Meraih Cintanya

Meraih Cintanya
Bab. 44


__ADS_3

Sayed memeluk tubuhnya Sanjana dari arah belakang," apa kamu menyukainya?" Sayed menumpukan dagunya di salah satu pundaknya Sanjana dengan tangannya yang melingkar di pinggangnya Sanjana.


"Saya sangat menyukainya suamiku, aku tidak percaya jika Mas melakukan semua ini," balasnya Sanjana yang memegang kedua tangannya Sayed yang melingkar diatas perutnya yang sedikit membuncit itu.


Sanjana meneteskan air matanya saking bahagianya karena mendapatkan kejutan dari suaminya yang sungguh membuat hatinya tergugah dan tersentuh hatinya.


Sanjana mengedarkan pandangannya ke sekeliling pantai tersebut. Senyumannya terus mengembang seiring air matanya juga menetes membasahi pipinya itu. Sayed mengandeng tangannya Sanjana untuk berjalan ke meja yang sudah tersedia di tengah pantai.


Sanjana membuka sendalnya yang sedari tadi mengalasi dan melindungi kakinya itu. Ia ingin merasakan sentuhan langsung dengan pasir. Sayed membantu Sanjana menyeka air matanya yang tak hentinya menetes membasahi pipinya.


"Sayang, Mas mohon hari ini yang terakhir kalinya kamu meneteskan air matamu, Mas tidak ingin melihatnya lagi," imbuhnya Sayed yang mengecup kedua pasang matanya Sanjana dengan penuh kasih sayang m


Sanjana memeluk tubuhnya Sayed seraya menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan perkataan dari Sayed Alfarizi Satya Muller. Mereka kembali berpelukan satu sama lainnya. Di sela kesibukan kunjungan kerjanya di Doha Qatar, Sayed masih mampu diam-diam menyempatkan waktunya untuk mengatur surprise khusus dan spesial untuk Istrinya seorang.

__ADS_1


Hingga tiba-tiba bunyi perutnya Sayed berbunyi membuat Sanjana tertawa terbahak-bahak mendengar bunyi perutnya suaminya yang menandakan jika ia lapar.


Sanjana segera menghentikan tawa renyahnya itu karena merasa tidak enak karena gara-gara dia sehingga suaminya harus terlambat makan," Maaf ini gara-gara aku sehingga suamiku harus kelaparan!" Imbuhnya Sanjana.


Sayed tersenyum cengengesan," bukan salah kamu kok sayang, semua ini gara-gara aku yang terlalu sibuk," kilahnya Sayed sendiri.


Sanjana mengecup sekilas bibirnya Sayed lalu menarik tangannya Sayed ke meja makan. Dia tersenyum sumringah menanggapi sikapnya Sanjana yang begitu manis.


Di atas meja makan sudah tersedia berbagai macam jenis hidangan makanan khas Qatar. Hidangan itu spesial Sayed pesan sesuai dengan kesukaannya Sanjana. Sayed berjalan cepat lalu segera menarik kursi untuk Sanjana.


Sayed menaruh banyak jenis makanan ke atas piringnya semuanya khusus untuk makanan Ibu hamil.


"Makan yang banyak kamu itu lagi hamil penerusnya Sayed Alfarizi Satya Muller dua loh jadi porsi makanmu juga disesuaikan," ujarnya Sayed yang memilihkan makanan untuk Sanjana.

__ADS_1


Sanjana mencegah tangannya Sayed untuk berhenti menaruh makanan yang sungguh piringnya yang sudah penuh sesak dengan makanan.


"Kalau aku makan semuanya ini, bisa-bisa bobot badanku seperti gentong berjalan Mas!" Gerutunya Sanjana yang merasa berat badannya setiap minggu bertambah.


Sayed tertawa terpingkal-pingkal mendengar perkataan dari Sanjana yang menurutnya sangat lucu sambil membayangkan jika Sanjana semakin gemuk.


"Itu kan baru aku bayangin, Mas sudah menertawakan tubuhku nanti!" Ketusnya Sanjana yang segera menghentikan kunyahan makanannya itu.


Sayed segera menghentikan tawanya lalu menggenggam tangannya Sanjana," stop! Kamu mau gemuk atau kurus bagaimana pun kedepannya, hati ini akan selalu untukmu seorang sayang hanya satu istriku hingga maut memisahkan kita dan tidak akan pernah terganti namamu di dalam lubuk hatiku yang paling hingga jika bisa hingga di kehidupan selanjutnya Sayed Alfarizi Satya Muller adalah suaminya dan milikinya Sanjana Alexandra Agung Miller seorang bukan wanita lain," jelasnya Sayed yang tak hentinya menciumi punggung tangannya Sanjana untuk menenangkan Sanjana yang sedang merajuk itu.


Sanjana terdiam menghayati perkataan dari mulut suaminya itu dengan seksama. Sambil memperhatikan raut wajahnya Sayed ketika berbicara.


Sayed segera berdiri dari duduknya lalu berlutut di hadapan Sanjana, tangannya masih setia digenggam oleh Sanjana," saya berjanji demi nyawaku saya tidak akan pernah mengingkarinya apapun yang terjadi dan tolong berikan aku waktu dan kesempatan untuk menebus waktu yang sudah terbuang untuk memperbaiki semua kesalahanku yang telah melukai hati dan perasaanmu, aku meminta maaf atas khilaf ku selama ini dan tetap lah mendampingiku dalam keadaan apapun itu," terangnya Sayed.

__ADS_1


Sanjana kembali meneteskan air matanya karena tersentuh dengan ketulusan hatinya Sayed yang benar sudah berubah tidak seperti dulu lagi yang hidup menjadi casanova gara-gara ditinggalkan dan dicampakkan oleh Sarah Amalia Sneider disaat lagi bucin-bucinnya.


"Aku juga minta maaf Mas, aku sadari jika aku selama menjadi istrinya Mas sudah bertindak gegabah, kasar, egois dan pemarah seharusnya aku tidak boleh melakukan semua itu," ungkapnya Sanjana sembari membantu suaminya untuk berdiri dari posisi berlututnya.


__ADS_2