
"Kalau berulang-ulang kamu pasti akan terbiasa dengan hal tersebut," ujarnya Sanjana.
Sayed tersenyum simpul," harus seperti itu agar kedua cicitnya tahu dengan jelas asal usul kakeknya mereka.
"Pak Supir kita ke restauran yang ada di perempatan jalan depan karena menurut aku di sana paling enak makanannya, harganya juga masih terjangkau dan paling penting itu resto favorit almarhum kakek buyutnya si kembar," ungkap Sayed yang baru respek perkataan dari Sanjana.
Sayed sudah ingin duduk, tapi langkahnya terhenti karena Sanjana menegurnya," Mas apa akan berpakaian jas lengkap seperti itu ke stadion?" Tanyanya Sanjana yang menatap jengah ke arah suaminya itu.
Sayed tersenyum tanpa berniat untuk menimpali perkataannya Sanjana istrinya itu. Sayed masuk ke dalam mobilnya lalu menutup rapat pintu mobilnya. Tanpa banyak pikir ia segera membuka dasinya kemudian jasnya itu.
"Aahhh!! Mas mo ngapain!! Kenapa buka baju segala!" Pekiknya Sanjana sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
__ADS_1
Sanjana bergeser sedikit ke arah kirinya hingga tubuhnya terantuk ke pintu mobil. Apa yang dilakukan oleh Sanjana membuat Sayed tersenyum penuh maksud.
"Apa aku kerjain Nana saja karena aku ingin melihat reaksinya apa kah benar-benar aku sudah tidak ada dihatinya lagi atau masih ada nama Sayed Alfarizi Satya Muller terukir di dalam lubuk hatinya paling dalam.," Sayed membatin dan terus melanjutkan aksinya dengan membuka kemejanya yang tersisa di dalam tubuhnya itu.
Sanjana yang melihat apa yang dilakukan oleh Sayed cukup terkejut karena untuk pertama kalinya ia membuka pakaiannya langsung di depannya. Hal ini membuat Sanjana cukup terkejut.
"Mas Sayed!! Kenapa buka baju segala sih, aku kan cuma nanya kapan mau ganti pakaian untuk dipakai ke stadion bukan suruh tampil polos tanpa selembar kain pun!" Sarkasnya Sanjana.
"Ihh apaan sih Mas! Pakai cepat bajunya gih!" Perintah Sanjana dengan mendorong tubuhnya Sayed menggunakan kedua tangannya itu.
Sayed segera menarik tubuhnya Sanjana ke hadapannya hingga wajah mereka saling berhadapan tanpa ada jarak yang memisahkan. Hidung mancung saling berdempetan, deru nafas mereka saling memburu dan tatapan kedua pasang mata keduanya saling menatap satu sama lainnya hingga tanpa ragu dan aba-aba Sayed memegang tengkuk lehernya Sanjana.
__ADS_1
Sayed kemudian mulai mengecup dengan perlahan daging kenyal nan lembut itu. Sanjana yang diperlakukan seperti yang sudah hampir satu bulan itu tidak merasakan seolah seperti terhipnotis oleh apa yang dilakukan oleh Sayed diatas tubuhnya tanpa bisa menolak dan melarang keinginannya Sayed yang sebenarnya sangat ia dambakan dan rindukan setiap hari.
Sanjana membalas ciuman suaminya tanpa ada keterpaksaan didalamnya. Apa yang mereka lakukan terjadi karena keinginan mereka sendiri.
Hingga kedatangan supir pribadinya mampu membuyarkan dan menggangu aktifitas mereka yang cukup mendayu dikala itu. Untungnya Sayed gerak cepat untuk memakai pakaian tim nasional Prancis ke atas tubuhnya sebelum pintu mobil terbuka.
Sanjana segera menjaga jarak dari tempat duduknya Sayed seolah-olah tidak ada hal apapun yang terjadi barusan di antara mereka berdua.
Sanjana sebenarnya kasihan melihat Sayed suaminya sendiri. Dia juga merasakan kerinduan yang ingin melewati harinya seperti biasanya yang selalu mendapatkan kecupan dipagi hari sebelum bangun untuk melaksanakan shalat subuh.
Sanjana diam-diam memperhatikan kearah suaminya itu," ya Allah… aku sangat merindukan kehadiran Mas Sayed disisiku apa lagi aku yang sedang hamil anaknya, aku ingin dipagi hari Mas Sayed membelai lembut perutku ini, tapi aku juga ingin melihat ketulusan, keseriusan dan kejelasan dalam hubungan kami karena aku tidak ingin ada bayang-bayang wanita lain dalam kehidupan kami," batinnya Sanjana yang spontan menghadap ke arah luar karena tidak ingin agar suaminya melihat dirinya yang meneteskan air matanya.
__ADS_1
Sayed sama sekali tidak melihat apa yang sedang terjadi padanya karena ia sedang sibuk membaca beberapa artikel berkas pekerjaannya yang dikirim oleh Willy ke alamat emailnya. Sayed sangat serius memperhatikan info yang dikirim oleh Asisten pribadinya itu dengan laptop yang ada di dalam pengakuannya.