
Sanjana diam-diam memperhatikan kearah suaminya itu," ya Allah… aku sangat merindukan kehadiran Mas Sayed disisiku apa lagi aku yang sedang hamil anaknya, aku ingin dipagi hari Mas Sayed membelai lembut perutku ini, tapi aku juga ingin melihat ketulusan, keseriusan dan kejelasan dalam hubungan kami karena aku tidak ingin ada bayang-bayang wanita lain dalam kehidupan kami," batinnya Sanjana yang spontan menghadap ke arah luar karena tidak ingin agar suaminya melihat dirinya yang meneteskan air matanya.
Sayed sama sekali tidak melihat apa yang sedang terjadi padanya karena ia sedang sibuk membaca beberapa artikel berkas pekerjaannya yang dikirim oleh Willy ke alamat emailnya. Sayed sangat serius memperhatikan info yang dikirim oleh Asisten pribadinya itu dengan laptop yang ada di dalam pengakuannya.
"Pantesan Tuan Muda menyuruh aku untuk menghentikan mobilnya dan menyuruhku untuk pergi ke toko! Ini toh alasannya," batinnya Pak supir pribadi Sanjana yang bernama Farhat.
Farhat salah tingkah karena tidak tepat waktu kedatangannya saat itu. Dia baru tersadar jika Sayed menyuruhnya untuk menghentikan mobil sesaat karena hal itu.
"Maafkan saya Tuan Muda!" Ujarnya Farhat yang tidak enak hati karena kedatangannya tidak tepat waktu itu.
Sanjana dan Sayed juga keduanya salah tingkah, Sanjana segera mendorong sekuat tenaga tubuhnya Sayed dari hadapannya dan ia pun mundur hingga punggungnya terantuk pintu mobil.
"Tidak apa-apa kok, lanjutkan perjalanannya karena sudah hampir acara pertandingannya sepakbolanya dimulai," elaknya Sayed yang segera memperbaiki posisi duduknya itu seraya berpura-pura melihat ke arah jarum jam yang terpasang di pergelangan tangan kanannya itu.
Sanjana pun demikian segera memperbaiki pakaiannya lalu meraih hpnya untuk memakai cermin karena ingin memeriksa dandannya yang karena menurutnya sudah berantakan dan tidak rapi lagi.
Sanjana segera meraih lipstik dan beberapa alat makeup-nya untuk memperbaiki riasannya itu.
"Kenapa aku bisa terperdaya dalam keadaan, padahal aku ingin menolak untuk tidak menciumnya tapi, kelembutan dan perlakuannya diatas bibirku ini membuatku terbuai dalam keadaan," batinnya Sanjana seraya menyentuh ujung bibirnya yang masih basah karena ada sedikit saliva yang tersisa di sana.
__ADS_1
Sayed tanpa sengaja melihat apa yang dilakukan oleh istrinya itu membuatnya menarik ke atas bibirnya hingga terbentuk dari senyuman tipis.
"Itu permulaan saja, aku akan melakukan apa pun agar kamu bisa klepek-klepek terhadap sikapku dan kamu dengan suka rela akan mengatakan Mas Sayed aku sangat mencintaimu jangan pergi dari sisiku," Sayed membatin seraya tersenyum penuh arti itu.
Berselang beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di stadion, Sayed menyuruh ketiga asisten rumah tangganya yang ikut bersama mereka termasuk supir pribadinya yaitu Farhat, Mbak Tuti, Mbak Annisa dan Mbak Titin segera diperintahkan untuk membeli tiket dan makanan ringan yang nantinya teman mereka menonton.
Sanjana baru ingin membuka pintu mobilnya tapi, ternyata terkunci.
"Apa yang terjadi dengan kuncinya, Kok tiba-tiba macet!" Lirihnya Sanjana yang keheranan dengan tombol kunci mobilnya tersebut.
Sayed malah tersenyum penuh kemenangan karena apa yang dia lakukan berhasil tapi, membuat Sanjana marah dan ngomel-ngomel. Sanjana berbalik menghadap ke arah suaminya itu.
"Aku yakin ada orang yang sengaja melakukan hal ini, pasti dia punya niat yang terselubung!" Cibirnya Sanjana yang memperbaiki duduknya sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.
Sayed membalas perkataan Sanjana dengan senyuman liciknya itu.
Sanjana menatap jengah ke arah suaminya," aku tahu maksud dan niatnya Mas melakukan hal ini karena…," Sanjana sengaja menggantung perkataannya itu.
"Jangan sok jadi cenayang jika kamu tidak tahu apa yang aku ingin lakukan, tapi kalau kamu tahu apa yang sedang aku pikirkan coba jelaskan padaku!" Imbuhnya Sayed yang semakin tersenyum penuh maksud.
__ADS_1
Sanjana yang mendengar perkataan dari suaminya tidak berkutik karena apa yang dipikirkannya sesuai dengan feeling Sayed sehingga membuat dia terdiam seribu bahasa.
Sanjana baru tersadar ketika memperhatikan dengan baik wajahnya Sayed. Ternyata ujung bibirnya terdapat bekas lipstik nya. Hal itu membuat Sanjana Alexandra Agung Miller tersenyum terpingkal-pingkal.
"Ya Allah… niat banget yah nyimpan tanda buktinya pantesan sedari tadi Farhat bertingkah aneh," cibirnya Sanjana yang tidak bisa menahan tawanya itu.
Sayed mencerna baik semua arti dari kata-katanya Sanjana hingga tanpa sengaja ia melihat ke arah kaca jendela mobilnya. Ssyed menyentuh bekas tanda merah itu dengan menyentuhnya menggunakan lidahnya.
Sayed segera menarik tubuhnya Sanjana ke dalam dekapan hangat pelukannya dengan paksa.
"Apa kamu masih ingin memberikan tanda tersebut? Aku sangat menyukai ini!" Sanggahnya Sayed yang sudah mengangkat tubuhnya Sanjana ke atas pangkuannya yang membuat Sanjana berteriak histeris.
"Aaahhh!! Mas Sayed pelan-pelan!" Teriaknya Sanjana karena ketakutan jika terjadi sesuatu pada calon bayinya itu.
Sayed tanpa basa-basi langsung me lu mat bibirnya Sanjana dengan penuh kelembutan. Tangan kanannya memegang tengkuk lehernya Sanjana yang tertutup hijab. Tangan kirinya memegang pinggangnya Sanjana yang membuat posisi keduanya sangat nyaman untuk melakukan hal tersebut.
"Ya Allah… apa yang terjadi dengan Mas Sayed, apa jangan-jangan dia akan menerkam aku disini! Apa yang terjadi padanya, sepertinya Mas Sayed kerasukan sesuatu, kalau seperti ini aku tidak akan mampu melawan keinginannya ini, jika aku menolak pasti aku akan berdosa," Sanjana membatin
Semakin lama semakin menuntut, hingga ciuman itu tidak sekedar ciuman sekilas saja. Sanjana sudah pasrah dengan keadaan hingga lambat laun dia pun mulai menerima perlakuan suaminya di atas tubuhnya dan mampu membalas perlakuan suaminya itu
__ADS_1
Sanjana mengalungkan tangannya ke ceruk lehernya Sanjana. Sayed tersenyum melihat tidak perlawanan sedikitpun yang dilakukan oleh Sanjana sehingga ia mulai melanjutkan pekerjaannya. Sanjana pasrah dengan apa yang terjadi saat itu.
Sayed mengatur tempat duduknya dengan baik hingga posisi mereka nyaman untuk melakukan kegiatan mereka sambil menunggu acara nonton pertandingan sepakbola piala dunia final antara Argentina versus Prancis.