Meraih Cintanya

Meraih Cintanya
Bab. 49


__ADS_3

Perut Sanjana semakin mengalami kontraksi. Dia segera dilarikan secepatnya ke rumah sakit. Pak Farid Alexander Agung Miller dengan istrinya Bu Ratih Magdalena Miller pun sudah berada di jalan menyusul rombong Mbak Tuti yang baru saja sampai di loby depan rumah sakit.


Pak Farid menyentuh punggung tangannya istrinya itu dan berusaha menenangkan diri istrinya sendiri," Sayang, perbanyak berdoa dan insya Allah... mereka akan baik-baik saja dan putri kita akan melahirkan dengan selamat begitupun juga dengan anak kembarnya," jelas Pak Farid yang berusaha memberikan nasehat agar Istrinya bisa sabar dan tenang menghadapi persalinan anak tunggal mereka.


"Aku juga seperti yang kamu rasakan, entah kenapa ada perasaan aneh yang tiba-tiba muncul dalam hati, benak dan pikiranku tentang Sanjana dan Sayed, hari ini kan Sayed berangkat ke Singapura," Pak Farid membatin.


Semua perawat yang sore itu berjaga segera berlari menuju pintu masuk ketika melihat kedatangan Sanjana beserta beberapa asisten rumah tangganya dan juga supirnya serta yang lainnya. Mereka berjumlah sekitar enam orang yang mengantar Sanjana Alexandra Agung Miller.


"Ya Allah… semoga Nona Muda bisa melewati semua ini dan anak dan beliau selamat," batinnya Mbak Titin kharisma yang ikut mendorong bangkar rumah sakit yang diatasnya sudah berbaring lemah Sanjana yang terus mengeluh kesakitan.


"Ingat Allah SWT Nona, teruslah beristigfar dan berzikir insya Allah… semuanya akan dipermudah atas ijin Allah SWT," jelasnya Mbak Annisa yang sudah memiliki pengalaman sekali untuk melahirkan.


Sanjana menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan perkataan dari Mbak Annisa, "Ya Allah… apa hari ini aku harus melahirkan tanpa kehadiran Mas Sayed disisiku?" Batinnya Sanjana yang sedikit sedih dan kecewa karena suaminya tidak ada di sisinya.


Bangkar sudah di dorong ke dalam kamar persalinan. Semua orang yang menemani Sanjana tidak boleh ada yang ikut masuk ke dalam kamar ruangan bersalin. Semuanya menunggu di depan pintu masuk dan berdiri menunggu dengan penuh harap-harap cemas dengan kondisinya Sanjana.


Berselang beberapa menit kemudian,satu persatu anggota keluarganya sudah berdatangan termasuk ibu dan ayah mertuanya dari Kota Bandung.

__ADS_1


"Mbak Titin bagaimana dengan anak menantu kami?" Tanyanya Bu Siska sambil memegang tangannya Mbak Titin Kharisma yang kebetulan berdiri di dekatnya pintu masuk yang tertutup rapat.


"Baru saja Nona Sanjana masuk kami belum tahu apa sudah melahirkan apa belum karena sebelum didorong masuk ke dalam air ketubannya Nona sudah pecah Bu Siska," ujarnya Mbak Titin yang tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya itu di depan orang-orang lain.


Suara ketukan dan hentakan kaki diatas lantai keramik begitu jelas terdengar. Dari suaranya sudah sangat jelas jika, orang itu berjalan dan sedikit berlari dengan terburu-buru hingga koridor rumah sakit yang dia lewati cukup bising dan ramai.


Semua orang menundukkan kepalanya dan sedikit membungkuk kehadapan ke-dua orang tua yang baru datang itu. Pak Farid segera mendatangi besannya sekaligus sahabat kecilnya Pak Farhan Hamid Fathanah dengan istrinya bu Siska.


Mereka saling berangkulan dan berjabat ala sahabat lama yang baru bertemu," gimana kabarnya Abang?" Sapanya Pak Farid papanya Sanjana.


"Alhamdulillah seperti yang kamu lihat dan aku sangat bahagia hari ini karena tidak lama lagi aku akan menggendong cucu pertamaku," imbuhnya Pak Farhan dengan senyuman kebahagiaannya.


"Aku sudah mengabari Sayed untuk segera pulang menemani istrinya, aku sudah perintahkan anak buahku yang lain untuk menggantikan posisinya di Singapura," jelasnya Pak Farid.


"Iya kasihan Sanjana jika Sayed tidak pulang walaupun harus terlambat datang," pungkasnya Pak Farhan.


Sedang para emak-emak dan Ibu-ibu sama sekali tidak saling berbicara banyak hanya sekedar saling sapa apa adanya karena keduanya cemas menanti kelahiran cucu pertama mereka dalam masing-masing keluarganya.

__ADS_1


Hingga suara hentakan sepatu bergesekan dengan lantai menuju tempat mereka. Willy dan Dimas berlari seolah mereka sedang adu lomba lari saja. Hingga Pak Farid menatap tajam ke arah mereka. Nafas keduanya ngos-ngosan serta anak buahnya yang juga ikut brerlarian di belakangnya.


"Apa kalian melupakan jika di sini adalah rumah sakit?!" Sarkasnya Pak Farid yang menatap tajam ke arah segerombolan anak muda itu.


"Ya Allah… bagaimana caranya aku menyampaikan berita ini kepada Tuan Besar dan juga yang lainnya," batinnya Willy yang baru ingin berangkat ke Singapura untuk menggantikan posisinya Sayed Alfarizi Satya Muller.


Hanya deru nafas mereka yang terdengar di tempat itu, mimik wajah mereka menyiratkan sesuatu masalah besar telah terjadi.


"Apa ada yang bisa berbicara dan menjelaskan kepadaku apa yang terjadi pada kalian harus datang semua ke sini! Saya tidak perintahkan kalian ke sini tapi, harus ke Singapura untuk gantiin Sayed!" Geramnya Pak Farid yang sudah menunjukkan sifat sangarnya di hadapan semua orang sehingga mereka tidak ada yang berani berbicara dan menatap intens ke arah Pak Farid.


"Pesawat Tuan Muda Sayed kecelakaan!" Jawabnya Dimas dengan lantang karena Willy sama sekali tidak mampu untuk membuka mulutnya agar berbicara tentang kondisi Sayed.


"Apa!!!' teriaknya Bu Siska ibundanya Sayed.


Teriakan tidak percaya dan tangis haru dan pilu dari orang-orang bersamaan dengan tangisan bayi yang terdengar dari dalam kamar bersalin.


"Oek… Oek…!"

__ADS_1


__ADS_2