
"Ini semua salahku sehingga Sayed harus meninggal dunia, karena aku yang mendesaknya sehingga ia harus pergi ke Singapura dan pulang ke Jakarta semua karena aku!!" Batinnya Pak Farid menjerit.
Pak Farid memutar kenop pintu ruangan yang bertuliskan ruangan khusus bayi.
"Bismillahirrahmanirrahim," lirih Pak Farid.
Pak Farid sedikit ragu untuk masuk ke dalam ruangan khusus bayi. Dia merasa sangat menyesal dan bersalah karena menurutnya keputusannya lah sehingga kedua cucu pertamanya tidak memiliki seorang papa.
Langkah kakinya cukup gontai, gemetaran, dadanya terasa sesak, tubuhnya terasa berat, nafasnya tercekat ketika melihat tubuh kecil tak berdaya di atas ranjang kecil.
"Ya Allah… aku tidak pernah berfikir kedua cucuku akan mengalami hal ini, aku sangat bersalah karena kakek kalian harus hidup tanpa Papa kalian," lirihnya Pak Farid Alexander Agung Miller.
Tangannya menyentuh tubuh kecil yang masih merah itu. Pak Farid menggendong cucu pertamanya yang berjenis kelamin laki-laki itu lalu mendekatkan sedikit ke telinga dan mulutnya karena, akan mengadzani mereka secara bergantian.
Air matanya menetes dan berlinang membasahi pipinya, ia seakan tak mampu untuk mengucapkannya setiap lafaz kalam Ilahi itu di telinga cucunya. Pak Farhan melakukan tugas itu untuk cucu perempuannya.
Pak Farhan Fathanah Lubis tidak tega melihat besannya itu sekaligus sahabat kecilnya bersedih dan suaranya serak ketika melafazkan adzan dan iqamat tersebut.
Pak Farhan menepuk pundak sahabat kecilnya itu, "Sabarlah, siapa pun yang berada diposisi kita pasti akan mengalami hal ini dan tidak ada satupun manusia di dunia ini jika mendapatkan kemalangan dan cobaan akan kematian pasti semuanya akan bersedih, sekarang yang perlu kita pikirkan mencari jazadnya Sayed dan memikirkan bagaimana caranya untuk menyampaikan berita ini kepada Sanjana putri kita," jelasnya Pak Farhan yang diam-diam menyeka air matanya.
__ADS_1
"Menyampaikan kepada putriku itu adalah hal yang tersulit untuk sesuatu yang bisa aku lakukan Farhan, aku tidak mampu untuk menyampaikannya karena aku tidak ingin melihat wajah berduka dan kesedihan untuk putri semata wayangku itu," pungkas Pak Farid yang kembali meneteskan air matanya hingga membasahi pipinya putri kecilnya Sayed.
Seluruh rakyat Indonesia kembali berduka, untuk kesekian kalinya mengalami musibah kecelakaan pesawat kembali terjadi. Hampir semua orang yang mengenal baik Sayed Alfarizi Satya Muller terkejut dan shock karena mendengar berita kematiannya yang begitu tiba-tiba.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun…" ucapan itu meluncur dari semua bibir masyarakat yang mengenal Sayed.
"Bagaimana dengan pencarian korban apa sudah ada yang ditemukan?" Pak Farid menciumi pipi tembem cucu perempuannya yang membuatnya gemes dan seperti kekalutan, kesedihan,rasa sesal, kemarahan, kecewa yang bercampur menjadi satu bagian di dalam hati dan perasaannya itu hancur lebur ketika melihat ke dalam bola mata bening sebening embun pagi milik cucunya.
"Apa sudah ada nama yang pantas untuk mereka besan?" Pak Farhan berusaha untuk menghibur sahabatnya itu walaupun sebenarnya ia yang paling kehilangan sosok putra sulungnya kebanggaannya walaupun ia masih memiliki dua orang putra lagi yang kembar juga.
"Mungkin Sanjana sudah memilihkan nama yang baik untuk mereka, tapi aku pernah mendengar kalau Sanjana akan memberikan nama kepada putrinya ini dengan sebutan Yasmine dan putranya Yardan itu yang sempat aku dengar dulu, waktu aku berkunjung ke rumahnya."
"Itu nama yang Bagus dan cantik untuk dua bayi ganteng dan cantik ini," ujarnya Pak Farhan yang kembali menggendong tubuh kecil dan imut cucu sulungnya.
"Ayah mana yang tidak akan sedih, hancur dan kehilangan jika salah satu dari buah hatinya untuk pergi selamanya meninggalkan dunia ini dan tak akan pernah kembali lagi walaupun sejenak saja, anak yang telah lama aku rindukan dan nantikan kehadirannya dulu di dalam pernikahan kami, tapi Engkau Maha Pencipta yang lebih berhak atas kehidupan putraku, sedari itu maka sadarkan lah aku agar tidak kufur nikmat dan menyalahi ketentuan mu ya Allah… karena aku yakin mungkin ini jalan yang terbaik untuk anakku," batinnya Pak Farhan menjerit tapi, ia berusaha untuk kuat dan tegar di hadapan anggota keluarganya yang lain.
Berbagai ucapan bela sungkawa terus berdatangan dan karangan bunga pun sudah membanjiri halaman depan bagian rumahnya Pak Farhan. Mereka memutuskan untuk melaksanakan shalat gaib untuk Sayed di rumahnya kedua orang tua kandungnya Sayed sendiri.
Hal itu dilakukan dan diputuskan oleh kedua keluarga besar Lubis dan Miller karena mengingat rumah yang ditempati oleh Sayed dengan istrinya Sanjana adalah rumah baru dibeli oleh Sayed khusus untuk istrinya dan juga anak-anaknya kelak.
__ADS_1
Sebagian anggota keluarga sudah pulang dan berkumpul di rumahnya Pak Farhan. Mereka sudah mengerahkan seluruh anak buah terbaiknya untuk mencari keberadaan korban kecelakaan maut pesawat terbang dengan boing SJ-182 itu.
Berbagai peralatan canggih dan mutakhir sengaja khusus didatangkan dari luar negeri oleh keluarga Miller. Hal itu bertujuan hanya untuk mencari keberadaan anggota keluarga mereka yang menjadi salah satu korban pesawat tersebut.
Kedua belah pihak telah memutuskan bahwa nama bayi kembar Sayed Alfarizi Satya Muller dengan Istrinya Sanjana Alexandra Agung Miller adalah Yardan Alexander Alfat Muller dengan Yasmine Alexandra Azzahra Muller.
Mereka sepakati bersama walaupun keduanya belum diaqiqah karena masih dalam suasana berkabung. Duka mendalam menyelimuti dua keluarga besar tersebut. Berbagai ucapan turut berdukacita atas kepergian dan meninggalnya Sayed hingga detik ini silih berganti pelayak mendatangi rumah duka.
Sanjana sudah tersadar dari pengaruh obat anestesi setelah dioperasi. Hal yang pertama kali dia cari adalah kedua anak kembarnya dan juga suaminya.
"Mbak Tuti aku ingin menelpon suamiku, tolong cariin hpku dimana?" Tanyanya Sanjana yang menatap intens ke arah Mbak Tuti.
Sedangkan yang lain saling bertatapan satu sama lainnya dan kebingungan harus menjawab apa.
"Ya Allah… Nyonya Besar Siska dan Ratih ada di mana, kenapa mereka tidak datang? Kalau gini kami harus ngomong apa," raut wajah kebingungan dari beberapa orang yang berada di dalam kamar perawatan Sanjana.
Sanjana memperhatikan satu persatu dari mimik wajah mereka," apa yang terjadi kepada mereka! Tumben mereka diam seperti patung kalau aku tanya padahal biasanya mereka akan cerewet dan seakan-akan berlomba untuk berbicara mengutarakan pendapatnya di hadapanku, ada yang tidak beres sepertinya!"
Hingga pintu berdecit membuat perhatian mereka teralihkan oleh kedatangan beberapa orang dewasa dengan membawa dua kotak box bayi. Sanjana berusaha untuk bangun dari posisi baringnya.
__ADS_1
Bu Siska segera berjalan cepat ketika melihat anak menantu kesayangannya itu ingin bangun," sayang! Kamu tidak perlu terlalu banyak goyang, Ingat kamu baru saja selesai operasi," cegahnya Bu Siska.
"Iya benar apa yang dikatakan oleh Mama mertuamu Nak! Kami tahu pasti kamu ingin melihat anak kembarmu kan!' tebak Bu Ratih yang berusaha untuk menutupi kenyataan yang ada walaupun kedua hati dan perasaannya mereka sedang berduka dan sedih tapi, mereka berusaha untuk tidak menampakkan di hadapan Sanjana.