
"Syukur Alhamdulillah… makasih banyak atas segala nikmat yang Engkau berikan kepadaku dan kepada keluargaku, aku sangat bahagia setelah mendengar perkataan dan penjelasan dari istriku sendiri, mungkin aku lah suami yang paling bahagia di dunia ini," cicitnya Sayed.
"Mas, yuk jalan, aku sudah lapar!" Ujar Sanjana sembari mengelus perutnya itu dengan mimik wajah yang lucu dimatanya Sayed.
Sayed hanya tersenyum menanggapi perkataan dari istrinya itu dengan senyuman sumringah.
Hanya butuh waktu sekitar setengah jam perjalanan saja, Sayed Alfarizi Satya Muller dengan Istrinya Sanjana Alexandra Agung Miller untuk sampai ke tempat makan favorit keduanya yaitu warung lesehan yang sudah sering kali mereka datangi.
Bukannya restoran bintang lima atau resto mahal yang mereka datangi, tapi mereka memilih warung yang sudah menjadi langganannya jika mereka akan keluar makan bareng walaupun biasanya Sania selalu ada bersama mereka berdua.
"Siang Nona Sanjana!" Sapanya pelayan warung tersebut sekaligus adik kandung dari pemiliknya.
"Siang juga Mbak Ami," balasnya Sanjana dengan senyuman khasnya.
"Mbak! Tumben Mbak Sania enggak ikut!" Ujarnya Mbak Ami sambil celingak-celinguk mencari keberadaan Sania Mirza Hakim.
Sanjana segera memukul pelan pundaknya Mbak Ami," tidak usah cari yang tidak ada tuh lihat sana, banyak pelanggan kamu yang datang!" Imbuhnya Sanjana yang menunjuk ke arah pintu masuk.
Mbak Ami hanya tersenyum menanggapi perkataan dari Sanjana lalu segera ngacir tanpa sepatah katapun lagi. Sanjana tersenyum melihat tingkah lakunya Mbak.
"Sayang, yuk kita duduk di sana saja, tempatnya adem banget soalnya meja kesayangan kamu dipakai sama orang lain," ujarnya Sayed yang memegang tangannya Sanjana lalu menarik perlahan ke arah bagian kiri warung tersebut yang berdekatan dengan kolam ikan mas koki.
Sanjana menganggukkan kepalanya lalu berjalan ke arah meja yang dipilih oleh Sayed suaminya.
__ADS_1
"Ya Allah… seperti ini yah rasanya berjalan beriringan dengan perempuan yang benar-benar kita sayangi setulus hati, tapi entah kenapa perasaanku kepada Sanjana dengan Sarah berbeda sekali," batinnya Sayed.
Sanjana segera duduk bersila dan saling berhadapan di depan meja makan.
Sayed menyentuh dengan lembut tangannya Sanjana," sayang! Kamu mau pesan apa makanan seperti biasa atau mungkin ada request lain?" Sayed menatap dengan penuh kasih sayang ke arah istrinya itu.
Sanjana terdiam sesaat setelah mendengar perkataan dari suaminya itu, entah kenapa saat itu ia ingin makan bebek goreng tapi, dia sedikit ragu untuk mengatakan keinginannya di depan Sayed suaminya sendiri.
"Kok diam! Kamu mau makan apa? Katakan saja sama Mas," imbuhnya Sayed yang heran dengan sikap istrinya itu yang ditanya malah memilih bungkam dan terdiam tapi, kedua bola matanya menyiratkan sesuatu yang enggan dia sebutkan dan utarakan.
Sayed mengecup genggaman tangannya Sanjana, ia melakukan hal itu agar Sanjana tidak merasa sungkan dan malu untuk berbicara karena ia yakin jika, Sanjana menginginkan sesuatu tetapi, agak sungkan untuk menyampaikan keinginannya.
"Apa aku boleh makan bebek goreng Mas, karena aku sangat ingin makan bebek," lirihnya Sanjana yang biasanya orangnya ceplas-ceplos jika menginginkan sesuatu apapun itu tapi, kali ini entah apa yang terjadi padanya.
"Mbak Ami!" Panggil Sayed.
Mbak Ami yang menyadari dirinya dipanggil oleh Sayed segera berjalan ke arahnya Sayed.
"Maaf Nona Sanjana, ada yang bisa kami bantu?" Tanyanya Mbak Ami seraya mengambil pulpen dan buku kecil yang selalu berada di dalam pakaian kerjanya yang menemani aktivitasnya.
"Aku ingin pesan bebek goreng dan juga bebek palekko, minumannya terserah saja yang penting yang segar dan juga dingin," tuturnya Sanjana yang baru saja menyebut makanan itu sudah ngiler dan hampir ngeces.
Sayed tersenyum melihat tingkah dan ekspresinya Sanjana yang seperti anak kecil saja, dia sangat bahagia karena dipenuhi keinginannya.
__ADS_1
Berselang beberapa menit kemudian, makanan yang dipesan oleh Sanjana dan Sayed sudah terhidang dan tersaji di hadapannya di atas meja makan. Sayed tanpa banyak pikir dan membuang waktu segera mengambil satu potong bagian pahanya bebek itu khusus untuk Sanjana.
"Makasih banyak suamiku," itu pungkasnya Sanjana yang sangat bahagia karena diberikan potongan daging bebek bagian pahanya yang sangat empuk itu.
"Makanlah, kalau masih mau nambah jangan sungkan ambil saja," imbuhnya Sayed sembari ikut menyantap daging bebek yang begitu renyah, gurih, lezat dengan aroma bumbu masakan yang sangat menyatu dengan dagingnya itu.
Sanjana terus mengunyah daging bebeknya bergantian dengan nasi putih yang mengepul asapnya dan sesekali mencocol dengan sambal serta sayur lalapannya.
"Masakan disini emang maknyus tidak ada duanya yang paling enak dari seluruh Jakarta bahkan rasanya mengalahkan rasa masakan chef," tutur Sanjana yang mulutnya penuh dengan makanan.
Sayed tersenyum sumringah bahagia melihat istrinya yang makan begitu lahapnya. Sayed meraih kotak tissue lalu mengambil salah satu dari tissue itu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, Sayed langsung menyeka keringatnya Sanjana yang bercucuran membasahi pipinya itu dengan penuh kelembutan.
"Pelan-pelan makannya sayang, bebeknya tidak akan terbang kok, kamu juga jangan terlalu banyak makan makanan yang pedes, enggak baik juga untuk kesehatan kalau terlalu banyak," larangnya Sayed yang bukannya menambah makanannya ke atas piringnya padahal ia masih lapar tapi, ia merasakan menonton cara makannya Sanjana lebih menyenangkan dan mengalahkan rasa nikmatnya makanan itu.
Sanjana yang melihat hal itu mengerutkan keningnya," kok Mas gak makan, apa makanannya tidak enak atau apa? Masa cuma aku saja yang nikmati paha bebek ini yang begitu nikmatnya hingga aku terasa tidak ingin berhenti loh, serasa aku baru nemu dan baru makan bebek saja," terangnya Sanjana yang seolah-olah tidak ingin berhenti makan saja.
Sayed tersenyum," makanlah, tidak usah pedulikan Mas sayang, Mas sudah kenyang dan semakin kenyang setelah lihat kamu makan begitu enaknya," gombalnya Sayed yang sengaja berkata seperti itu hanya ingin melihat raut wajahnya Sanjana jika digoda seperti itu.
Sanjana yang mendengar godaan dari mulut suaminya sendiri segera menghentikan kunyahan makanannya lalu tertawa terbahak-bahak. Biasanya orang yang mendengar gombalan dari seorang pria akan tersenyum dan tersipu merona malu.
Tetapi berbeda dengan yang dirasakan oleh Sanjana. Malahan yang terjadi padanya terbalik dengan yang dialami oleh Sanjana. Sayed mengernyitkan alisnya yang sedikit terkejut sekaligus keheranan melihat reaksi dari istrinya yang mendapatkan pujian dan rayuan malah tertawa terbahak-bahak mendengar perkataannya.
"Iihh Mas!! Aku itu tipe perempuan yang lebih tidak menyukai jika digombal dan pastinya aku akan bereaksi seperti ini," sanggahnya Sanjana yang masih menikmati dan menyantap makanannya tanpa sedikitpun ragu dan menjaga image seorang CEO wanita pertama yang mungkin menikmati makanan di warung biasa saja.
__ADS_1