
"Kamu tidak perlu banyak mikir gitu, aku beli rumahnya pakai uang pribadiku kok, bukan uang perusahaan istriku!" Guraunya Sayed yang tersenyum simpul.
"Ihh Mas sakit tahu ditarik gitu hidung mancungku, tapi saya perlu luruskan, Mas pakai uang perusahaan saya tidak pernah permasalahkan karena itu milik Mas juga, lagian Mas sudah berusaha dan berjuang sekuat tenaga untuk memajukan perusahaan," tampiknya Sanjana.
Hari itu Sayed Alfarizi Satya Muller membawa istrinya ke rumah barunya. Mereka memutuskan untuk menempati rumahnya hari itu juga. Rumah baru yang baru dibeli oleh suaminya khusus untuk Sanjana Alexandra Agung Miller.
"Aku sangat beruntung dan bersyukur memiliki seorang suami yang sangat pengertian dan penyayang dan syukur alhamdulilah sifat suamiku sudah berubah tidak seperti dulu lagi," Sanjana membatin.
Keseharian kedua pasangan suami istri itu semakin mesra dan memperlihatkan keromantisannya di depan umum tanpa peduli dengan semua orang yang masih jomblo. Jiwa mereka meronta-ronta jika harus dihadapkan langsung pada perlakuan romantis yang diperlihatkan oleh Sayed khusus untuk adiknya.
Waktu terus berlalu tanpa mereka sadari, sudah masuk bulan ke sembilan usia kandungannya Sanjana. Tapi, seolah waktu bagi Sanjana berjalan begitu cepatnya hingga serasa baru kemarin ia mengetahui jika dirinya hamil anak kembar.
Sanjana setelah melaksanakan shalat subuh,ia kembali merebahkan tubuhnya karena merasa kelelahan. Entah kenapa beberapa hari ini ia merasakan lebih cepat dan mudah capek dari hari sebelumnya. Padahal sisa menghitung hari saja taksiran kelahiran anaknya.
"Sudah hampir satu minggu keadaanku seperti ini terus, padahal aku minum vitamin yang diberikan oleh dokter sesuai dengan anjuran dan juga aku minum susu dan vitamin semuanya tidak pernah telat juga," gumamnya Sanjana sambil mengganti posisi baringnya dari awalnya mengahadap ke pintu sekarang tubuhnya sudah berganti posisi membelakangi pintu walaupun dalam kesusahan karena bobot ukuran berat badannya semakin bertambah setiap minggunya dan bulannya pun naik.
Baru saja ingin memejamkan matanya menuju mimpi indahnya tapi, apa yang akan dilakukan oleh Sanjana terpaksa terhenti. Hidungnya mengendus bau aroma wangi makanan hingga ngantuk nya hilang sekejap mata dalam hitungan detik.
"Ini seperti aroma masakan sup iga, kenapa aku bayangin masakan itu yah, sepertinya aku mau minta dibuatkan sama Mbak Tuti kalau seperti ini, tapi ngomong-ngomong kok wanginya semakin dekat saja," cicitnya Sanjana lalu membangunkan tubuhnya itu.
Ia menolehkan kepalanya ke arah mengahadap pintu dan ia melihat suaminya yang masih memakai afron yang masih setia terpasang di tubuhnya yang cukup tinggi tegap itu.
__ADS_1
Sanjana ingin bangkit dari duduknya tapi segera dicegah oleh Sayed," tidak perlu repot-repot untuk berdiri, Mas akan mengantarkan makanan khusus untuk permaisuriku!" Cegahnya Sayed yang tersenyum simpul.
"Aku merasa wanita paling bahagia, karena dikaruniai seorang suami yang benar-benar pengertian, penyayang perhatian dan setia andai boleh aku meminta sama Allah SWT aku ingin hidup bersama Mas di kemudian hari hingga ke surganya Allah SWT," imbuhnya Sanjana sembari tersenyum bahagia.
Sayed tersenyum penuh kebahagiaan setelah mendengar perkataan dari istrinya itu yang seolah memujinya.
"Jangan terlalu memuji dan menyanjung Mas bisa-bisa Mas akan ngumpet saking bahagianya di puji mulu," pungkasnya Sayed.
Sanjana memajukan wajahnya ke arah Sayed lalu ia mengecup pipinya Sayed yang menetes peluh keringat dengan menggunakan bibirnya. Apa yang dilakukan oleh Sanjana cukup mampu membuat Sayed bahagia karena apa yang diinginkannya berhasil. Yaitu membuat istrinya terhibur, bahagia dihari menjelang persalinannya.
"Makasih banyak ya Allah… aku sangat beruntung punya istri yang cantik, sholeha, baik hati, penyayang, dan juga kuat mengahadapi apapun dan selalu mencintaiku dalam keadaan apapun," jelasnya Sayed lalu ia berdiri mengatur meja khusus untuk Sanjana dan ia menaruh semua masakan yang sangat lezat itu ke hadapannya Sanjana.
"Mas yang masak semua ini aku yakin Mas Sayed Alfarizi Satya Muller suaminya Sanjana, benar enggak tebakannya aku?" Seraya mencicipi makanan itu satu persatu.
"Kok tahu banget kalau aku yang masak! Padahal aku belum ngomong sama kamu loh," tampiknya Sayed yang mengisi berbagai jenis masakan ke atas piringnya itu.
"Makasih banyak sayang," imbuhnya Sanjana sembari mengecup sekilas bibirnya Sayed dengan penuh kasih sayang.
"Apapun yang kamu ingin makan katakan sama Mas saja insya Allah… selama Mas berada di sampingmu Mas akan berusaha untuk membuat kamu bahagia… selalu bahagia walaupun kelak kehidupan kita mungkin akan kesulitan," Sayed dengan wajahnya yang serius ketika berbicara seperti itu.
"Aku tidak akan berhenti, bosan ataupun jenuh mengatakan ini kalau aku sangat bersyukur Mas Sayed menjadi pendamping hidupku, aku tidak mampu berkata-kata lagi," terangnya Sanjana.
__ADS_1
Sanjana bergantian melayani suaminya, mereka sama-sama makan bersama di pagi hari itu.
"Apa Mas akan ke kantor?" Sanjana berjalan seperti buntel pakaian saja lalu berjalan ke arah dalam kamar khusus untuk ganti pakaian.
Sanjana walaupun dalam keadaan hamil tua,ia tidak ingin berpangku tangan dan hanya bermalas-malasan,ia selalu menyiapkan pakaian kerja maupun pakaian ganti khusus untuk suaminya itu.
"Mas akan berangkat kerja hari ini?" Tanyanya Sanjana setelah menyelesaikan acara sarapan.
"Hari ini, Mas harus berangkat ke Singapura dari sana Mas akan lanjut ke Jepang dan semoga sebelum kamu melahirkan Mas sudah kembali ke Jakarta, karena aku ingin orang yang pertama menggendong anakku dan juga mengadzani mereka sayang," jelas Sayed.
Sanjana berdiri di depan suaminya sambil memakaikan dasinya Sayed," ya Allah… entah apa yang terjadi padaku kenapa seolah aku tak rela mengijinkan suamiku untuk pergi jauh dariku," Sanjana membatin.
Sayed mengecup bibir Istrinya itu dengan penuh kasih sayang," jangan khawatir insya empat hari lagi Mas sudah berada di depan kamu, andai saja pekerjaan ini bisa diwakili aku akan menyuruh Willy saja yang berangkat tapi, pekerjaan ini mengharapkan kehadirannya Mas sendiri," ujarnya Sayed yang berusaha meyakinkan suaminya agar mendapatkan ijin dari Sanjana.
"Hati-hati yah Mas, jangan lupa shalat lima waktunya Ra juga sempatkan untuk mengaji beberapa ayat suci Alquran," pintanya Sanjana lalu dengan berat hati melepaskan pelukannya dari tubuhnya Sayed suaminya itu.
Sanjana mengantar suaminya hingga ke depan pintu mobilnya. Mbak Tuti yang melihat Sanjana membawa tas segera ingin digantikan.
"Nona Muda sini aku saja yang bawakan tasnya Tuan kasihan Nona sedang hamil besar," pintanya Mbak Tuti Maryati yang menawarkan bantuannya setelah melihat Sanjana berjalan menuruni tangga bergandengan tangan dengan Sayed sembari menenteng tas kerjanya Sayed.
"Tidak perlu Mbak, kalau bisa aku minta tolong diambil kopernya Mas Sayed yang ada di atas saja,kalau itu untuk saat ini aku tidak mampu untuk membawanya," ujarnya Sanjana yang tersenyum tipis walaupun ada perasaan aneh yang tiba-tiba muncul dalam hati dan pikirannya saat itu juga.
__ADS_1