Meraih Cintanya

Meraih Cintanya
Bab. 14. CEO Baru


__ADS_3

Sanjana dan Sayed sama-sama berangkat ke tempat kerja mereka dengan memakai mobil masing-masing.


"Insya Allah… saya akan ke kantor Mas, karena ada meeting penting yang harus aku hadiri," timpalnya Sanjana.


Perbincangan mereka berlanjut ke jenjang lebih jauh hingga makanan mereka tandas setelah mereka menyantap makanan yang sungguh menggugah selera makan. Mereka sama-sama meninggalkan rumah mereka menuju ke tempat kerja mereka.


Setiap kali Sanjana berangkat dari rumah dengan pakaian kerja yang biasa saja tapi, jika sudah berada di kantornya selalu mengganti pakaian stelan kerjanya. Sanjana melakukan hal itu dengan tujuan yang hanya dia dan papanya mengetahuinya.


Senyuman selalu tersungging di sudut bibirnya membuat beberapa orang yang melihat langsung dan berpapasan dengannya menatap aneh kearahnya Sayed. Tapi, Sayed sama sekali tidak pernah memperdulikan tatapan sinis dan aneh dari semua karyawan perusahaan Lexus Global Ones tbk.


"Aku harus menunjukkan pada semua orang kalau Sayed Alfarizi Satya Muller sudah terlahir baru dan Sayed yang lama sudah menghilang dan pergi jauh," gumamnya sambil berjalan ke arah dalam lift.


Sedang jauh dari tempat tersebut, seorang perempuan tengah meratapi nasibnya. Dia tidak menyangka jika pria yang beberapa hari ini gencar mendekatinya adalah pria yang merenggut mahkotanya dan membuatnya harus hamil dan memiliki seorang putri yang sangat cantik.


"Aku mohon jangan pernah dekati aku lagi, karena kita sama sekali tidak ada hubungan apapun dan anggap saja kita tidak pernah bertemu!" Ketusnya Sania Mirza Hakim sambil berdiri lalu menyeret tasnya yang ia simpan di atas meja mereka.


Galang hanya tersenyum menanggapi perkataan dari Sania, ia sama sekali tidak ingin melawan perkataan dari mulutnya perempuan yang hampir empat tahun terakhir ia selalu cari keberadaannya.


Tapi, baru beberapa langkah kakinya menuju pintu keluar, Sania terpaksa menghentikan langkahnya setelah mendengar seruan dari Galang Aryanta Martadinata itu. Raut wajahnya Sania seketika pucat pasi,ia tidak menyangka jika Galang mengetahui rahasia terbesarnya itu yang selalu ia berusaha untuk tutupi dari orang lain.


Hanya Sayed dan Sanjana yang mengetahui rahasia itu. Sedangkan orang lain,sama sekali tidak ada yang menyadarinya.


"Kamu tidak perlu menutupi kenyataan itu, karena aku punya hak pada putri kecilmu itu karena aku adalah papa biologisnya jadi otomatis aku punya hak atas Angela," imbuhnya Galang yang baru saja beranjak dari duduknya.

__ADS_1


Sania tidak menduga jika Galang mengetahui hal itu," siapa sebenarnya dia, kenapa rahasia yang selama ini aku tutupi dengan rapat-rapat tapi, ternyata ia tahu semuanya," batinnya Sania Mirza yang tiba-tiba terdiam dan tak bergeming di tempatnya.


Galang menarik ke atas sudut bibirnya itu lalu berdiri di depan Sania dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya itu.


"Apa semua yang aku katakan benar adanya atau hanya pikiranku saja yang mengatakan hal tersebut!" Sarkasnya Galang.


Sania menatap jengah ke arah Galang, ia tidak ingin menanggapi perkataan dari Galang karena sama saja ia mengiyakan semua perkataan pria yang cukup menyebalkan tersebut.


"Maaf aku harus pergi, karena aku punya pekerjaan yang lebih penting dari pada harus mendengarkan perkataan kamu yang tidak masuk akal itu!" Ketusnya Sania lalu berjalan sambil menghentakkan kakinya dengan cukup kuat.


Galang untuk kali ini sama sekali tidak ingin memaksa Sania untuk berkata jujur,tapi ia cukup menyelidiki dan mengetahui sendiri siapa Angel itu.


"Aku punya rencana sendiri, aku harus mendekati anakku langsung lalu mendekati mamanya karena kalau putrinya sudah aku dapatkan hatinya insya Allah… mamanya sendiri yang akan datang padaku," gumamnya Galang lalu berjalan meninggalkan kafe tempat janjian dengan Sania.


Shania mengendarai mobilnya cukup dengan kecepatan tinggi karena atasannya sudah beberapa kali menghubunginya itu.


Beberapa saat kemudian, Sania sudah sampai di tempat kerjanya. Sayed yang melihat kedatangan Sania mengerutkan keningnya karena untuk pertama kalinya Sania datang terlambat di saat yang penting pula. Padahal biasanya Sania orangnya yang selalu tepat waktu dan ontime dalam bekerja.


"Apa yang terjadi padanya? Mungkin sebaiknya nanti aku ajak ia makan siang aku kasihan melihatnya seperti ini," batin Sayed yang memutar pulpennya.


"Maafkan saya Pak harus terlambat karena ada urusan yang sangat urgen dan penting yang tidak mungkin aku tinggalkan," ungkap Sania Mirza yang menyesal karena sudah membuat semua rekan kerja dan atasannya menunda rapat mereka.


"Karena Sania sudah datang kita mulai saja rapatnya untuk menyambut kedatangan pimpinan baru kita di perusahaan, semoga semua yang ada di dalam sini menunjukkan yang terbaik pada Putrinya Pak Alexander Agung Millers agar mereka tidak kecewa dengan kinerja kita selama ini karena jika mereka kecewa maka taruhannya adalah posisi kita di perusahaan," jelasnya Pak Yunus Husein saat membuka rapat tersebut.

__ADS_1


Berselang beberapa jam kemudian, petinggi perusahaan sudah datang dan hari ini adalah hari dimana CEO perusahaan baru mereka datang untuk pertama kalinya. CEO baru itu datang untuk menggantikan posisi kakaknya yang selama ini dipegang oleh anak tertua Pak Alexander Agung Miller yaitu Fauzan Rexy Alexander Agung karena dia papanya baru sebulan membuka cabang perusahaannya di Belanda.


Sehingga Fauzan terpaksa tampuk pimpinan kekuasaan tertinggi harus diserahkan kepada anak kedua sekaligus anak bungsunya itu.


"Katanya CEO kita ini seorang pria perempuan yang sangat cantik dan masih muda, umurnya kira-kira baru 25 tahun dan sudah dipercaya untuk mengendalikan perusahaan yang cukup besar," ujarnya salah satu rekan kerjanya Sayed.


Sedangkan Sayed dan Sania Mirza masing-masing sibuk dengan pekerjaan masing-masing yang hanya sesekali tersenyum menanggapi perkataan dari beberapa temannya itu dan sesekali mereka tersenyum mendengar candaan dan celotehan mereka tentang CEO mereka.


Tapi, semuanya positif dan tidak ada yang sama sekali berkomentar jelek tentang CEO baru mereka yang sama sekali belum pernah mereka lihat sedikit pun itu.


"Kalau aku jadi cowok mungkin aku akan dekati Nona Muda mumpung ia masih single loh anak sultan nih," ucapnya Elina salah satu karyawati.


"Gimana dengan Pak Sayed, mungkin bisa dekati Nona CEO, karena aku yakin Bapak bisa taklukkan hatinya secara Pak Sayed itu Casanova kecuali kalau pak Sayed sudah kapok dan taubat untuk setia dengan istrinya!" Sarkasnya Edi yang berbicara sambil bergurau.


Sania yang mendengar perkataan dari temannya hanya terdiam dan menatap intens kearah Sayed lalu menundukkan kepalanya karena ia merasa tersinggung dengan penuturan sahabat nya itu.


Sayed hanya tersenyum menanggapi perkataan dari mulutnya temannya itu," benar sekali apa yang kamu katakan, tapi aku sudah memutuskan untuk pensiun dari menjadi casanova karena aku cukup sangat bahagia menjadi suami dari Istriku yang paling cantik dari siapapun bahkan dari semua mantan-mantanku dan aku perlu tegaskan kepada kalian jika aku sudah berubah dan berusaha menjadi suami yang setia," ungkapnya tanpa ada sedikitpun guratan kemarahan dari raut wajahnya itu dia cukup santai berbicara seperti itu.


"Syukur Alhamdulillah kalau seperti itu bro, kami cukup ikut turut bahagia mendengarnya semoga kamu bisa pertahankan sikapmu ini," puji Edi yang bahagia dan senang karena sahabatnya itu sudah berubah.


"Stop!! Sudahi gosipnya, Tuan Alexander Agung Miller dengan putrinya sudah datang," tutur Shasa.


Mereka segera duduk di kursi masing-masing dan tampak dari wajah mereka berbeda-beda ada yang nampak tegang,ada yang keheranan,ada yang takut, ada yang santai saja seperti Sayed yang sama sekali selow tidak memiliki beban apa pun.

__ADS_1


Baginya Sayed yang harus ia lakukan adalah menunjukkan dan menampilkan yang terbaik yang ia miliki sebagai menejer keuangan. Hingga pintu itu terbuka lebar dari luar. Beberapa orang rombongan pemilik perusahaan dan saham tertinggi ikut dalam barisan rombongan tersebut.


Tapi, ada satu sosok yang mampu membuat Sayed Alfarizi Satya Muller tersenyum penuh kebahagiaan menyambut kedatangan mereka.


__ADS_2