
Sanjana sedang berjuang hidup dan mati demi ke-dua anak kembarnya yang sudah saatnya akan lahir ke dunia ini.
"Pesawat Tuan Muda Sayed kecelakaan!" Jawabnya Dimas dengan lantang karena Willy sama sekali tidak mampu untuk membuka mulutnya agar berbicara tentang kondisi Sayed.
"Apa!!!' teriaknya Bu Siska ibundanya Sayed.
Teriakan tidak percaya dan tangis haru dan pilu dari orang-orang bersamaan dengan tangisan bayi yang terdengar dari dalam kamar bersalin.
"Oek… Oek…!"
Tuan Besar Farhan Fathanah Lubis dan Tuan Farid Alexander Agung Miller sangat terkejut dengan perkataan dari Willy.
Pak Farid memegang kedua lengannya Willy Widianto Ardiansyah sambil menggoyang tangannya itu," katakan apa sebenarnya yang terjadi dan jangan sekali-kali bercanda denganku! Kamu tahu kan apa akibatnya!" Geramnya Pak Farid dengan raut wajahnya yang garang.
"Papa! Apa yang Papa lakukan ingat kita sedang di rumah sakit! Cucu pertama kita juga sudah lahir, aku mohon tenangkan lah dirimu, jangan gegabah sebelum mengetahui kebenarannya," ujarnya Bu Ratih Atmanegara Lubis Muller.
Pak Farid segera menurunkan ego dan emosinya yang sudah dipuncak ubun-ubunnya itu.
__ADS_1
"Mbak Siska tolong cek cucu kita karena sepertinya dia sudah lahir ke dunia ini," pintanya Bu Ratih ke arah besannya sekaligus istri dari kakak sepupunya ini.
Ibu Siska segera berjalan ke arah pintu masuk ruang bersalin kemudian meminta ijin untuk masuk. Kebetulan kedua putrinya sudah kedua anak kembarnya Sanjana sudah lahir ke dunia ini dari jalan operasi sesar karena, Sanjana kondisinya cukup memprihatinkan sehingga tim dokter memilih untuk mengoperasi bayi keduanya untuk lahir ke dunia ini.
"Ya Allah… semoga berita itu hanya prank saja dan putraku tidak berada di dalam pesawat tersebut," batinnya Bu Siska yang ibunda dari Sayed Alfarizi Satya Muller.
"Tolong! Bicara yang benar Willy, karena aku sendiri sekitar dua jam lalu menyuruhnya pulang ke Indonesia padahal baru juga nyampe di Singapura," imbuhnya Pak Farid yang terduduk di kursi tunggu dengan raut wajahnya yang menandakan rasa sedih, kecewa, kesal, merasa bersalah, bingung dan ketakutan yang bersamaan muncul dalam benak dan hatinya.
Pak Farhan segera mengaktifkan layar hpnya lalu membuka sosial media nya untuk segera memeriksa keaslian dan kebenaran berita itu. Matanya terbelalak melihat berita tersebut yang sudah mengabarkan jika pesawat salah satu airlines milik tanah air dengan tipe Sj-182 berwarna biru merah itu Sriii wii jaaa tas air jatuh diperairan pulau yang berada di Jakarta.
Benda pipih persegi panjang itu terjatuh ke atas lantai karena terlepas dari dalam genggaman tangannya Pak Farhan papanya Sayed.
Air matanya menetes membasahi pipinya, tanpa ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Hanya tergugu dan tubuhnya bergetar hebat dalam tangisnya.
Semua mata tertuju pada sosok pria yang masih tegak, tampan dan berkarisma diusianya yang sudah masuk senja itu. Semua orang terkejut dan shock mendengar kenyataan itu.
Mereka berlomba-lomba untuk membuka hpnya sedangkan Salman adiknya Sayed segera berlari ke arah ruang tempat suster yang lagi berjaga.
__ADS_1
"Suster! Please! Aku mohon tolong putar siaran televisi yang menyiarkan berita tentang pesawat terbang yang baru saja jatuh rute Singapura Jakarta Indonesia!" Perintah dari Salman.
Salman sesekali mengusap wajahnya dengan gusar," ya Allah… semoga saja Abang gagal berangkat hari ini atau yang jelas Abang tidak berada di dalam pesawat tersebut, aku mohon kabulkan doa kami," gumam Salman.
Air matanya luruh saking terkejutnya melihat list nama keseluruhan penumpang pesawat terbang tersebut yang menjadi korban dari kecelakaan.
Sedangkan di tempat di depan pintu masuk ruangan operasi. Pak Farid menangis tersedu-sedu meratapi kepergian menantunya itu.
"Ma! Ini semua salahku yang sudah menyuruh Sayed untuk pulang,aku lah orang yang telah mengakibatkan putriku sendiri harus menjadi janda ketika ia harus berjuang melahirkan putra dan putri mereka di dunia ini," ratapnya Pak Farid yang sangat menyesali keputusannya itu.
Bu Ratih mengelus punggung lebar suaminya itu," Papa harus sabar, yakin lah semua ini sudah menjadi garis tangannya putri kita dan juga sudah kehendak Allah SWT, kita hanya bisa bersabar dan ikhlas menjalani dan menerima kejadian ini dengan tawakal," ujarnya Bu Ratih yang sesekali menyeka air matanya karena keponakan pertamanya itu harus menjadi korban kecelakaan pesawat terbang.
Kematian adalah hal yang mutlak terjadi pada tiap-tiap jiwa.
"Sesungguhnya sholat ku ibadah ku hidupku dan matiku hanya Allah untuk allah Tuhan semesta alam."
Kematian tidaklah menunggu kita untuk bertaubat, tetapi kita lah yang menunggu kematian dengan bertaubat.
__ADS_1