Meraih Cintanya

Meraih Cintanya
Bab. 16. Ungkapan Perasaan


__ADS_3

"Apa!! Maksudnya Pak Willy kami dipecat! Atas dasar kesalahan apa yang kami lakukan sehingga kami semua dipecat!" Gerutu Anna perempuan yang sedari dulu seanter suka bergosip.


"Jawabannya kami tidak butuh karyawan yang tidak ada gunanya yang tahunya hanya bergosip saja, diluar sana masih banyak orang yang berlomba untuk menjadi karyawan," gerutu Willy.


Sanjana malah sengaja melakukan hal itu agar semua orang mengetahui jika Sayed adalah suaminya. Sanjana melirik sekilas ke arah Willy untuk mengatasi orang-orang yang bergosip itu. Willys pun berjalan ke arah kumpulan mereka.


Willy tersenyum penuh maksud ke arah beberapa orang tersebut yang semuanya adalah wanita, "Maaf untuk kalian yang ada di sini tolong angkat kaki dari perusahaan mulai hari ini kalian dipecat!" Geramnya Willy.


Semua orang yang berada disekitar tempat itu dibuat tidak percaya dan wajah mereka pucat pasi dan terkejut hingga ada yang nangis saking kagetnya dengan perkataan dari Willy.


"Apa!! Itu tidak adil bagi kami, hanya karena gara-gara seperti itu saja kami dipecat! Yang benar saja Pak!" Dengusnya Santi.


Willy tersenyum penuh arti kearah mereka," Maaf saya tidak perlu mengkonfirmasi kepada Anda kesalahan apa yang kalian lakukan, cukup sadari diri kalian masing-masing dan tolong segera angkat kaki dari sini sebelum pihak keamanan menyeret kalian dengan kasar!" Sarkasnya Willys lalu berjalan meninggalkan kumpulan penggosip tersebut.


Beberapa orang yang berdiri di depan pintu masuk ruangan pribadi menejer keuangan sudah bubar termasuk Sania Mirza Hakim. Sanjana menarik tangannya Sayed tanpa harus peduli dengan beberapa tatapan pasang mata dari semua orang yang berpapasan dengannya.


Sejak pemecatan beberapa karyawan tanpa ampun, tidak ada lagi yang berani berkomentar ataupun bergosip apa pun dan untuk siapapun itu.


"Mas, pasti kamu lapar gimana kalau kita makan di warung yang ada di sekitar rumah, gimana Mas?" Sanjana terus menggandeng tangan suaminya itu dengan erat dengan senyuman yang tidak pernah pudar dari wajahnya.


Sayed yang mendapatkan perlakuan istimewa dari istrinya cukup tersenyum bahagia. Mereka bergandengan tangan hingga ke tempat parkiran tanpa ada yang melepaskan genggaman tangannya mereka.

__ADS_1


"Kamu kok tahu kalau Mas lapar?" Tanyanya Sayed yang membukakan pintu mobil untuk istrinya.


Sanjana duduk di kursi penumpang lalu Sayed menutup rapat pintu itu. Ia kemudian masuk kedalam mobil dan duduk dibalik kursi kemudi.


"Aku selalu tahu apa yang Mas rasakan termasuk saat ini, kalau Mas masih terkejut dengan kenyataan yang ada, iya kan?" Ujarnya Sanjana yang ingin memasang sabuk pengaman tapi segera dicegah oleh Sayed sehingga Sayed lah yang memasangkan seatbelt tersebut.


Bukannya memasang seatbelt tapi, Sayed malah menutup pintu dengan rapat sambil menutup semua jendelanya dengan sekali menekan tombol. Sayed segera mendekatkan wajahnya ke wajah Sanjana hingga hidung mereka saling bertabrakan.


"Aku sangat bangga padamu sayang, tapi aku lebih mencintaimu dari pada rasa bangga itu," tuturnya Sayed.


Sayed lalu memegang punggungnya Sanjana dengan tangan kirinya kemudian mulai perlahan me luu mat bibirnya Sanjana awalnya dengan penuh kelembutan hingga ciuman itu berubah saling menuntut satu sama lainnya.


Sedangkan tangan kanannya memegang tengkuk leher jenjangnya Sanjana untuk semakin mempermudah apa yang sedang mereka lakukan saat itu. Saliva mereka saling bertukar, deru nafas mereka saling memburu seolah sedang berlomba-lomba untuk menghirup pasokan udara yang semakin menipis didalam rongga dada mereka.


"Apa aku sudah mampu melupakan Sarah karena setiap kali aku berdekatan dengan Sanjana debaran jantungku dan aliran darahku begitu kencangnya, hingga setiap saat hanya wajah dan namanya yang terukir di dalam hatiku dan pelupuk mataku, tapi aku berharap semoga bayang-bayang kenangan Sarah mampu digantikan oleh senyuman,canda tawa Sanjana istriku," batinnya Sayed yang mengakhiri ciuman hangat mereka disiang hari itu.


"Apa Mas Sayed sudah bisa menerimaku, mencintaiku dengan tulus sepenuh hatinya sebagai seorang istri yang sangat penting dalam kehidupannya," Sanjana membatin.


Sayed menyeka air saliva yang tersisa disudut bibirnya Sanjana," I love you Sanjana Alexandra Agung Miller forever!" Ujarnya Sayed disela ciuman mesra mereka.


Sanjana memajukan kembali wajahnya hingga ujung hijabnya menyentuh keningnya suaminya," i love you to Sayed ku, aku sangat mencintaimu sebelum kamu menikahiku," timpalnya Sanjana yang mengecup sekilas bibirnya Sayed yang masih basah itu.

__ADS_1


Bola matanya Sayed berbinar-binar terang saking bahagianya dan sekaligus terkejut mendengar perkataan dari Sanjana yang mengatakan jika istrinya sudah mencintainya sejak lama.


"Mungkin di dunia ini aku suami yang paling bahagia mendapatkan istri yang sangat cantik,baik hati, sholeha, setia dan pinter masak untuk buatkan makanan yang selalu lezat dan mengenyangkan perutku, maafkan Mas sayang yang selama pernikahan kita belum bisa membuat kamu bahagia sekalipun itu tapi, aku Sayed Alfarizi Satya Muller akan berusaha untuk membahagiakanmu tapi aku tidak mau berjanji karena aku hanya manusia biasa yang takutnya aku mengingkari janjiku ini, jadi tetaplah berdiri di sampingku untuk mendampingiku menjadi temanku dikala aku sedih dikala aku bahagia, apa pun yang terjadi aku mohon jangan sekali-kali meninggalkan aku seorang diri," ungkapnya Sayed seraya mencium punggung tangan Sanjana.


Sanjana yang diperlakukan seperti itu, terasa terbang melayang tinggi hingga ke langit paling tingkat tinggi.


"Mas tahu enggak hari ini aku sangat bahagia karena aku sudah mengetahui jika di dalam hatinya Mas sudah tertulis namanya Sanjana, aku berharap semoga namaku hingga kapan pun hingga akhir hayat selalu terlukis di dalam sini," tutur Sanjana sambil menunjuk ke arah dadanya Sayed.


Mobil menjadi saksi ungkapan hati keduanya itu siang hari. Sanjana merasakan plong dan lega hatinya merasakan kelegaan karena perasaan yang selama ini ia pendam mendapatkan balasan yang setimpal dari suaminya.


Harapannya menjadi kenyataan, kebahagiaan seorang perempuan adalah jika mendapatkan cinta sepenuhnya dari suaminya.


"Selama ini aku sudah sering menyakitimu, bahkan aku menduakan kamu dengan sengaja di depan matamu aku tega nenduakanmu, bukan berarti aku menyatakan cinta ku karena hari ini aku tahu kamu adalah putri tunggal Tuan Alexander Agung Miller tapi, karena kamu adalah istriku hingga akhir hayatku dan semoga hanya kamu istriku seutuhnya hingga maut memisahkan kita," jelasnya Sayed.


Sanjana segera menyentuhkan jari telunjuknya di depan bibirnya suaminya sembari menggelengkan kepalanya," aku mohon jangan pernah berbicara seperti itu Mas, aku tidak suka kalau masalah itu adalah bonus besar yang Allah SWT berikan untukku dan nantinya untuk calon anak kita kelak, jadi please! Jangan ulangi perkataan seperti itu lagi yah," imbuhnya Sanjana yang reflek memeluk tubuhnya Sayed dengan penuh kasih sayang.


Sayed yang diperlakukan seperti itu hatinya berbunga-bunga karena entah kenapa baru pertama kalinya ia mendapatkan dan merasakan keindahan dan kesyahduan dalam membina hubungan.


"Syukur Alhamdulillah… makasih banyak atas segala nikmat yang Engkau berikan kepadaku dan kepada keluargaku, aku sangat bahagia setelah mendengar perkataan dan penjelasan dari istriku sendiri, mungkin aku lah suami yang paling bahagia di dunia ini," cicitnya Sayed.


"Mas, yuk jalan, aku sudah lapar!" Ujar Sanjana sembari mengelus perutnya itu dengan mimik wajah yang lucu dimatanya Sayed.

__ADS_1


Sayed hanya tersenyum menanggapi perkataan dari istrinya itu dengan senyuman sumringah.


__ADS_2