Meraih Cintanya

Meraih Cintanya
Bab. 64


__ADS_3

Matanya Mueller terbelalak melihat tingkah absur seorang wanita yang sudah bersuami itu tanpa terduga yang membuatnya jengkel dan kesal.


"Abang Sayed!!' teriaknya wanita yang memakai hijab itu yang sebelumnya mendorong stroller bayi.


Pria yang bertabrakan dengan Faqih dibuat shock dengan reaksi dari Istrinya itu. Yang paling menbuatnya terkejut adalah pria yang selama ini dinyatakan telah meninggal dunia berdiri di depan matanya sedang dipeluk oleh istrinya.


"Sania!!" Teriaknya Galang Aryanta Martadinata yang melihat istrinya memeluk pria yang mirip dengan suami dari sahabatnya itu.


Galang segera menarik dengan sedikit kasar dan paksa Sania Mirza Hakim. Galang berjalan ke arah istrinya itu.


Galang berbisik di telinganya Sania tapi, mampu didengar oleh orang lain yang berdiri di sekitar tempat lokasi tersebut, "Sayang dia itu bukan Sayed Alfarizi Satya Muller suaminya Sanjana Alexandra Agung Miller, tapi pria lain karena Abang Sayed itu sudah meninggal dunia dalam kecelakaan pesawat terbang,"


Muller yang sedari tadi dipeluk juga risih dan tidak suka karena tiba-tiba ada perempuan yang sama sekali tidak dikenalnya tiba-tiba refleks memeluk tubuhnya.


"Maaf Ibu, Anda salah orang saya bukan saudara yang Anda maksudkan!" Kesalnya Muller.


Sania sedikit terkejut mendengar bentakan dari pria yang menurutnya Sayed itu. Galang sangat yakin pria itu bukan lah sahabatnya karena kalau Sayed pasti akan mengenali mereka.


"Maafkan istriku Pak, dia seperti ini karena menganggap Anda adalah keluarga kami yang sudah meninggal dunia itu adalah Anda hal tersebut terjadi karena wajah Anda sangat mirip dengannya hanya saja kulit Anda yang berbeda dengannya, jadi saya meminta maaf mewakili Istriku!" Ujarnya Galang dengan menundukkan sedikit kepalanya di hadapan Muller.

__ADS_1


Faqih dengan seksama memperhatikan interaksinya mereka,"Apa jangan-jangan Abang adalah pria yang tenggelam dan selamat kebetulan keluarga mereka kalau seperti itu kenyataannya ini berita bagus untuk Abang," batinnya Faqih.


Mueller hanya tersenyum tipis," tidak apa-apa,maaf kami harus pergi dulu, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," Muller segera berlalu dari hadapan mereka yang masih kebingungan dengan raut wajahnya terbengong.


Mereka berjalan meninggalkan tempat tersebut,tapi Faqih tak bosan menatap ke arah sepasang suami-istri itu.


"Aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini karena aku yakin jika Abang pasti berkaitan dengan mereka berdua karena di dunia ini tidak mungkin ada orang yang sama persis, itu sangat mustahil walaupun ada yang mengatakan ada beberapa orang yang mirip, aku harus menyelidikinya diam-diam agar Abang tidak marah dan curiga."


Muller melirik sekilas ke arah adiknya itu,"Faqih apa yang terjadi padamu? Kenapa tatapan matamu ke arah belakang mulu!" Sarkasnya Muller yang masih kecewa dengan sikap dari kedua orang yang barusan dijumpainya itu.


Faqih jadi salah tingkah," eehh itu Abang, aku mau ke toilet dulu, boleh yah?" Harapnya Faqih yang berharap agar Muller tidak mengetahui apa rencananya.


Muller tersenyum melihat tingkah adiknya itu," silahkan pergi tapi ingat jangan lama-lama dan Ingat jalan pulang," imbuhnya Muller yang tersenyum tipis.


Galang tak hentinya menatap ke arah pria yang sangat mirip dengan suami dari sahabat terbaiknya itu," kenapa hatiku mengatakan kalau Sania istriku sama sekali tidak salah mengenali orang dan aku yakin jika pria itu adalah Sayed,apa aku perlu menyelidikinya karena jika Sanjana mengetuk hal ini pasti Ia akan sangat bahagia, kasihan sahabatku itu yang sudah cukup menderita selama kurang lebih lima tahun penantian tapi, kalau bukan dia aku akan membayar nya berapapun asalkan sanggup dan setuju menjadi suami sewaannya Nana," Galang membatin.


Galang tersenyum penuh arti dan tanpa sengaja sudut matanya melihat ada seorang anak muda yang kira-kira berusia 18 tahun berlari ke arah mobilnya.


"Sayang kamu tunggu aku yah, Abang ada urusan sebentar, tidak apa-apa kan aku tinggal dulu?" Tanyanya pada Sania istrinya yang sedang memberikan ASI pada putranya itu.

__ADS_1


Faqih segera berlari mengejar Galang sambil celingak-celinguk ke arah belakang siapa tahu Muller diam-diam mengikutinya karena Faqih kalau berbohong akan cepat ketahuan.


"Semoga saja Abang tidak mengetahui jika aku mencari pria yang bernama Galang itu," cicit Faqih yang terus melangkahkan kakinya menuju tempat parkiran.


Galang segera mematikan mesin mobilnya lalu berjalan ke arah luar. Galang bersandar di dinding dengan kedua tangannya masuk ke dalam saku celananya itu.


"Siapa yang kamu cari?" Tanyanya Galang dengan raut wajahnya yang dingin menatap intens ke arah Faqih.


Faqih segera menghentikan langkahnya lalu menolehkan kepalanya ke arah kanannya," hehehe Abang!" Imbuhnya Faqih yang tertawa cengengesan menanggapi perkataan dari Galang.


"Pasti kamu mencariku kan? Kira-kira ada apa yah?" Galang masih dalam mode raut wajahnya yang cool dan terkesan dingin padahal orangnya humble banget jika sudah dekat dan saling kenal dengan siapa pun.


"Betul sekali apa yang Abang katakan bahwa saya sedang mencari Abang,saya hanya pengen tahu saja nomor hpnya Abang karena aku yakin kedepannya kita bakal bisa jadi teman," pungkasnya Faqih yang berbicara serius.


Galang tanpa bicara segera mengulurkan tangannya untuk meminta handphone nya Faqih. Sedang Faqih merogoh sakunya mencari HP-nya.


"Ini Abang," ucap Faqih yang sudah serius berbicara tanpa candaan lagi.


Faqih melakukan hal ini dan memilih jalan seperti hal sekarang karena ia merasa sungguh kasihan dan sedih melihat abangnya yang sering melamun dan memikirkan sesuatu yang dia yakini tentang masa lalunya dan juga kadang dia mendengar teriakannya dalam mimpi yang menyebut seorang nama.

__ADS_1


"Semoga kerjasama kita ini saling menguntungkan, aku tunggu kabar baik kamu bro," tutur Galang seraya berjalan meninggalkan tempat tersebut sambil tak lupa menepuk pundaknya Faqih.


Faqih baru bisa bernafas lega setelah bertemu empat mata dengan Galang pria yang diyakininya memiliki hubungan dengan Abangnya.


__ADS_2