
Sania masih sibuk memperbaiki pakaiannya yang cukup berantakan itu.
"Untungnya aku menolong kamu, andai saja aku tidak sigap menarik tanganmu aku yakin kamu akan terantuk ke atas lantai Sania Mirza Hakim!" Ketusnya Galang yang hanya berdiri sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya itu.
Setelah kepergian Galang dari bandara meninggalkan dua pasangan suami istri yang akan berbulan madu itu. Sanjana dan Sayed kembali ke mode seperti sebelumnya. Mereka seolah bukan suami istri saja, tetapi seperti orang lain yang saling tidak kenal.
Sanjana segera meninggalkan bandara dan segera menuju hotel tempat mereka akan menginap beberapa hari.
Galang sama sekali tidak menyangka jika akan bertemu dengan Sania perempuan yang sudah pernah melewati malam yang begitu panas untuk pertama kalinya mereka berhubungan suami istri tapi tanpa ada status pernikahan dan apapun itu.
Galang dan Sania melakukan hal itu atas dasar karena mereka berada dalam pengaruh alkohol. Tapi, sejak pertemuan itu dan mereka berhasil melewati malam yang begitu syahdu mereka kemudian berpisah selama empat tahun dan hari ini bertemu kembali.
Tapi, hanya Galang yang mampu mengenali Sania sedangkan Sania sama sekali tidak mengenali Galang itu siapa.
"Aku akan mengejar dan mendapatkan kamu bahkan aku akan melakukan apapun itu untuk membuat kamu berada dalam pelukanku apa pun itu caranya," batinnya Galang sambil melepaskan pelukannya mereka berdua karena Sania sudah memberontak untuk dilepas.
Sania segera melayangkan tamparannya ke arah pipi kanannya Galang dengan sekuat tenaga.
Plak!!!
__ADS_1
"Ini tamparan keras untuk kamu karena kamu sangat pantas mendapatkannya, dasar pria brengsek! Pria mesum!!" Makinya Sania Mirza Hakim yang geram dengan kelakuannya Galang.
Galang hanya tersenyum tipis menanggapi tanda tangannya Sania di wajahnya itu. Galang semakin tertantang ia bahkan tidak gentar dan takut, Galang menarik tubuhnya Sania kedalam dekapan hangatnya lalu memegang tengkuk lehernya Sania dengan kuat kemudian mencium bibirnya Sania dengan mesra dan penuh menuntut bahkan Galang sama sekali tidak peduli dengan tatapan tajam dari semua orang yang kebetulan berlalu lalang di sekitar tempat itu.
Galang semakin memperdalam ciumannya hingga menggigit kecil ujung bibirnya Sania agar Sania membuka mulutnya lebar-lebar agar ia lebih bebas dan leluasa untuk ******* bibir seksinya Sania.
"Ciumannya semakin pintar dan lihai tidak seperti dulu saat aku melakukan hal itu lebih dari sekedar ciuman," batinnya Galang mereka untuk pertama kalinya berciuman dalam kesadaran yang kurang.
Sania awalnya menolak dan selalu berusaha untuk melawan tapi lama-lama ia juga terbawa suasana dalam kesyahduan dan kelembutan ciumannya Galang yang begitu mendayu. Mereka sudah saling bertukar saliva, sudut bibirnya Galang tertarik ke atas setelah Sania membalas ciumannya dengan penuh nafsu.
Galang segera menghentikan kegiatannya itu sebelum ia larut dalam ciuman itu hingga ia lepas kontrol. Galang masih tersadar jika mereka berada di tempat umum dan sudah banyak orang yang menatap mereka dengan marah.
"Semuanya sudah berubah, kita dulu bertatapan dan berpegangan tangan di hadapan banyak orang saja kita risih dan malu tapi, anak-anak sekarang sudah melupakan norma kesopanan!" Sindir seorang ibu-ibu yang memakai hijab.
Perkataan nyinyirnya dari beberapa mulut pengunjung bandara membuat Sania segera tersadar dan mengakhiri ciumannya m ia segera pergi dari tempat itu tanpa sepatah katapun dan sangat marah dan kecewa dengan sikapnya yang mudah terbawa arus godaan dari seorang pria.
"Kenapa… kenapa aku seperti ini… pertama aku melakukan hubungan intim dengan pria yang sama sekali aku tidak kenal dan menyerahkan kesucianku padanya dan kami memiliki seorang putra yang menghubungkan kami hingga kapan pun dan kedua aku terjatuh lagi kedalam pesona Mas Sayed dengan rayuan mautnya tapi, hari ini aku tidak tahu kenapa aku melihat bibirnya pria yang menjengkelkan itu hingga aku menolak tapi berakhir dengan membalas ciuman hangatnya, aku seperti perempuan rendahan saja, aku tidak boleh seperti ini terus aku harus meminta kejelasan sama Mas Sayed kalau Mas Sayed tidak menikahiku sebaiknya aku mengakhiri semua ini sebelum terlambat," cicitnya Sania Mirza Hakim yang berjalan terburu-buru sambil menuju ke tempat parkiran mobil.
Galang menyentuh bibirnya," hari ini aku sangat bahagia telah menemukan wanitaku, aku harus segera mengikuti kemanapun ia pergi, aku harus segera menyelesaikan meeting ku dengan klien lalu segera mencari keberadaan wanitaku karena aku tidak ingin kehilangannya lagi untuk kedua kalinya," gumam Galang sambil menyeka bibirnya yang masih basah dan tersisa sedikit tetesan salivanya Sania diatas bibir seksinya Galang Aryanta Dirgantara.
__ADS_1
Sedangkan Sanjana sudah duduk di dalam mobil yang disewa nya, sedangkan Sayed di hadapan setir mobilnya yang siap menyalakan stok kontak mobilnya tapi menunggu kedatangan Sania lalu mereka meninggalkan bandara.
Sanjana memasang seatbelt nya dan hpnya berdering ia segera meraih tasnya yang kebetulan tersimpan di atas dasboard mobilnya. Senyuman tipis tersungging di bibirnya ketika melihat siapa orang yang mengirimkannya pesan chat.
Apa yang dilakukan oleh Sanjana tak lepas dari pengamatannya kedua pasang matanya Sayed Alfarizi Sungkar yang membuat ia sedikit kepo dan penasaran dengan apa yang dilakukan oleh istrinya itu. Diam-diam ia mendekatkan wajahnya ke samping kepalanya Sanjana.
"Dengan siapa sih dia main chating,awas kalau istriku bermain chat dengan pria lain aku akan memberikan pelajaran padanya yang tidak akan pernah ia lupakan selamanya dalam hidupnya hingga kapan pun itu," batin Sayed yang tersenyum penuh maksud.
Apa yang dilakukan oleh Sayed diketahui dengan jelas oleh Sanjana, bahkan dia tersenyum tipis menanggapi sikap suaminya Itu.
"Kalau marah, kalau jengkel, kalau cemburu ngomong saja tidak perlu repot-repot menyembunyikan nya," ketusnya Sanjana seraya menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi.
Sayed baru saja ingin membalas perkataan dari Istrinya itu tapi, pintu mobil sudah terbuka lebar dan pelakunya adalah Sania.
"Kamu dari mana sih! Lama banget sampai-sampai aku jamuran loh menunggumu!" Sarkas Sayed.
Entah kenapa Sayed sudah sedikit risih untuk bersentuhan langsung dan berhubungan dengan Sania Mirza padahal sebelumnya ia menikmati permainannya itu.
"Apa sebaiknya aku mengakhiri hubunganku dengan Sania saja, kasihan juga jika aku hanya memberikan harapan palsu saja php kepadanya karena aku tidak mungkin menceraikan dan meninggalkan Istriku walaupun kami belum saling mencintai," Sayed membatin sembari sesekali menatap ke arah Sania bergantian dengan Sanjana yang masih sibuk memainkan gawainya tanpa peduli dengan kedua penghuni mobil lainnya.
__ADS_1
Sania menatap ke arah Sayed," Maaf! aku akan berbicara dengan Mas Sayed malam ini dan segera mengakhiri hubungan kami ini yang bisa saja membuat aku sakit hati dan kecewa untuk kedua kalinya dan aku juga lebih baik hidup berdua dengan putraku saja dari pada harus memiliki hubungan dengan suami perempuan lain," Lirihnya Sania.