Meraih Cintanya

Meraih Cintanya
Bab. 43. Jelon-jelon Ala


__ADS_3

Fatih memberikan dua buah helm ketangannya Sayed satu berwarna pink muda dan satunya biru.


"Hati-hati bro, semoga kita bisa berkumpul dan berjumpa lagi di Indonesia, Ingat kabari aku nanti kalau mau pulang ke Indonesia," pintanya Sayed sembari memeluk tubuh tinggi tegap milik Fatih.


"Insya Allah… bulan April nanti tahun depan aku akan balik ke Jakarta kemungkinan besarnya saya dan keluarga akan lebaran idul Fitri di sana kangen dengan kampung halaman," imbuhnya Fatih dengan sedikit terkekeh.


Sayed segera menyerahkan helm berwarna pink itu ke dalam genggaman tangannya Sanjana.


Sanjana menunjuk ke arah helmnya," Mas serius ingin memakai motor untuk keliling kota Doha?" Sanjana masih keheranan dan belum yakin jika Sayed bisa mengendarai motor du ca ti tersebut.


Sayed tersenyum penuh maksud," apa kamu takut naik motor ini atau kamu meragukan kemampuanku?"


Sanjana tersenyum lebar," kalau boleh jujur sih aku sedikit ragu karena selama ini Mas belum pernah aku lihat sekalipun mengendarai sepeda motor, dengan merk dan model apapun itu."


Sanjana mengelilingi motor tersebut dan mengagumi serta memuji kemampuan dan penampilan dari salah satu motor sport tersebut yang terbaik di dunia dengan harga yang lumayan funtastis itu.


"Kalau kamu ragu dan bimbang untuk Mas bonceng, silahkan kita buktikan apa aku bisa membawa kamu berkeliling atau tidak!"


Sayed Alfarizi Satya Muller memasangkan helm ke kepalanya dan juga ia membantu istrinya itu untuk memakai helmnya. Sanjana terdiam sejenak sambil menunggu Sayed selesai memasang helmnya Sanjana.


Detak jantung Sanjana kembali berdetak kencang, wajahnya merona memerah mendapatkan perlakuan kecil tapi, mampu membuat hatinya tersentuh dan tersenyum simpul.

__ADS_1


"Aku tahu aku ganteng, enggak perlu natapnya seperti itu juga kali!" Guraunya Sayed seraya menoel hidung mancungnya khas timur tengah milik Sanjana.


Sanjana segera menghentikan lamunannya," pede amat, siapa juga yang natap dan perhatiin wajahnya, aku malah mikir Mas bisa atau kagak mengemudikan motor gede ini!" Elaknya Sanjana.


"Baiklah kalau begitu aku akan buktikan padamu kemampuan Sayed Alfarizi Satya Muller," imbuhnya Sayed yang segera menaiki tunggangannya kuda besi itu.


Sanjana pun segera naik setelah dipersilahkan oleh Sayed. Sayed tersenyum tipis melihat istrinya sudah duduk di belakangnya. Sayed segera menarik tangannya Sanjana agar kedua lengannya melingkar hingga ke depan perutnya.


"Kalau dibonceng itu cara duduknya seperti ini, Mas akan melajukan motornya demi keamanan kamu juga nantinya," jelas Sayed dengan senyuman smirknya itu.


Sayed mengemudikan motornya ke jalan raya. Angin langsung menerpa wajahnya Sanjana yang tertutup hijab karena Sayed mengemudikan motornya dengan kecepatan rata-rata. Sayed tersenyum sumringah karena Sanjana semakin mengeratkan pelukannya di tubuhnya Sayed.


Lajunya kadang lambat kadang cepat membuat mereka bisa santai dan mengobrol. Malam itu cuacanya cukup dingin untungnya tadi Sayed tidak lupa membawa baju hangat khusus untuk istrinya seorang.


"Mas kita mau ke mana?" Teriaknya Sanjana.


Sayed sedikit menolehkan kepalanya ke arah belakang," kamu tenang dan duduk manis saja setelah sampai kamu juga akan tahu kok!" Sayed balas berteriak agar suaranya sampai ke telinga masing-masing.


Sanjana pun terdiam dan sesekali merentangkan kedua tangannya ke samping untuk menikmati cuaca malam hari itu. Berselang beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di salah satu pantai yang terkenal keindahannya yang ada dalam Qatar.


Sanjana tersenyum kegirangan karena beberapa hari terakhir ini ia sangat ingin berkunjung ke pantai tapi, belum memiliki waktu luang. Sayed mematikan mesin motornya, lalu ia membantu membuka helmnya Sanjana dengan penuh kelembutan. Hal tersebut kembali membuat Sanjana tersipu malu.

__ADS_1


Sayed mendekatkan wajahnya ke arah telinganya Sanjana, "Aku sangat menyukai dirimu jika wajahmu memerah seperti sekarang ini."


Perkataan tersebut mampu membuat Sanjana spontan tersenyum lalu menundukkan kepalanya itu. Sayed mengangkat tubuhnya Sanjana ke atas motornya. Hingga posisinya terduduk. Sayed menangkupkan kedua jarinya di dagu lancipnya Sanjana.


"Jangan menunduk tatap aku sayang, aku sangat senang lihat kamu yang seperti ini," jelas Sayed.


"Aku sangat….," Ucapannya Sanjana kembali terpotong karena mulutnya sudah di gulum dengan bibirnya Sayed yang seksi itu.


Mereka saling me lu mat hingga saling bertukar saliva masing-masing. Deru ombak dan semilir angin semakin menambah kesyahduan dan keromantisan kedua pasangan tersebut. Sanjana mengalungkan tangannya ke lehernya Sayed. Indahnya sinar rembulan malam itu semakin mempercantik dan memberikan kesan yang sulit untuk dilupakan oleh kedua pasangan halal itu.


Sayed memberikan kode kepada seseorang hingga sekitar tempat itu yang sengaja dibuat minim cahaya lampu sekarang sudah berubah indah. Lampu warna warni menghiasi sekitar bibir pantai dan dibelakangnya Sanjana berdiri sebuah lampu besar yang dibentuk menyerupai sebuah hati yang cukup besar dengan warna tujuh pelangi.


Pasokan udara di dalam rongga hidung mereka semakin menipis hingga mereka memutuskan untuk berhenti sejenak dari ciuman hangat yang didasari kasih sayang dengan bumbu naaaff suuuu itu. Sayed melihat ada sedikit sisa salivanya di ujung bibirnya Sanjana. Ia segera menyekanya dengan penuh kehati-hatian.


"Coba perhatikan sekeliling kamu," pintanya Sayed dan di depan istrinya itu.


Sanjana turun dari motor dan begitu takjub melihat latar tempat yang sudah berubah tidak seperti tadi awal kedatangannya.


Sayed memeluk tubuhnya Sanjana dari arah belakang," apa kamu menyukainya?" Sayed menumpukan dagunya di salah satu pundaknya Sanjana dengan tangannya yang melingkar di pinggangnya Sanjana.


"Saya sangat menyukainya suamiku, aku tidak percaya jika Mas melakukan semua ini," balasnya Sanjana yang memegang kedua tangannya Sayed yang melingkar diatas perutnya yang sedikit membuncit itu.

__ADS_1


__ADS_2