh istrinya sendiri. Fatih juga kebingungan karena tidak mungkin menolak keinginan salah satu pemegang saham tertinggi di perusahaan tersebut.
"Maaf seperti yang saya perhatikan dari gejala yang ditujukan oleh istrinya Tuan Sayed ini, dia mengalami defresi ringan, tetapi jika dibiarkan berlarut-larut dan terus menerus bisa menyebabkan penyakit yang permanen yaitu gila," jelasnya Dokter Fatih panjang lebar.
Apa yang diutarakan oleh Fatih membuat Sanjana mendelikkan kedua bola matanya yang menatap tajam ke Fatih Terim yang tersenyum penuh kemenangan.
"Rasain loh makanya mikir kalau mau kerjain suami loh yang orangnya baik malah digituin kan kasihan sekali melihat ketidak berdayaannya," batin Fatih.
Untungnya Sayed belum pernah sama sekali bertemu dengan Fatih suaminya Sofia sehingga apa yang sedang direncanakan oleh Sanjana bisa berjalan mulus dan begitu mudahnya Sayed percaya dengan semua perkataannya Fatih yang kebetulan ia dokter psikiater.
"Jadi apa yang harus aku lakukan Dokter agar istriku cepat pulih dan normal kembali?" Tanyanya Sayed yang menatap intens ke arah Dokter dan rombongannya itu.
__ADS_1
"Hanya satu jalan satu-satunya dan yang paling terbaik adalah, temani istri Tuan dan harus perbanyak sifat sabar dengan menghadapi semua tingkah lakunya," imbuhnya Fatih yang sudah ingin tertawa terbahak-bahak melihat reaksi dari raut wajahnya Sanjana yang seperti seseorang yang ingin memakannya mentah-mentah.