
Sayed menolehkan kepalanya ke arah Willy yang sedang menunggu keputusan Sayed seraya bermain gadget nya itu," aku saja yang berangkat sudah lama aku tidak keluar negeri lagian aku akan ke Qatar kan sekalian mau nonton final piala dunia 2022," jelasnya lalu kembali melihat ke arah luar jendela.
Willy sedikit kecewa tapi,ia teringat dengan perempuan idamannya yang sangat ia cintai itu. Jika keduanya masih punya tugas yang cukup besar juga. Willy menghembuskan nafasnya dengan cukup keras dan kasar.
"Apa kau ingin ke Qatar!" Beo Willy yang terkejut mendengar keputusan yang diambil oleh Sayed Alfarizi Satya Muller.
Sayed berjalan ke arah jendela kaca tinggi itu seperti yang sering ia lakukan jika berdua dengan istrinya. Tatapan matanya tajam hingga memandang ke arah salah satu pencakar langit yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Sayed menautkan kedua alisnya melihat reaksinya Willy Widianto Sneider yang menurutnya sedikit aneh dan berbeda.
"Will! Kamu kenapa?" Tanyanya Sayed yang kebingungan melihat reaksi yang tidak biasa yang ditujukkan oleh Willy.
Willy tersenyum cengengesan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Aku tidak apa-apa kok hanya tadi aku pikir salah dengar apa yang kamu katakan," elaknya Willy.
"Kalau gitu tolong persiapkan keberangkatanku hari ini juga karena aku ingin menonton semifinal piala dunia antara Maroko dengan Prancis," pintanya Sayed lalu kembali berjalan ke arah meja kerjanya.
__ADS_1
"Apa aku infokan segera kepada Mbak Sanjana atau biarkan saja karena percuma juga aku tanya Mbak Nana karena pasti ia akan jawab, terserah karena Qatar itu tak selebar daun kelor," gumamnya Willy.
Sayed menatap ke arah adik sepupu dari istrinya sekaligus salah satu sahabatnya itu," Heemm!! Kamu barusan ngomong apa?" Tanyanya Sayed yang masih bertanya-tanya apa yang terjadi pada asisten pribadinya itu.
"Enggak kok, aku tidak ngomong apa-apa mungkin kamu saja yang salah dengar, kalau begitu aku pamit dulu untuk persiapkan keberangkatanmu ke Qatar," kilahnya Willy yang berjalan ke arah luar meninggalkan Sayed yang masih sibuk untuk bekerja karena sore nanti ia akan terbang ke Timur Tengah.
Sanjana duduk di belakang rumahnya tepatnya di sekitar kolam renang. Ia duduk berselonjor dengan kakinya berada di dalam air. Sore itu cukup panas cuacanya. Sanjana lebih rileks akhir-akhir ini karena ia sangat bahagia setelah mengetahui dirinya akan memiliki dua calon anak sekaligus fi dalam rahimnya.
Sanjana mengelus perut buncitnya itu dengan penuh kelembutan. Hari ini bertepatan dengan pertandingan sepakbola antara Croasia melawan Argentina.
Sanjana mengalihkan perhatiannya ke arah Mbak Tuti," ada apa?" Sanjana kembali mengarahkan pandangannya ke arah dedaunan pohon yang bergoyang tertiup angin sore itu.
"Waalaikum salam, ada apa Mbak Tuti!" Imbuhnya Sanjana yang tersenyum tipis.
"Sudah jam empat sore Nona Muda, apa belum ingin bersiap ke stadion?" Tanyanya Mbak Tuti lalu menundukkan kepalanya karena takut jika ia melakukan kesalahan sedikit pun.
"Tolong bantu persiapkan air hangat untukku," pintanya Sanjana.
__ADS_1
"Baik Nona Muda, perintah akan segera saya laksanakan dan kerjakan sesuai dengan keinginannya Nona," ujarnya Mbak Tuti Lalu meninggalkan daerah kolam renang.
Sanjana berjalan meninggalkan kolam renang untuk menuju kamarnya. Ia cukup semangat untuk pergi menonton sepak bola karena dari awal sebenarnya sudah memilki rencana awal untuk ke Qatar untuk langsung menonton siaran langsung pertandingan sepakbola semi final.
Tuti segera meninggalkan Sanjana yang masih asyik menikmati santai sorenya sambil menikmati cemilan khas Qatar dengan minuman dingin sebagai teman santainya di sore hari itu.
Sanjana berjalan perlahan menuju tangga karena mengingat dia sudah hamil sehingga segala kebiasaannya yang biasa dia lakukan
Sanjana mengurangi hal tersebut.
"Apa yang dilakukan sekarang Mas Sayed, tapi siapa perempuan itu dan kenapa bisa dia dengan mudahnya ia lolos masuk ke dalam rumahnya Mas Sayed, apa jangan-jangan dia wanita yang pernah dikatakan oleh Willy jika dia adalah mantan kekasihnya Mas Sayed yah?" batinnya Sanjana seraya menaiki satu-persatu menaiki undakan tangga sambil berpegangan pada pegangan tangga.
Sanjana tidak pernah mengetahui siapa pun perempuan yang menjadi masa lalu suaminya itu. Bukannya tidak mau bertanya tapi, baginya ia tidak ingin mengungkit atau mengupas masa lalu suaminya karena Sayed juga tidak berniat untuk berbicara terbuka menceritakan kisah percintaannya di masa lalunya.
Cukup perselingkuhannya yang dilakukan oleh Sayed dengan Sania Mirza Hakim waktu itu. sehingga ia tidak punya waktu untuk menguliti dan mengorek informasi tentang siapa dan berapa banyak perempuan yang pernah berkencan dengan suaminya itu.
Sanjana Alessandra Agung Miller tidak ingin tahu dan malas untuk membuka semua itu karena baginya itu sama saja akan membuatnya sedih dan kecewa dan akan berakhir dengan rasa cemburu yang pastinya akan dia rasakan.
__ADS_1