Meraih Cintanya

Meraih Cintanya
Bab. 24. Keputusan Sanjana


__ADS_3

"Iya Dek! Selamat yah atas kehamilannya," timpalnya Sofia yang ikut bahagia mendengarnya.


Mereka duduk kembali saling berhadapan," usia kehamilan Nyonya sudah jalan tiga bulan, dan saya akan meresepkan obat dan vitamin yang sangat cocok dan baik untuk kamu dan calon bayinya yang insya Allah akan kembar," pungkasnya Bu Dokter Al Mairah.


Kebahagiaan yang dirasakan oleh Sanjana saat itu terasa tidak lengkap karena tidak ada sosok pria yang ia sayangi dan cintai sekaligus Papa kandung dari calon baby kembar nya itu.


"Syukur Alhamdulillah.. aku juga bisa hamil, makasih banyak ya Allah Engkau memberikan aku kesempatan dan kebahagiaan yang cukup besar karena memberiku dua sekaligus calon baby, insya Allah kurang lebih tujuh bulan lagi aku akan bertemu dengan kedua anakku," cicit Sanjana yang tak hentinya mengelus perutnya yang mulai nampak buncitnya itu.


Sofia dan Sanjana segera meninggalkan ruang perawatan dokter praktek dokter kandungan tersebut. Mereka tak hentinya bersyukur atas nikmat yang Allah SWT berikan untuk mereka.


"Jadi apa rencana kamu ke depannya karena aku yakin setelah ini kamu pasti tidak akan pulang ke tanah air dalam waktu dekat," ujarnya Sofia sambil mendudukkan bokongnya ke atas kursi tunggu pasien sambil menunggu resep obat mereka sudah selesai.


Sanjana melirik ke arah kakak sepupunya itu seraya tersenyum," untuk sementara waktu mungkin aku akan tinggal di sini sambil menunggu kelahiran bayiku, aku hanya meminta sama Mbak tolong jangan katakan kepada Sayed jika aku hamil calon anaknya dan juga aku tinggal di sini," pintanya Sanjana.


"Tapi, Nana dia berhak tahu walau bagaimanapun juga dia adalah ayah biologisnya dan juga kamu istrinya, sepatutnya ia bertanggung jawab terhadap calon anaknya," kilahnya Mbak Sofia yang menggenggam tangannya Sanjana.


"Tidak apa-apa kok Mbak, aku ingin dia sendiri yang menemukan aku dengan calon babynya, kalau memang kami masih ditakdirkan dan digariskan untuk bersatu pasti Allah SWT akan mempermudah jalan kami, jika memang hanya sampai disini jodoh kami maka mungkin itu jalan yang terbaik untuk kami berdua," imbuhnya Sanjana yang terus berusaha menahan tangisnya karena suaranya sudah bergetar seperti seseorang yang menahan laju air matanya.


Sofia memeluk tubuh adiknya itu," menangis lah jika itu bisa membuat kamu lega dan tenang tapi, Mbak minta ini saat terakhir kalinya kamu bersedih dan Mbak minta padamu jangan menangis lagi karena apa yang kamu lakukan akan berpengaruh terhadap calon baby kembar kamu," jawab Mbak Sofia yang berharap agar adiknya itu lebih sabar dan ikhlas menjalani kehidupannya.


Sanjana berusaha untuk tersenyum walaupun hatinya sedih dan kalut," insya Allah… Mbak aku akan berusaha untuk tidak bersedih lagi demi buat hati kami ini," balasnya Sanjana yang menyeka air matanya itu seraya mengelus perutnya yang sudah mulai nampak buncitnya padahal usia kehamilannya baru jalan tiga bulan itu.

__ADS_1


Sedangkan di belahan dunia lainnya, seorang pria dibuat pusing dan frustrasi karena sudah berbagai cara ia tempuh untuk mencari istrinya, wanita yang perlahan sudah ia cintai dan sayangi itu.


"Aahhh!! Tidak, kenapa aku harus kehilangan istriku! Ke mana lagi aku harus mencari keberadaanmu Sanjana!!" Teriaknya Sayed di dalam ruangan kerjanya.


Sayed terduduk di atas lantai keramik dengan posisi berlutut, air matanya terus membasahi pipinya. Baru kali ini ia mengalami namanya kehilangan sosok wanita yang sangat dia cintai dan sayangi.


Padahal dulu ia sudah pernah merasakan gimana rasanya sakit hati dan dicampakkan oleh seorang perempuan. Tetapi, apa yang dirasakan saat ini sangat berbeda dengan yang terdahulu.


"Ya Allah… maafkanlah semua dosa-dosaku ini, aku sama sekali tidak bermaksud untuk menyakiti hati wanita yang sangat aku sayangi itu," ratapnya Sayed yang sudah bersimpuh di depan meja kerjanya yang menjadi saksi kesedihannya kala itu.


Deringan hpnya membuatnya tersadar dan segera bangkit untuk meraih telponnya itu. Sayed sedikit malas dan ragu untuk mengangkat telponnya itu.


"Siapa sih yang nelpon di jam seperti ini!" Ketusnya Sayed yang memeriksa layar hpnya itu.


"Ada apa lagi kamu meneleponku, apa tidak ada kerjaan lain yang bisa kamu kerjakan selain menghubungi aku terus!!" Dengusnya Sayed.


Sayed tanpa basa-basi sedikit pun langsung menyerang orang yang menelponnya. Sarah sedikit tersentak kaget dengan teriakannya Sayed sehingga ia sedikit menjauhkan hpnya dari daun telinganya.


"Tumben Sayed seperti ini, biasanya kalau kami saling telponan pasti mengucapakan salam dulu dan juga tanyanya apa kabarnya aku! Apa semuanya sudah berubah tidak seperti dulu lagi, aku yakin perempuan itu yang sudah mengubah Sayed, tapi kedatanganku kali ini akan membuat Sayed berlutut di kakiku seperti saat kebersamaan kami yang telah lalu," batinnya Sarah yang tersenyum penuh kelicikan.


"Kalau tidak ada lagi yang harus dibicarakan aku tutup," imbuhnya Sayed lalu ingin menekan tombol merah di layar hpnya itu.

__ADS_1


"Tunggu! Aku ingin ketemu denganmu, aku tunggu kamu di kafe biasa," ujarnya Sarah lalu panggilan segera terputus.


Tersisa hanya bunyi tut.. tut saja yang mampu didengar oleh Sarah diakhir perkataannya itu.


Sarah tersenyum penuh maksud, sambil menyentuhkan sudut gawainya dengan ujung dagunya itu," aku akan melakukan segala macam cara agar anakku bisa memiliki seorang Papa dan hari ini aku akan membuat kamu menjadi papa anakku walaupun jelas-jelas anakku bukan lah darah dagingnya," cicitnya yang tertawa terbahak-bahak di dalam kamar hotel yang disewanya itu.


Sarah sebenarnya kembali ke tanah air Indonesia ke ibu kota Jakarta, ketika melihat berita di media sosial dimana Sayed Alfarizi Satya Muller termasuk salah satu pengusaha termuda dan sukses tahun ini.


Sarah tidak mengetahui jika kesuksesan yang diraih Sayed hampir 75% adalah sumbangan dari Sanjana istrinya dan juga kedua mertuanya. Sepeninggal Sanjana yang pergi tanpa pamit, Pak Alexander Agung Miller memutuskan untuk mengangkat Sayed sebagai CEO pengganti Sanjana untuk sementara waktu sebelum Sanjana pulang.


Pak Agung memutuskan dan memilih jalan itu karena melihat kemampuan, skill dan dedikasi Sayed di perusahaan selama kurang lebih sembilan tahun. Sehingga Pak Miller menjatuhkan pilihannya kepada Sayed dari pada orang lain.


Keputusan itu sudah bulat dan mutlak tidak ada satupun yang bisa mampu untuk protes, berkomentar ataupun menolak keinginan pemilik perusahaan dan saham tertinggi tersebut.


Kedua orang tuanya Sayed menerima dengan baik pilihan itu dan bersyukur karena anaknya menjadi CEO. Kedua orang tuanya hanya menyayangkan kenapa masa lalunya Sayed harus datang kembali muncul dan mengusik ketenangan kehidupan rumah tangganya yang baru saja mereka bangun. Walaupun pernikahan mereka sudah jalan satu tahun lebih.


Dukungan moril dari kedua orang tua dan mertuanya terus mengalir dan berdatangan kepadanya. Tapi mereka sama sekali tidak berniat untuk memberitahukan dimana keberadaan Sanjana sekarang.


Kedua orang tuanya menginginkan Sayed sendiri yang berusaha sekuat tenaga untuk menemukan istrinya. Mereka malah sangat bahagia setelah mendengar berita jika, mereka akan segera mendapatkan seorang cucu kembar.


Untuk keluarga Sanjana Alexandra Agung Miller anaknya adalah calon cucu yang ke-enam sedangkan dari pihak Sayed sendiri adalah calon cucu pertama mereka mengingat jika Sayed adalah anak tunggal di dalam keluarganya Satya Muller.

__ADS_1


"Untuk mengakhiri perempuan itu jalan satu-satunya adalah harus bertemu empat mata agar semuanya berakhir dengan tanpa ada lagi masalah dan penyesalan dikemudian hari,aku tahu Sarah itu karakternya gimana dan kemungkinannya ia kembali lagi karena aku sudah menjabat sebagai CEO, aku yakin dengan alasan itu lah dia kembali ke sini mencari ku! Setelah dari sana aku akan mendatangi temanku Darius karena dia cukup handal dan bisa diandalkan untuk mencari jejak istriku," Lirih Sayed dengan penuh keyakinannya.


__ADS_2