
Mbak Tuti dan Aisyah segera berlari ke arah mobilnya dan menyuruh supir pribadi untuk mengantar mereka sambil mengikuti terus ke mana laju mobilnya Sayed.
"Saya harus segera menelpon nomor hpnya Tuan Willy dengan Nona Sofia agar mereka segera mengetahui kondisi kesehatan dari Nona Sanjana," lirihnya Mbak Titin.
"Ya Allah… maafkanlah kesalahanku untuk kedua kalinya telah melukai perasaan dan fisiknya istriku, aku tidak sengaja melakukannya, jangan biarkan terjadi sesuatu pada istriku," Batinnya Sayed Alfarizi Satya Muller yang mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi dan kadang secara tiba-tiba menurunkan laju kecepatan mobilnya karena kondisi jalan yang dilaluinya cukup padat saat itu.
Untungnya ini ke sekian kalinya Sayed datang ke tanah semenanjung jazirah Arab Qatar Doha. Sehingga ia tidak terlalu kesulitan untuk menemukan salah satu rumah sakit yang terdekat dari tempat stadion utama Al Tumama Doha Qatar.
Ada sekitar empat mobil yang mengikuti laju mobilnya Sayed. Penumpang di dalamnya harap-harap cemas dengan keadaan yang dialami oleh Sanjana dan kedua calon bayinya itu.
"Ya Allah… lindungilah Nona Sanjana dengan calon anaknya yang baru jalan lima bulan itu," cicitnya Mbak Tuti.
"Semoga saja ibu dan calon bayinya dalam keadaan yang sehat dan tidak terjadi sesuatu padanya," gumamnya Mbak Aisyah.
Sedang Mbak Yani Titin sesekali mengelus punggung tangannya Sanjana Alexandra Agung Miller agar segera tersadar dari pingsannya itu.
__ADS_1
"Wajahnya Nona Sanjana semakin pucat, ya Allah… apa yang terjadi padanya," lirihnya Mbak Titin.
Beberapa menit kemudian, mobil mereka sudah sampai di depan rumah sakit swasta yang ada di Doha Qatar yang cukup jauh dari stadion Al Tumama.
"Perawat! Dokter! Tolong istriku!" Teriak Sayed seraya menggendong istrinya dengan bersusah payah membawa tubuh istrinya yang cukup semakin berat saja.
Beberapa Perawat yang melihat Sayed segera bertindak untuk mendekati Sayed dan membantunya.
"Ya Allah… kenapa berat tubuhnya istriku serasa semakin besar yah padahal baru kurang lebih dua bulan tidak ketemu, apa karena mungkin ia hamil yah!" Gumam Sayed sembari menggelengkan kepalanya yang sempat-sempatnya berfikiran seperti itu disaat istrinya yang sedang tidak sadarkan diri itu.
"Naikkan ke sini tubuhnya istri Bapak!" Pintanya salah satu dari perawat yang berlarian ke arah Sayed sambil mendorong bangkar rumah sakit.
"Maaf," balasnya Sayed yang sesekali menghembuskan nafasnya dengan cukup kasar.
"Sabar yah Tuan Muda semoga Nona baik-baik saja beserta calon bayi kembarnya," bujuk Mbak Aisyah yang kebetulan berdiri di samping Sayed.
__ADS_1
Sayed yang mendengar perkataan dari Mbak Aisyah cukup terkejut dan keheranan," bayi kembar!" Beonya Sayed.
"Iya Tuan, insya Allah… kalian akan segera memiliki anak kembar tapi, jenis kelaminnya belum tahu, katanya Nona biar menjadi kejutan saja nantinya," jelas Mbak Titin yang ikut menimpali percakapan keduanya.
"Syukur Alhamdulillah… makasih banyak ya Allah… aku akan segera jadi Papa, hore…. aku akan memiliki dua anak langsung!" Pekiknya Sayed seraya berdiri dari posisi duduknya itu dengan senyuman yang selalu tersungging di bibirnya setelah mendengar kabar baik jika istrinya mengandung dua janin sekaligus.
Mbak Tuti diam-diam menghubungi nomor hpnya Willy Widianto Sneider agar ia tahu apa yang terjadi dengan kondisi dari Sanjana. Sofia pun sudah ditelpon oleh Mbak Tuti dan katanya informasi terakhir mereka sudah di jalan menuju salah satu rumah sakit swasta yang ada di Doha Qatar.
Suara ketukan hak sepatu bersentuhan dan bergesekan dengan lantai keramik meramaikan suasana di sepanjang koridor rumah sakit swasta tersebut yang mereka lewati. Mereka berjalan tergesa-gesa karena sangat khawatir dan mencemaskan keadaan dari anggota keluarga mereka.
"Tuti! Apa yang terjadi dengan Sanjana?" Tanyanya Sofia Andita Thompson Lie.
"Sanjana tadi pingsan mungkin pengaruh cuaca yang cukup panas dan juga karena kelelahan," jawab Sayed yang mendahului Mbak Tuti untuk berbicara menjawab pertanyaan dari Sofia saudara sepupunya Sanjana.
Sofia mengalihkan perhatiannya ke arah suara pria yang belum pernah ia dengar karena ketika Sanjana menikah ia tidak bisa sempat hadir karena saat itu ia baru saja sekitar dua hari telah melahirkan anak keduanya itu.
__ADS_1
Sofia tersenyum ramah," Apa kamu Sayed, suaminya Nana?"
Sayed menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan perkataan dari mulutnya Sofia," benar sekali saya suaminya yang bego dan tolol telah membiarkan wanita lain datang ke dalam kehidupan rumah tangga kami dan akhirnya mampu merusak kebahagiaan kami," sesalnya Sayed dengan ketusnya.