
Sanjana segera bersiap ke stadion karena akan menyaksikan pertandingan antara Croasia melawan Argentina. Dengan memakai hijab berwarna biru muda dan senada dengan pakaian seragam Argentina.
Sanjana berputar di depan cermin sambil memperhatikan tubuhnya yang merasakan bobot tubuhnya bertambah naik khusunya di bagian depan khusus perutnya.
"Perutku sudah besar padahal baru jalan tiga bulan,apa karena aku mengandung dua anak sekaligus yah," gumamnya Sanjana Alexandra Agung Miller.
Cukup perselingkuhannya yang dilakukan oleh Sayed dengan Sania Mirza Hakim waktu itu. sehingga ia tidak punya waktu untuk menguliti dan mengorek informasi tentang siapa dan berapa banyak perempuan yang pernah berkencan dengan suaminya itu.
Sanjana Alessandra Agung Miller tidak ingin tahu dan malas untuk membuka semua itu karena baginya itu sama saja akan membuatnya sedih dan kecewa dan akan berakhir dengan rasa cemburu yang pastinya akan dia rasakan.
Sanjana menuju ke stadion bersama beberapa asisten rumah tangganya. Ada Mbak Tuti, Mbak Titin dan juga Mbak Aisyah.
"Apa kalian sudah siap berangkat?" Tanyanya Sanjana ketika melihat semua assisten rumah tangganya yang sudah berjejer rapi menantinya di depan pintu.
"Kami siap Nona Muda, siap membela Argentina!" Pekik Titin.
"Kamu semangat banget deh! Mentang-mentang Argentina yang akan main!" Ketusnya Mbak Tuti.
Sanjana hanya memperhatikan interaksi ketiga asisten rumah tangganya itu yang orang asli Indonesia.
"Harus dung, Argentina gitu loh, karena aku yakin Argentina akan taklukkan Kroasia tanpa ampun," ujarnya Mbak Titin lagi.
"Apa kalian masih mau di sini atau mau ikut aku!" Gerutu Sanjana.
"Ikut Nona!" Teriak mereka lalu berlari kecil ke arah parkiran mobil karena Sanjana sudah berada di dalam mobilnya dengan duduk manis sambil memainkan hpnya.
Sanjana hanya tersenyum menanggapi sikap dari ketiga perempuan yang masih memilih hidup lajang itu. Ketiga perempuan itu, masuk ke dalam mobil yang terparkir di belakang mobilnya Sanjana. Hanya butuh beberapa menit saja, mereka sudah sampai di stadion Al Tumama Doha Qatar.
__ADS_1
"Syukur Alhamdulillah… akhirnya sampai juga" cicitnya Sanjana dengan pakaian atribut lengkap memakai pakaian tim nasional Argentina.
"Ini Nona tiketnya sudah kami beli," ujarnya Mbak Aisyah dengan Mbak Titin yang kebetulan dari memesan tiket untuk mereka.
Tempat duduk mereka tidak jauh dari tempat gawang Argentina. Sehingga mereka bisa menyaksikan dengan jelas pertandingan tersebut. Sorak sorai penonton terlihat dan terdengar jelas dari semua tribun penonton.
Begitu juga dengan ke empat perempuan tersebut. Ketika Messi mencetak gol kedua untuk negaranya Argentina semakin dibuat bergemuruh lah stadion tersebut. Kebahagiaan jelas terpancar dari wajah para pemain dan kru serta pendukung tim sepakbola negara Argentina ketika melesatkan gol ketiganya.
Mereka sudah memastikan satu tempat tiket di final dan menunggu hasil semi final lainnya antara Prancis melawan Maroko satu-satunya negara wakil dari benua Afrika itu.
Sedangkan di tanah air, Willy sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk mengantar Sayed hingga ke bandara. Sayed memilih berangkat hanya berdua dengan supirnya hingga ke terminal keberangkatan.
"Apa yang kamu lakukan sekarang, aku sangat merindukanmu," Lirihnya Sayed sebelum memejamkan matanya menuju alam mimpi karena perjalanan masih jauh ke Qatar.
Willy berdiri di depan jendela ruangan kantornya. Willy kembali teringat sekitar lima tahun silam. Ketika dalam keadaan sadar tanpa pengaruh apapun meminta sesuatu yang sangat penting dan sulit seorang gadis berikan.
Malam itu menjadi saksi penyatuan dua insan anak manusia yang tidak terikat oleh ikatan apapun termasuk ikatan pernikahan. Perempuan itu adalah Sarah Sechan Wijayanto yang menjadi perempuan yang berhasil ia perawanin. Mereka melakukan atas dasar keinginannya sendiri.
Bukan hanya satu kali kegiatan panas mereka lakukan hingga Sarah menjadi kekasihnya Sayed dan juga Alex, Willys masih sering diam-diam bertemu dengan Sarah. Dan setiap kali mereka bertemu pasti hubungan terlarang itu terjadi.
"Aku harus segera melakukan tes DNA pada Angel karena aku yakin Angel bukanlah putrinya Alex dan jelas-jelas bukan putrinya Sayed, walaupun kehidupan kamu seperti itu dulu, tapi rasa cintaku dan sayangku tidak akan pernah pudar hingga kapan pun selama aku masih bernafas insya Allah cintaku hanya untukmu Sarah hingga akhir waktu, walaupun dunia menolak akan aku katakan pada semua orang jika aku sangat mencintaimu Sarah!"
Willy segera bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah luar," Sania tolong tangani beberapa berkas ini setelah selesai kamu boleh pulang," pintanya Willy sambil melihat jam tangannya tersebut.
Sania yang sebenarnya sudah bersiap pulang terpaksa harus menunda kepulangannya. Tidak mungkin juga ia menolak perintah dari atasannya itu dan lagian bonus besar telah menantinya jika ia menyelesaikan pekerjaannya malam itu.
"Bagaimana ini, pasti Abang Galang akan marah jika aku harus terlambat pulang lagi," ketusnya Sania Mirza kekasihnya Sania Mirza Hakim yang sudah hampir dua bulan ini mereka bina.
__ADS_1
Walaupun Sania dalam keadaan berbadan dua, pergerakannya dalam bekerja sama sekali tidak terganggu oleh aktifitasnya itu. Kondisinya perutnya yang sudah hamil jalan dua bulan itu malah seperti biasa saja layaknya orang yang tidak hamil saja.
Sania dan Galang Aryanta Martadinata sudah menikah siri sekitar dua minggu lalu ketika ia mengetahui jika Sania hamil anak keduanya itu tanpa hubungan pernikahan padahal mereka sudah dikaruniai anak cowok yang berjenis kelamin laki-laki dengan usianya sudah menginjak usia lima tahun itu.
Galang memilih untuk menikahi Sania secara siri karena belum mendapatkan lampu hijau dari kedua orang tuanya dikarenakan sejarah kelam masa lalunya Sania yang pernah menjadi selingkuhannya Sayed beberapa bulan. Hal itu lah yang menyebabkan Pak Luis Abimanyu Martadinata dengan istrinya Ibu Marissa Mayer Martadinata menentang hubungan mereka untuk saat ini.
"Semoga saja Abang tidak ngomel-ngomel jika mengetahui aku pulang terlambat lagi," cicit Sania yang semakin mempercepat pekerjaannya.
Beberapa jam kemudian, pekerjaan yang diberikan oleh Willy untuknya juga sudah finishing dan selesai tepat waktu. Sania berdiri lalu merentangkan kedua tangannya ke atas.
"Alhamdulillah… akhirnya selesai juga pekerjaannya,ini sih gara-gara Pak Sayed yang pergi ke luar negeri," gumamnya Sania.
Sania membereskan semua perlengkapannya ke dalam laci meja kerjanya. Tapi, tangannya terhenti ketika ada tangan kekar yang melingkar di pinggangnya secara posesif itu. Sania tersenyum bahagia karena sangat jelas mengetahui siapa orang yang memakai parfum seperti itu.
"Abang! apa sudah lama menungguku?" tanyanya Sania yang berusaha menahan rasa geli karena tangannya Galang sudah menelusup ke dalam pakaian terdalamnya.
"Saya sudah tidak sabar menunggu kamu pulang, karena Abang ingin bertemu dengan calon adiknya Asraf Al-Fayed Dirgantara," imbuhnya Galang yang kedua bola matanya sudah berkabut gairah itu.
Sania membalik tubuhnya agar bisa berhadapan langsung dengan Galang suaminya.
"Aku juga merindukan kamu sayang, aku sudah tidak sabar ingin kamu belai di sini," ucapnya Sania sembari menunjuk ke salah satu anggota tubuh paling sensitif nya itu.
Galang tersenyum penuh kemenangan karena apa yang diinginkannya juga ternyata apa yang dirasakan oleh istrinya sama halnya dengan apa yang sedang mendera tubuhnya itu. Sania segera menarik tangannya Galang masuk kedalam ruangan pribadinya Sayed.
"Kita mau kemana?" tanyanya Galang yang sudah menggendong tubuhnya Sania dengan ala bridal style.
"Ada di dalam ruangan pribadi yang sering dipakai oleh Sayed bersama istri Sanjana bagaimana kalau hari ini kita pinjam dulu, aku yakin mereka pasti tidak akan keberatan kita pakai untuk menjenguk calon anakmu!" imbuhnya Sania yang semakin gencar menggoda Galang.
__ADS_1