
Sanjana hanya melirik sepintas ke arah pria yang tanpa basa-basi dan tanpa meminta izin terlebih dahulu langsung duduk di hadapannya Sanjana. Ia mengernyitkan alisnya melihat tingkah sahabatnya itu yang sudah hampir dua bulan tidak bertemu.
"Maaf pak Galang Aryanta Martadinata sepertinya janji ketemu kita untuk membahas rencana kerjasama kita!" Ketusnya Sanjana yang sudah berwajah jutek di hadapan Galang yang tersenyum tersipu-sipu melihat penampilannya Sanjana yang baginya sangat berbeda dan cantik dari pada terakhir mereka bertemu saat di Labuhan Bajo Nusa Tenggara Timur.
Bukannya menjawab pertanyaan dari Sanjana ia malah Galang berdiri dari duduknya," aku kesini untuk meminta bantuanmu, aku berencana untuk melamar seorang wanita tapi, menurut kamu apa aku akan diterima atau akan gagal!" Pungkasnya Galang yang sudah berdiri dibalik jendela tinggi yang berbahan dari keseluruhan kaca itu sambil memandangi keindahan kota Jakarta siang hari itu.
Sanjana bukan tidak mengerti dengan arah dan maksud dari pembicaraan Galang, tapi ia malah menghubungi nomor hpnya Willy untuk segera memesan makanan yaitu sate kambing, lontong sayur dengan gado-gado.
"Kamu sangat cantik dengan balutan hijab ini, andai dia juga berhijab pasti akan sangat cantik," Gumamnya Galang.
"Assalamualaikum, Willy! Tolong beliin aku sate kambing jangan lupa lontong sayur sama gado-gado tapi ingat sambalnya dipisah, pakai tiga porsi yah," pintanya Sanjana dengan menyimpan hpnya di telinga kirinya sedangkan kedua tangannya masih sibuk menanda tangani beberapa tumpukan berkas yang sudah sejak tadi pagi menghuni mejanya itu.
"Oke aku tunggu dan satu hal lagi…" ucapannya Sanjana terpotong karena Willy segera menotongnya.
"Tidak pakai lama kan," Ujarnya Willy dengan senyuman khas yang terpampang di wajahnya yang ganteng.
Willy adalah adik sepupunya Sanjana, mereka hanya berbeda sekitar lima bulan saja. Hanya kasusnya Sanjana prosesnya lebih duluan lahir itu bedanya.
"Kamu selalu tahu kebiasaanku, Pantesan kamu enggak di kirim ke luar negeri ikut jejaknya kak Fahri ke Belanda," guraunya Sanjana.
"Sudah kalau begitu aku mau lanjutkan perjalananku sudah lampu hijau soalnya," tuturnya Willy.
"Hati-hati yah, assalamualaikum," sahutnya Sanjana.
"Waalaikum salam," Willy buru-buru mematikan sambungan teleponnya karena melihat seseorang di dalam mobil.
__ADS_1
Wajah perempuan itu sangat dikenalinya dengan baik," itukan wanita yang selalu bersamanya dulu, terus anak perempuan yang bersamanya itu siapa? Aku harus mengikutinya agar aku tidak salah duga.
Willy baru ingin menekan lampu weser kiri tapi,ia kembali teringat dengan tujuan awalnya untuk membelikan beberapa makanan pesanannya Sanjana.
Willy memukul setir mobilnya dengan kuat,"sial!! Aku kehilangan jejaknya, apa aku suruh Andre untuk membantuku menyelidikinya, karena sudah hampir enam tahun dia pergi meninggalkan tanah air Indonesia dan akhirnya datang kembali, aku takut kedatangannya akan membawa mala petaka untuk kehidupannya Sanjana, entah kenapa feelingku tidak enak!" makinya Willy.
Willy adalah sepupunya Sanjana sekaligus salah satu sahabatnya Sayed yang sangat mengetahui siapa Sayed dan sepak terjangnya sebagai mantan Casanova.
Sedang Sanjana dan Galang melanjutkan perbincangan mereka berdua," Alhamdulillah kalau kamu ingin menikah, tapi aku hanya bisa ngomong sama kamu ingat! Pernikahan itu bukanlah permainan tapi ikatan suci sakral dan bukan juga ajang unjuk kebolehan, tapi ngomong-ngomong siapa wanita yang beruntung sekali mendapatkan cintamu itu?" Tanyanya Sanjana yang masih setia memeriksa berkasnya dengan teliti.
"Kamu sangat mengenalnya dan kalau menurut kamu apa pilihan dan keputusan ku ini benar atau salah?" Galang kembali duduk di hadapan Sanjana.
Sanjana mengerutkan keningnya," kalau niat kamu baik disegerakan saja menurut aku sih karena dia juga perempuan yang pantas kamu bisa perjuangkan apa lagi mengingat kalian punya putri kecil yang harus kalian perjuangan kehidupan dan masa depannya, jadi aku kasih kamu lampu hijau saja lah," jelasnya Sanjana panjang lebar.
"Woooo makasih banyak tapi, ada tapinya Sania tidak ingin aku menikahinya katanya ia masih sanggup untuk menafkahi anak kami walaupun saya tidak bertanggung jawab sepeserpun padanya, itu selalu jadi alasannya ketika kami berbicara empat mata tentang masa depan hubungan kami dan parahnya ia hamil lagi Nana!" Lirihnya Galang yang sengaja mengecilkan suaranya perkataannya yang paling terakhir.
"Dasar kamu yah, sudah pernah menghamilinya sekarang kembali terulang padahal kalian belum nikah! Kalian yah apa doyan atau gimana sih! Coba kalian sudah lama kembali ketemunya pasti anakmu yang kedua sudah gede, aku saja belum dikaruniai anak kamu sudah kalah aku!" Sarkasnya Sanjana yang terus memukuli Galang seolah rasa capeknya ingin ia lampiaskan kepada Galang.
"Ampun!! Aku mengaku salah! Gimana kami enggak bisa tahan soalnya godaannya terlalu besar sih, setiap kali aku melihat Sania entah kenapa punyaku selalu menunjukkan respon yang sangat bagus," ujarnya Galang yang tersenyum penuh arti.
"Ya elah… Galang kalau masalah itu, siapa pun akan ngomong seperti kali, tidak akan ada yang mampu menolak sesuatu yang enak! Dasar dodol loh selalu sukanya mandul…!" Gerutu Sanjana yang masih sesekali memukul Galang.
"Apaan tuh mandul!? Kalau aku mandul Sania tidak bakalan hamil untuk kedua kalinya Nana yang terhormat!" Elaknya Galang Aryanta Martadinata.
"Mandul saja kamu tak tahu, benar-benar parah kamu yah! Padahal sering kali melakukannya, mandul itu main duluan!" Ketusnya Sanjana yang heran melihat sahabatnya itu yang keenakan main belakang.
__ADS_1
"Masalahnya anu enak bestie!" Balasnya Galang lalu langsung berlari ke arah pintu karena takut mendapatkan amukan amarahnya Sanjana yang kalau marah kekuatannya sama seperti pria.
"Awas kamu yah!! Aku akan sunnat dua kali punyamu biar kamu tahu rasa!!" Dengusnya Sanjana yang melempar ballpoint pen kearahnya Galang tapi, meleset karena pintu sudah terbuka dari arah luar sehingga lemparannya salah sasaran.
"Aauh!!" Keluhnya Willy yang berdiri tepat didepan pintu ketika Sanjana melempar sekuat tenaganya tapi, Galang masih tersematkan.
Willy mengelus keningnya yang terkena lemparan. Sanjana yang melihat kejadian itu tertawa terpingkal-pingkal bukannya minta maaf karena ulahnya dengan Galang sehingga ujung pelipisnya agak memar dan memerah.
Galang segera mempercepat langkahnya untuk melenggang pergi ke arah ruangan kerjanya Sania Mirza Hakim yang bekerja sebagai sekretarisnya Sayed Alfarizi Satya Muller.
"Aku mungkin sebaiknya melamar Sania langsung di depan umum kalau seperti itu pasti kesempatan untuk ditolak lebih sedikit," batinnya Galang.
Willy masih sesekali mengelus jidadnya yang sakit itu, seraya duduk di depan Sanjana.
"Maaf! Aku tidak sengaja soalnya pria mesum itu membuat anak orang hamil untuk kedua kalinya," gerutu Sanjana yang sedikit marah gara-gara tingkah absurnya Galang.
"Semoga saja aku tidak geger otak atau amnesia kalau seperti itu aku akan menuntut di mesum itu!" Makinya Willy lagi yang sedikit kesal mendengar perkataan dari Sanjana.
"Mana pesananku, aku sudah lapar,isi perutku sudah berdendang ria nih nungguin sate kambingnya," ucap Sanjana yang segera menyimpan dengan aman berkasnya itu di tempat yang aman.
Kehidupan in bukan untuk menemukan cinta, tapi untuk membangun cinta. Cinta yang indah tidak mungkin hanya ditemukan. Cinta yang indah menuntut pengorbanan yang tidak sederhana.
Hanya dibutuhkan beberapa detik untuk jatuh cinta, tapi seumur hidup untuk membuktikannya.
Willys berjalan ke arah meja dan sofa, lalu ia menaruh semua makanan pesanannya ke atas meja. Serasa Sanjana ingin ngeces padahal baru mencium aroma lezat dari bumbu masakan itu.
__ADS_1
"Apa sebaiknya aku beritahu Sanjana saja tentang siapa orang yang aku lihat tadi pas di dekat lampu merah? Tapi, aku tidak ingin membuat dan merusak momen kebahagiaan yang dirasakannya dan itu sama saja memberikan luka kembali dalam kehidupannya, aku hanya berharap semoga Sayed tidak seperti dulu lagi," Will membatin.