Meraih Cintanya

Meraih Cintanya
Bab. 12 Setelah Sekian Lama


__ADS_3

Sayed mendekati istrinya yang terduduk di atas ranjang dengan dikelilingi kelopak bunga mawar merah yang sangat indah.


Sayed menutup rapat pintu kamarnya lalu ia berjalan ke arah ranjang dengan Sanjana yang terduduk manis di atas ranjang tersebut yang menyambut kedatangan suaminya dengan senyuman termanisnya itu. Sayed membawa sebuket bunga mawar putih lalu ia berikan kehadapan Sanjana.


"Mas berikan bunga cantik ini untuk wanita yang paling cantik yang pernah aku temui di dunia ini," pujinya Sayed yang merangkak naik ke atas ranjang dan duduk berhadapan dengan Sanjana istrinya itu.


Sayed memegang kedua tangannya Sanjana," istriku! Mas hari ini ingin menunaikan kewajibannya Mas,apa kamu bersedia?" Tanyanya Sayed seraya mencium punggung tangannya Sanjana.


Sedang Sanjana yang diperlakukan seperti itu hanya tersenyum malu-malu sambil menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan permintaan dari suaminya itu.


Sayed tersenyum penuh kegirangan setelah mengetahui kalau Sanjana memberikan lampu hijau untuknya berbeda halnya dengan beberapa hari yang lalu disaat dia ingin memaksa Sanjana untuk bercinta, Sanjana malah bersikap diluar dugaan dan kendali.


Sayed harus menderita dengan tangan dan kakinya terikat tali. Tapi, kali ini Sanjana dengan ikhlas dan rela memberikan segalanya untuk suaminya seorang.


Sayed perlahan-lahan merebahkan tubuhnya Sanjana ke atas ranjang, dengan sentuhan lembut dari tangannya mampu membuat Sanjana sesuatu dari dalam bagian inti terdalamnya mendapatkan gejolak yang sama sekali belum pernah ia rasakan selama hidupnya.


"Sayang, istriku Mas akan melakukannya kamu harus tahan yah mungkin agak sedikit sakit di awal-awalnya," ucapnya Sayed yang serasa berbisik di telinganya Sanjana dengan kedua bola matanya yang berbinar-binar terang dengan kabut gairah yang sudah membuncah dipuncak kepalanya.


Sayed dengan penuh kelembutan menyentuh setiap inci tubuhnya Sanjana dengan jari jemarinya yang mempermainkan milik terpenting Sanjana.


Sanjana yang mendapat serangan bertubi-tubi dari suaminya tidak kuasa untuk menahannya lagi hingga suara-suara seksi keluar dari mulutnya memenuhi seluruh tiap sudut kamar hotel tersebut.


Sanjana sesekali memalingkan wajahnya ke arah lain jika ia tidak tahan dengan sentuhan itu. Permainan yang dilakukan oleh Sayed Alfarizi Satya Muller sangat lihai sehingga Sanjana tak segan mengeluarkan suaranya yang selalu ia tahan.


"Keluarkan saja suaranya sayang, kamu tidak perlu menahannya, aku suka itu," ujarnya Sayed yang kepalanya timbul tenggelam di tengah perbukitan lembah tandus dan menuruni padang ilalang.


"Ya Allah… jadikanlah semua yang aku lakukan saat ini adalah bentuk baktiku pada suamiku, aku ingin meraih sebanyak-banyaknya pahala bekal aku kelak dikemudian hari," batinnya Sanjana yang sudah dalam keadaan tanpa sehelai dan selembar kain pun yang menutupi tubuhnya itu.


Berselang beberapa menit kemudian, deru nafas keduanya memenuhi kamarnya tersebut. De dan han sudah tak tertahankan lagi. Ke nik ma tan yang mereka rasakan sudah tak tertahankan lagi.


"Tahan yah! Mas akan memulainya jika sakit ngomong yah Mas akan hentikan jika kamu kesakitan," imbuh Sayed yang mulai melakukan penetrasi untuk melepaskan semuanya telah terkumpul di satu titik.


Sanjana tersenyum malu sembari mengangguk yang setuju dengan perkataan dari suaminya itu. Pertama sensasi yang dirasakan oleh Sanjana begitu sakitnya, perih, panas,ngilu bercampur menjadi satu disaat benda asing berusaha untuk menerobos masuk ke dalam.

__ADS_1


"Aaahhhh!! Sakit!!" Jeritnya Sanjana dengan menutup mulutnya saking tidak kuasanya menahan kesakitannya ketika suaminya sudah perlahan sedikit demi sedikit memasukinya.


"Tahan yah, mas sudah berusaha untuk masuk!" Racaunya Sayed dengan suaranya yang sudah tidak seperti sebelumnya.


Dengan perlahan tapi pasti apa yang dilakukan oleh Sayed pun menuai keberhasilan walaupun dengan bersusah payah dan sangat berhati-hati karena ia tidak ingin menyakiti istrinya itu. Semakin lama semakin dorongan demi dorongan sudah kuat hingga keduanya menikmati jalannya permainan yang mereka ciptakan sendiri.


Hanya suara racauan, nafas yang ngos-ngosan saling memburu memenuhi kamarnya yang sudah berantakan tidak seperti sebelumnya. Kelopak bunga-bunga mawar merah itu sudah berserakan ke mana-mana mengisi setiap sudut penjuru kamar.


Peluh keringat bercucuran membasahi sekujur tubuh kedua pasangan suami istri dalam ikatan halal yang suci itu. Keduanya sama-sama berseri-seri bahagia ketika lava panas menyembur keluar hingga membasahi seluruh dinding rahimnya Sanjana.


"I love you Sanjana!" Lirihnya Sayed disela dorongannya yang kadang pelan kadang lebih cepat dari biasanya.


Bukan hanya sekali Sayed melakukan hal itu, tapi hingga beberapa kali mereka melakukannya dan hanya beristirahat sejenak untuk memulihkan tenaga mereka setelah itu lanjut kembali.


"Aku mencintaimu Sanjana Arimbi Alexandra Agung, sangat mencintaimu… aku tidak suka jika kamu berdekatan dengan pria lain di luar sana," gumam Sayed sebelum tubuhnya tumbang di atas ranjang tepat di samping tubuhnya Sanjana yang masih polos tanpa sehelai benang pun yang menutupinya.


Detak jantungnya memompa begitu besar dan cepat hingga jelas terlihat debaran itu di bagian dadanya. Sayed sesekali tersenyum penuh kemenangan karena berhasil mendapatkan surganya pernikahan mereka yang menjadi pertama kalinya.


Wajahnya Sanjana selalu tersipu malu dan merah merona jika ia mendapatkan perlakuan yang sangat istimewa dan spesial dari suaminya itu. Sanjana berusaha untuk menahan rasa ngilu, perih dan kesakitan yang dirasakan oleh bagian sensitifnya itu.


Tangannya mengelus dengan lembut rambut Sanjana," maafkan aku selama kita menikah saya belum pernah memberikan sedikit pun kebahagiaan untukmu, maafkan suamimu ini yang tidak sempurna yang terlalu banyak kekurangan-kekurangannya, tapi mulai detik ini saya berjanji untuk berusaha memberikan yang terbaik untukmu, dan saya sangat berterima kasih karena kamu menjaganya dengan baik dan mempersembahkan hanya untuk aku seorang," jelasnya Sayed yang sedari tadi tersenyum sumringah penuh kebahagiaan.


"Mas, besok pagi kita harus pulang kan?" Tanyanya Sanjana yang bermanja-manja di atas tubuh sispacknya Sayed.


"Iya, kita harus pulang segera ke Jakarta nenek katanya masuk rumah sakit," jawabnya Sayed.


Lengan kanannya Sayed menjadi bantal kepalanya Sanjana dengan tangannya yang masih setia melingkar di perutnya hingga pinggangnya Sayed.


Sayed kembali menatap kearah istrinya dengan kilatan cahaya kedua bola matanya yang memancarkan cahaya seolah ingin menambah lagi. Sanjana yang mengetahui hal itu segera bergidik ngeri dan berusaha ingin bangkit dari baringnya itu.


"Ihh Mas!! Sudah aahh aku capek ngantuk mau tidur, besok baru lanjut lagi," kilahnya Sanjana yang mencegah suaminya untuk meminta jatahnya lagi dengan bergegas menarik bed cover hingga menutupi seluruh tubuhnya dengan rapat.


Sayed yang melihat reaksi dari Sanjana tertawa terbahak-bahak karena menurutnya apa yang dilakukan oleh istrinya itu sangat lucu.

__ADS_1


"Mas, cuma bercanda kok, aku juga capek, tapi sini Mas gendong kamu ke dalam kamar mandi aku bantu bersihin tubuhmu sayang!" Usulnya Sayed yang sudah menggendong ala bridal tubuh style istrinya ke dalam kamar mandi.


Sanjana hanya tersenyum bahagia diperlakukan sangat spesial seperti seorang ratu saja. Bahkan Sayed sama sekali tidak membiarkan dan mengijinkan Sanjana untuk bergerak semua pekerjaan ia yang handle dan kerjakan. Mulai dari mengisi buthup dengan air hangat hingga menuang sabun aromaterapi ke dalam air hingga menggosok dan membersihkan semua bagian tubuh Sanjana.


Sanjana hanya sesekali tersenyum malu jika kedua pasang mata mereka saling bertemu begitupun dengan yang dirasakan oleh Sayed.


"Makasih banyak sayang, hari ini aku baru sadar jika melakukannya dengan istri dan pasangan halal kita kenikmatan dan kesyahduan itu sangat berbeda jauh rasanya," ungkap Sayed yang kembali mengecup puncak kedua perbukitan milik Sanjana.


"Aku pun bahagia Mas, tapi apa aku boleh bertanya sesuatu!" Tatapan matanya intens menatap Sayed.


"Siapa nama perempuan yang terukir di dalam sini?" Sanjana menunjuk ke arah dada bidangnya Sayed dengan mengunakan jari lentiknya itu.


"Emangnya kamu mau tanya apa sayang, istriku apa pun itu insya Allah… Mas akan menjawabnya," timpalnya Sayed.


Sayed baru ingin membuka mulutnya untuk bersuara tiba-tiba dering dan getar hpnya menghalanginya untuk berbicara. Sayed segera menyelesaikan ritual mandinya bersama dengan istrinya itu.


Raut kecewa jelas terlihat dari raut wajahnya Sanjana, tapi ia berusaha untuk menutupi kenyataan perasaannya saat itu juga.


Sayed buru-buru memakaikan baju jubah mandi untuk istrinya itu lalu kembali menggendongnya. Sayed menurunkan Sanjana diujung kasur, sedangkan dia berjalan ke arah meja untuk mengecek hpnya.


"Mama!" Beo Sayed.


"Angkat saja Mas, siapa tahu ada yang penting ingin dibicarakan oleh Mama," pintanya Sanjana.


Sayed segera menekan tombol hijau di layar hpnya mimik wajahnya langsung berubah sendu hingga tetesan air matanya menetes membasahi pipinya. Sanjana yang melihat hal itu terkejut dan penasaran dengan apa yang terjadi pada suaminya itu.


Sanjana berjalan ke arah suaminya berada yang duduk di sofa walaupun sesekali ia meringis kesakitan dan ngilu dibagian daerah intimnya itu tapi, tetap melangkahkan kakinya menuju tempat suaminya berada. Sanjana menyentuh lengan suaminya yang tidak tertutupi apapun.


"Sayang! Apa yang terjadi kenapa Mas menangis?" Tangannya segera menyeka air matanya Sayed dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.


"Nenek!! Nenek meninggal dunia Istriku!" Jawabnya Sayed yang sudah menangis tersedu-sedu.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun," lirihnya Sanjana.

__ADS_1


__ADS_2