Meraih Cintanya

Meraih Cintanya
Bab. 61


__ADS_3

Kebahagiaan terpancar dari raut wajahnya Pak Hasan dan Bu Siti Aminah karena di dalam anggota keluarganya bertambah dan sejak kehadiran Muller di dalam kehidupan mereka, kehidupan, rezeki dan kenyamanan semakin mereka rasakan.


Pak Hasan tak henti-hentinya bersyukur kehadirat Allah SWT atas segala nikmatnya yang ia dapatkan dan keluarganya juga.


Kedatangan Muller ke dalam hidupnya mereka seolah membawa berkah yang tidak terkira. Pak Hasan dan Bu Siti Aminah malah mengangkat Muller sebagai anak angkatnya dan juga mulai memasukkan namanya Muller kedalam kartu keluarganya sebagai anggota keluarganya yang sah di mata umum, negara dan pemerintah.


"Di KTPnya tertulis namanya S terhapus sebagian dan yang terakhir tertulis namanya Muller Pak," ujar Bu Siti yang memegang sebuah kartu tanda penduduk seraya membolak-balik kartu itu.


"Muller," beonya Ridwan.


"Betul sekali mulai detik ini kita panggil dia Muller, gimana?" Tanya Pak Hasan Ishaaq.


"Setuju Abang, saya sangat setuju," balasnya Bu Siti Aminah


Mulai saat itu pria yang ditolongnya dipanggil dengan sebutan nama Muller. Dua bulan kemudian barulah kondisi kesehatan Muller sudah kembali sembuh dan pulih total.


Setiap hari mereka melaut untuk mencari ikan, kecuali kalau kondisi cuaca, ombak dan laut yang tidak memungkinkan membuat mereka berhenti sejenak untuk mencari nafkah.

__ADS_1


Rumah keluarga pak Hasan pun sudah tidak seperti dulu lagi. Sekarang kondisi bangunan-bangunan sudah membaik dari sebelumnya sehingga hujan badai pun sama sekali tidak masalah. Mereka tidak akan kedinginan lagi karena bangunan yang kokoh dan kuat itu.


Lima tahun kemudian, Muller sore baru saja mengambil semua ikan hasil jemurannya. Ia terduduk di balai-balai belakang rumahnya sambil memandangi ombak yang bergelombang bergantian menerpa bibir pantai.


"Ya Allah… siapa wanita yang akhir-akhir inihadir dalam mimpiku, padahal aku sudah berkeliling desa mencari sosok wanita itu, tapi sama sekali tidak ada yang mirip dengannya," batinnya Muller yang pandangannya selalu tertuju pada laut yang kadang tenang kadang beriak.


Faqih dan Faizah sudah duduk di bangku sekolah menengah atas. Faqih kelas sebelas sedangkan Faizah kelas sepuluh.


"Abang!!" Teriaknya Faqih yang berlarian ke arah dalam rumahnya sambil mencari sosok pria yang dianggapnya sebagai abangnya sendiri.


Pak Hasan Ishaaq dan Bu Siti Aminah yang mendengar dan melihat langsung apa yang dilakukan oleh putera satu-satunya itu menatap dengan keheranan.


Faqih segera menghentikan laju larinya segera karena kalau bapaknya berbicara dengan nada suara seperti itu berarti beliau tidak menyukai perbuatannya. Faqih hanya tertawa cengengesan menanggapi perkataan dari mulut bapak nya itu.


"Itu… ehh itu Pak Abang Muller ada di mana saya ingin bertemu dengannya," jelas Faqih yang mulai serius.


"Kenapa dengan abangnmu apa yang terjadi padanya?" Tanyanya Pak Hasan yang segera menghentikan kegiatannya siang hari itu.

__ADS_1


Pak Hasan menatap istrinya yang keheranan melihat faqih yang langsung terdiam sejenak karena kembali salah tingkah karena sudah membuat bapaknya khawatir.


"Ehh gini pak Abang tidak apa-apa kok hanya saja saya ingin memberitahukan kepada Abang kalau sekolahku terpilih dan lolos ke Ibu kota Jakarta mewakili kabupaten Kotawaringin Sampit Kalimantan Timur Bapak!!" Teriaknya Faqih yang sangat antusias menyambut berita itu.


Pak Hasan sedikit tidak percaya dengan kenyataan itu karena selama ini Muller lah yang menjadi pelatih khusus untuk putranya berlatih.


"Apa!! Apa kamu serius Nak!?" Tanyanya Pak Hasan Ishaaq yang sudah tidak sabar mendengar perkataan dan penjelasan dari putra sulungnya itu.


Faqih menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan dan membenarkan perkataan dari bapaknya itu.


"Syukur Alhamdulillah putraku ini berita yang sangat menggembirakan dan luar biasa, selamat Nak usaha kalian tidak sia-sia belaka," imbuhnya Pak Hasan seraya memeluk tubuh putranya itu dengan penuh bangga dan bahagia sembari memukul pelan pundaknya faqih yang tingginya lebih tinggi dari bapaknya itu.


"Kalau gitu aku ke belakang dulu Pak,mau infokan pada Abang kalau saya akan ke Jakarta satu minggu lagi," jelasnya Faqih yang tidak berhenti untuk tersenyum sumringah.


"Pergilah Nak, Abang kamu pasti sangat bahagia mendengarnya," ujarnya Pak Hasan Ishaaq yang memprediksikan putranya itu untuk pergi menemui anak angkatnya.


Kebahagiaan tidak selamanya dilihat dari segi banyaknya materi dan harta yang Kamu miliki, tapi bagaimana Kamu bisa membuat dan melihat senyuman yang tercipta dari orang-orang yang Kamu sayangi.

__ADS_1


Kamu tidak akan menemukan kebahagiaan jika terus menuntut kesempurnaan. Syukuri apa yang kamu miliki, maka di sana akan kau temukan kebahagiaan.


Kebahagiaan tidak menghampiri mereka yang memiliki segalanya, namun kebahagiaan akan menghampiri mereka yang berterus bersyukur atas nikmatnya.


__ADS_2