Meraih Cintanya

Meraih Cintanya
Bab. 55


__ADS_3

Acara pun semakin meriah setelah acara pengajian dan ceramah dari salah satu ustadz kondang ibu kota. Semuanya cukup dibuat terharu dan trenyuh jika kembali mengingat masa lalu kebersamaan mereka.


Bu Ratih dan Bu Siska tidak bisa menahan kesedihannya. Mereka terkenang dengan kebaikan dan kehangatan dari sifatnya Sayed Alfarizi Satya Muller.


"Bapak!!" Teriak seseorang dari arah luar pintu rumahnya.


Seorang anak laki-laki dan perempuan berlarian masuk ke dalam rumahnya setelah menemukan benda yang cukup asing di dalam jala ikannya.


Sore itu Faqih dan Faiza sedang menggantikan bapaknya untuk memeriksa jala dan kail ikan yang mereka pasang di tepi lautan.


Bu Siti ibunya kedua bocah itu cukup dibuat terkejut mendengar teriakan anaknya itu.


"Apa yang terjadi pada kalian, kenapa harus berteriak seperti baru saja melihat hantu di siang bolong saja!" Gerutu Bu Siti.


Faiza menunjuk ke arah pantai," Ibu kami menemukan seseorang yang tertidur di pinggiran pantai!" Jawabnya Faiza anak keduanya itu.


Pak Hasan selaku bapaknya segera berlari ke arah luar padahal baru saja memejamkan matanya menuju pulau mimpinya.


"Orang!! Apa maksud kalian orang apa!!" Teriak Pak Hasan yang terkejut mendengar perkataan dari kedua anaknya itu sambil mengancing bajunya itu lalu memakai kopiahnya yang sudah sedikit lusuh dimakan waktu.


"Kami tidak bohong Pak, di sana ada pria tinggi besar yang tersangkut di kail kita, saya kira itu ikan besar tapi, ternyata bukan, jawabnya Faqih dengan suara yang ngos-ngosan peluh keringat bercucuran membasahi pipinya itu.


Pak Hasan menatap ke arah istrinya sambil berucap, "Ibu kunci rumah rapat-rapat, kita harus memeriksanya karena aku tidak ingin mengira kedua anak kita hanya ngelantur asal-asalan saja," tegasnya Pak Hasan lalu segera berjalan dan mempercepat langkah kakinya.


Ketiga anggota keluarganya segera berlari di belakangnya pak Hasan Ishaq untuk menyusulnya.

__ADS_1


"Ya Allah… apa jangan-jangan dia korban tenggelam yang terhanyut hingga masuk ke dalam alat penangkapan ikan kami," batinnya Pak Hasan.


Raut wajahnya Bu Siti sedikit pucat karena beberapa hari yang lalu ketika berjualan ikan keliling sempat mendengar beberapa ibu-ibu mengatakan jika ada pesawat terbang yang kecelakaan.


"Tapi, kampung kami dengan tempat pesawat tenggelam itu sangat jauh bahkan naik kapal saja butuh seminggu, jadi itu tidak mungkin sekali bisa terjadi, sudahlah kita cek dulu lebih detail baru bisa memastikan semuanya," gumam Ibu Siti yang berjalan menyusuri pantai tanpa memakai alas kaki karena sudah terbiasa berjalan bertelanjang kaki saja.


Pak Hasan segera menaiki sampangnya dengan terburu-buru tanpa menunggu kedua anak dan istrinya itu.


"Faqih! Tidak perlu ikut bersama Bapak, kita tunggu di sini saja karena percuma kamu mengejar bapak sudah tidak terkejar!" Jerit Bu Siti untuk mencegah kedua anaknya yang berniat nekat.


Kedua anaknya segera menghentikan langkahnya lalu berdiri dibibir pantai menunggu hasil penyelidikan dan pemeriksaan bapaknya.


"Ya Allah… semoga orang itu masih mampu untuk diselamatkan, kami tidak ingin jika dia mati dan membawa pengaruh jelek kepada tempat kami untuk mencari sesuap nasi," batinnya Bu Siti Aminah.


"Semoga orang ini masih bisa kami tolong!' cicitnya Pak Hasan Ishaaq.


Pak Hasan membelalakkan matanya melihat ternyata orang itu adalah seorang pria yang sudah tidak memakai pakaian selembar pun hanya memakai celana panjang saja dan juga tas selempangnya yang masih melingkar di dalam tubuhnya.


"Ibu, cepat ke sini bantu bapak!!" Pekiknya Pak Hasan yang sudah menarik tubuh pria misterius itu hingga naik ke atas sampang sejenis perahu kecil yang sering dipakai nelayan untuk dipakai sebagai alat transportasi ketika menangkap ikan di pinggiran laut saja.


Bu Siti segera berlari ke arah dalam air untuk membantu suaminya yang sudah menaikkan tubuh pria itu dengan bersusah payah dan penuh pengorbanan.


"Ayo tarik kuat pak, supaya seluruh tubuhnya naik ke atas sampang," pintanya Bu Siti yang sudah basah seluruh pakaiannya agar korban tenggelam itu terselamatkan.


Setelah penuh perjuangan akhirnya tubuh pria itu berbaring di atas sampang. Kedua pasangan suami istri sangat kesusahan karena jika dibandingkan dengan tubuh mereka yang cukup pendek hingga cukup butuh bantuan dan tenaga besar untuk membantu suaminya itu.

__ADS_1


"Syukur Alhamdulillah… makasih banyak ya Allah.. untung bisa dinaikkan," ujar Bu Siti.


"Iya ibu, bapak sangat kesulitan untuk menaikkan tubuhnya karena tubuhnya yang cukup tinggi dan jangkung itu sehingga kita cukup di buat sulit," timpalnya Pak Hasan.


Pak Hasan semakin mendayu dengan penuh tenaga besar hingga sampai mereka diujung pantai.


"Faqih! Cepat Nak panggil mantri kesehatan Pak Anwar untuk segera datang ke rumah karena sepertinya orang ini masih hidup!" Teriak pak Hasan.


"Icha panggil beberapa orang ke sini untuk membantu bapak kasihan bapak tidak sanggup untuk mengangkat tubuhnya bapak ini!" Perintahnya Bu Siti yang meminta tolong pada putrinya.


Beberapa menit kemudian, Faizah sudah kembali dari memanggil beberapa tetangga yang kebetulan berada di sekitar area pantai.


"Apa yang terjadi Pak Hasan?" Tanyanya seorang bapak yang memakai baju kaos lengan panjang lebar.


Kebahagiaan tidak menghampiri mereka yang memiliki segalanya, namun kebahagiaan akan menghampiri mereka yang berterus bersyukur atas nikmatnya.


Terkadang cobaan menghampiri hidup kita, agar kita menjadi orang yang lebih sabar dan ikhlas untuk menghadapi segalanya.


Hal yang paling sulit dari hidup ini adalah menerima kenyataan pahit, percuma disesali jadikan saja pelajaran.


Semua hanya tentang waktu, tunggulah dan tetap doakan, jangan berubah atau menyerah.


I Swear i'll love you in a different way..


Aku bersumpah akan mencintaimu dengan cara yang berbeda..

__ADS_1


__ADS_2