Meraih Cintanya

Meraih Cintanya
Bab. 45


__ADS_3

Sanjana kembali meneteskan air matanya karena tersentuh dengan ketulusan hatinya Sayed yang benar sudah berubah tidak seperti dulu lagi yang hidup menjadi casanova gara-gara ditinggalkan dan dicampakkan oleh Sarah Amalia Sneider disaat lagi bucin-bucinnya.


"Aku juga minta maaf Mas, aku sadari jika aku selama menjadi istrinya Mas sudah bertindak gegabah, kasar, egois dan pemarah seharusnya aku tidak boleh melakukan semua itu," ungkapnya Sanjana sembari membantu suaminya untuk berdiri dari posisi berlututnya.


"Istriku maukah kamu pulang bersamaku ke Jakarta besok?" Tanyanya Sayed yang berharap permintaannya itu dipenuhi.


"Aku ingin pulang bersama Mas tapi, ada syaratnya!" Ucapnya Sanjana disela kunyahan makanannya itu.


Sayed terdiam sesaat lalu menopang dagunya sambil menghentikan sejenak kegiatannya itu.


"Katakan sama Mas apapun syaratnya Mas akan penuhi keinginanmu itu yang paling penting kamu pulang ke tanah air bersama saya," timpalnya Sayed.


Sanjana dengan mantap dan tegas menyampaikan niatnya kepada suaminya itu," saya tidak ingin tinggal lagi di rumahnya Mas yang terdahulu terlalu banyak kenangan jeleknya disana," ungkap Sanjana yang sebenarnya baginya tidak mempermasalahkan hal itu hanya saja ia ingin melihat apa Sayed menolak atau menerima permintaannya itu.


Sanjana menatap intens ke arah suaminya itu yang tiba-tiba terdiam sejenak. Sanjana merasa apa yang sedang dilakukan oleh Sayed cukup bimbang dan ragu untuk memenuhi keinginan dan tuntutannya itu.


"Oke itu tidak masalah bagiku, tapi apa kamu tidak masalah jika tinggalnya di rumah yang kecil sekalipun rumah sewapun aku tidak masalah," ujarnya Sanjana dengan mantap dan penuh keyakinan.


"Syukur Alhamdulillah kalau seperti itu, jadi Mas bertanya sekali apa kamu bersedia untuk pulang bersamaku ke Indonesia?" Sayed masih berlutut di hadapan Sanjana.

__ADS_1


Sanjana menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan permintaan dari Sayed. Tanpa ragu Sayed segera mendekap erat tubuhnya Sanjana. Ia menumpahkan kebahagiaannya dalam pelukannya.


"Makasih banyak, akhirnya kehidupan rumah tanggaku akan kembali normal seperti dulu lagi dan aku berjanji akan memperbaiki semua yang telah lewat," batinnya Sayed.


Setelah makan romantis yang dilakukan kedua pasangan suami istri itu. Mereka memutuskan untuk pulang karena sudah larut malam. Mengingat Sanjana sedang hamil sehingga mau tidak mau mereka harus pulang.


Keesokan harinya, mereka bersiap berangkat ke Jakarta. Perpisahan antara Sanjana dengan beberapa asisten pribadinya itu yang bekerja di rumahnya membuat kesedihan tersendiri di dalam hati semuanya.


"Nona Muda pasti kami akan sangat merindukan kehadiran Nona lagi, andai bisa kami juga ikut ke manapun Nona pergi," rengeknya Mbak Tuti Maryati yang sedari tadi menangis karena akan berpisah dengan majikannya.


Sanjana memeluk erat tubuhnya Mbak Tuti seraya mengarahkan pandangannya ke arah Sayed seolah meminta persetujuan dari suaminya itu. Sanjana sebenarnya menginginkan mereka ikut pulang karena masih banyak asisten rumah tangganya yang bekerja di sana yang orang asli Doha Qatar.


Sanjana mengurai pelukannya dari Mbak Tuti lalu segera berjalan ke arah suaminya dengan tersenyum penuh kebahagiaan.


"Baiklah kalian bertiga ikut dengan kami dan tetap jadi asistennya istriku untuk menjaga dan melayaninya dengan sepenuh hati jika aku tidak ada," ucapnya Sayed.


"Serius!! Kami juga akan pulang ke Jakarta dan tinggal bersama Tuan dan Nona Muda!" Mbak Titin Ayunda Sera.


Sanjana mengurai pelukannya dari Mbak Tuti lalu segera berjalan ke arah suaminya dengan tersenyum penuh kebahagiaan.

__ADS_1


"Baiklah kalian bertiga ikut dengan kami dan tetap jadi asistennya istriku untuk menjaga dan melayaninya dengan sepenuh hati jika aku tidak ada," ucapnya Sayed.


"Serius!! Kami juga akan pulang ke Jakarta dan tinggal bersama Tuan dan Nona Muda!" Mbak Titin Ayunda Sera.


" Aku pasti serius, emangya kapan pernah kamu dengar aku bohong! Kalau bercanda mungkin biasa," ketusnya Sayed yang kembali duduk di sofa sambil menunggu mereka bersiap untuk pulang.


Rencananya malam ini setelah shalat isya mereka akan kembali ke Indonesia Ibu kota Jakarta.


"Canda saja tidak pernah apa lagi boong," batinnya Mbak Annisa lalu berjalan tergesa-gesa ke arah kamarnya.


"Makasih banyak sayang, mereka baik sama saya dan sudah terbiasa dilayani dengan ketiganya jadi berasa ada yang ganjil dan tidak sempurna kehidupanku jika tanpa mereka disisiku," imbuhnya Sanjana Alexandra Agung Miller.


"Mas setuju mereka ikut karena karena kamu itu sudah hamil dan jika kelak melahirkan pasti butuh bantuan apa lagi kamu hamil anak kembar pasti jelas butuh tenaga yang ekstra banyak," pungkasnya Sayed.


"Hore!! Kita bisa pulang kampung setelah hampir lima tahun enggak pulang!' teriaknya Mbak Titin Jayanti Kharisma yang lompat-lompat sambil memeluk tubuhnya Mbak Annisa seperti seseorang anak kecil yang juara satu dan mendapatkan banyak hadiah hari itu juga.


"Iya benar sekali, aku kalau sudah sampai di Jakarta mau minta liburan satu minggu untuk pulang kampung dulu kangen aku sama nenek dan emak aku di kampung," jelasnya Mbak Annisa sambil berjalan menuruni anak undakan tangga satu persatu.


Wajah mereka sangat bahagia karena setelah penantian panjang akhir mereka memiliki kesempatan untuk pulang kampung dan bekerja di tanah air kelahiran mereka.

__ADS_1


"Banyak pepatah mengatakan hujan emas di negeri orang lebih baik hujan batu di negeri sendiri, iya kan bestiku?" Mbak Tuti merangkul pinggangnya Mbak Annisa bagaikan sepasang kekasih saja yang dimabuk asmara padahal hanya mendapatkan hadiah untuk pulang ke negara asalnya.


__ADS_2