
"Aku ingin ke stadion Al-Bait untuk nonton langsung piala dunia final antara Argentina melawan Prancis," jawabnya Sanjana yang sudah berpakaian lengkap dengan atribut Prancis.
Sayed cukup terkejut dengan keinginannya Sanjana mengingat jika ia baru pulih dari sakitnya dan juga dalam keadaan hamil.
"Tapi, kamu!" Ucapannya Sayed terpotong karena langsung disanggah oleh Sanjana.
"Maaf aku tidak terima kata tapi okey!" Sanggah Sanjana yang meninggalkan Sayed yang berdiri mematung di tempatnya mendengar perkataan dari Sanjana yang cukup tegas.
Sayed belum mendudukkan dirinya di atas sofa, Sanjana sudah berbicara,"Mas sepertinya sangat akrab dengan Pak Dokter Fatih!" Selidik Sanjana.
Sayed tersenyum tipis," Alhamdulillah Dokter Fatih Terim Smith adalah teman aku sewaktu kami kuliah di Oxford University UK Inggris London," jawab Sayed dengan mantap.
"Ohh gitu!" Sahutnya Sanjana lalu berjalan ke arah luar dengan beberapa asisten rumah tangganya tiga orang yang selalu bersamanya.
"Ya elah baru juga duduk untuk istirahat sudah ditinggal begini," kesalnya Sayed yang baru kali jengkel dengan keadaan.
Sayed segera mengekor keempat perempuan yang semuanya memakai hijab dengan penampilannya yang sangat cantik dan teduh dipandang mata.
"Aku tidak boleh menentang ataupun memprovokasi Sanjana karena bisa berakibat fatal untuk kesehatan dan keselamatan kedua anak kembar kami," cicitnya Sayed sembari menutup rapat pintu kamar perawatan istrinya.
Sanjana diam-diam memperhatikan raut wajahnya Sayed Alfarizi Satya Muller lalu tersenyum penuh kemenangan.
"Apa yang aku lakukan cukup berhasil, semoga Abang Fatih tidak berbicara jujur di hadapan Mas Sayed jika ia cerewet dan membuka rahasia besar kami ini bisa gawat," gumamnya Sanjana Alexandra Agung Miller.
Sanjana duduk di jok belakang mobilnya karena Sofia menyuruh supir pribadinya untuk menjemputnya di rumah sakit. Sanjana tidak ingin merepotkan suaminya dan juga ia ingin melihat suaminya istirahat yang cukup.
__ADS_1
Sayed duduk di sebelah kanannya Sanjana," Kita langsung ke stadion atau pulang ke rumah dulu?" Tanyanya Sayed ketika mobilnya sudah meninggalkan area parkiran mobil rumah sakit.
"Sepertinya kita singgah ke salah satu resto dulu sebelum berangkat ke stadion Al-Bait untuk menonton final piala dunia antara Argentina vs Prancis kasihan anak kita Mas sepertinya sudah lapar dan pengen makan khas orang Qatar asal kakek buyutnya," terangny Sanjana sambil memainkan hpnya untuk melihat informasi terkini tentang sepakbola tersebut.
Pak Farid sedikit ragu untuk masuk ke dalam ruangan khusus bayi. Dia merasa sangat menyesal dan bersalah karena menurutnya keputusannya lah sehingga kedua cucu pertamanya tidak memiliki seorang papa.
Langkah kakinya cukup gontai, gemetaran, dadanya terasa sesak, tubuhnya terasa berat, nafasnya tercekat ketika melihat tubuh kecil tak berdaya di atas ranjang kecil.
"Ya Allah… aku tidak pernah berfikir kedua cucuku akan mengalami hal ini, aku sangat bersalah karena kakek kalian harus hidup tanpa Papa kalian," lirihnya Pak Farid Alexander Agung Miller.
Tangannya menyentuh tubuh kecil yang masih merah itu. Pak Farid menggendong cucu pertamanya yang berjenis kelamin laki-laki itu lalu mendekatkan sedikit ke telinga dan mulutnya karena, akan mengadzani mereka secara bergantian.
Air matanya menetes dan berlinang membasahi pipinya, ia seakan tak mampu untuk mengucapkannya setiap lafaz kalam Ilahi itu di telinga cucunya. Pak Farhan melakukan tugas itu untuk cucu perempuannya.
Pak Farhan Fathanah Lubis tidak tega melihat besannya itu sekaligus sahabat kecilnya bersedih dan suaranya serak ketika melafazkan adzan dan iqamat tersebut.
"Menyampaikan kepada putriku itu adalah hal yang tersulit untuk sesuatu yang bisa aku lakukan Farhan, aku tidak mampu untuk menyampaikannya karena aku tidak ingin melihat wajah berduka dan kesedihan untuk putri semata wayangku itu," pungkas Pak Farid yang kembali meneteskan air matanya hingga membasahi pipinya putri kecilnya Sayed.
Seluruh rakyat Indonesia kembali berduka, untuk kesekian kalinya mengalami musibah kecelakaan pesawat kembali terjadi. Hampir semua orang yang mengenal baik Sayed Alfarizi Satya Muller terkejut dan shock karena mendengar berita kematiannya yang begitu tiba-tiba.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun…" ucapan itu meluncur dari semua bibir masyarakat yang mengenal Sayed.
"Bagaimana dengan pencarian korban apa sudah ada yang ditemukan?" Pak Farid menciumi pipi tembem cucu perempuannya yang membuatnya gemes dan seperti kekalutan, kesedihan,rasa sesal, kemarahan, kecewa yang bercampur menjadi satu bagian di dalam hati dan perasaannya itu hancur lebur ketika melihat ke dalam bola mata bening sebening embun pagi milik cucunya.
"Apa sudah ada nama yang pantas untuk mereka besan?" Pak Farhan berusaha untuk menghibur sahabatnya itu walaupun sebenarnya ia yang paling kehilangan sosok putra sulungnya kebanggaannya walaupun ia masih memiliki dua orang putra lagi yang kembar juga.
__ADS_1
"Mungkin Sanjana sudah memilihkan nama yang baik untuk mereka, tapi aku pernah mendengar kalau Sanjana akan memberikan nama kepada putrinya ini dengan sebutan Yasmine dan putranya Yardan itu yang sempat aku dengar dulu, waktu aku berkunjung ke rumahnya."
"Itu nama yang Bagus dan cantik untuk dua bayi ganteng dan cantik ini," ujarnya Pak Farhan yang kembali menggendong tubuh kecil dan imut cucu sulungnya.
Salman dan Sabir adiknya Sayed yang hanya beda dua tahun saja dari anak sulungnya itu.
"Ayah mana yang tidak akan sedih, hancur dan kehilangan jika salah satu dari buah hatinya untuk pergi selamanya meninggalkan dunia ini dan tak akan pernah kembali lagi walaupun sejenak saja, anak yang telah lama aku rindukan dan nantikan kehadirannya dulu di dalam pernikahan kami, tapi Engkau Maha Pencipta yang lebih berhak atas kehidupan putraku, sedari itu maka sadarkan lah aku agar tidak kufur nikmat dan menyalahi ketentuan mu ya Allah… karena aku yakin mungkin ini jalan yang terbaik untuk anakku," batinnya Pak Farhan menjerit tapi, ia berusaha untuk kuat dan tegar di hadapan anggota keluarganya yang lain.
Berbagai ucapan bela sungkawa terus berdatangan dan karangan bunga pun sudah membanjiri halaman depan bagian rumahnya Pak Farhan. Mereka memutuskan untuk melaksanakan shalat gaib untuk Sayed di rumahnya kedua orang tua kandungnya Sayed sendiri.
Hal itu dilakukan dan diputuskan oleh kedua keluarga besar Lubis dan Miller karena mengingat rumah yang ditempati oleh Sayed dengan istrinya Sanjana adalah rumah baru dibeli oleh Sayed khusus untuk istrinya dan juga anak-anaknya kelak.
Sebagian anggota keluarga sudah pulang dan berkumpul di rumahnya Pak Farhan. Mereka sudah mengerahkan seluruh anak buah terbaiknya untuk mencari keberadaan korban kecelakaan maut pesawat terbang dengan boing SJ-182 itu.
Berbagai peralatan canggih dan mutakhir sengaja khusus didatangkan dari luar negeri oleh keluarga Miller. Hal itu bertujuan hanya untuk mencari keberadaan anggota keluarga mereka yang menjadi salah satu korban pesawat tersebut.
"Kakek buyut," beonya Sayed yang menatap intens ke arah Sanjana karena seingat dan sepengetahuannya kedua pasangan kakek nenek nya Sanjana bukan dari Qatar.
Sanjana tersenyum tipis," Aku harus sedini mungkin memperkenalkan kedua anak kembarku dengan kebiasaan kakeknya dan semoga sifat dan tingkah lakunya tidak mencontoh perilaku papanya!," sarkasnya Sanjana yang sengaja berkata seperti itu agar Sayed tersadar dengan kesalahannya sendiri.
Sayed sama sekali tidak berasa tersungging dengan perkataan dari Sanjana karena dia memang pantas untuk diperlakukan seperti itu.
"Kalau berulang-ulang kamu pasti akan terbiasa dengan hal tersebut," ujarnya Sanjana.
Sayed tersenyum simpul," harus seperti itu agar kedua cicitnya tahu dengan jelas asal usul kakeknya mereka.
__ADS_1
"Pak Supir kita ke restauran yang ada di perempatan jalan depan karena menurut aku di sana paling enak makanannya, harganya juga masih terjangkau dan paling penting itu resto favorit almarhum kakek buyutnya si kembar," ungkap Sayed yang baru respek perkataan dari Sanjana.