Meraih Cintanya

Meraih Cintanya
Bab. 56. Korban Tenggelam


__ADS_3

Faizah sering dipanggil Icha oleh kedua orang tuanya dan juga teman sepermainannya di kampungnya itu, "Icha panggil beberapa orang ke sini untuk membantu bapak kasihan bapak tidak sanggup untuk mengangkat tubuhnya bapak ini!" Perintahnya Bu Siti yang meminta tolong pada putrinya.


Beberapa menit kemudian, Faizah sudah kembali dari memanggil beberapa tetangga yang kebetulan berada di sekitar area pantai. Nafas anak kecil itu ngos-ngosan karena kecapean berlari.


"Apa yang terjadi Pak Hasan?" Tanyanya seorang bapak yang memakai baju kaos lengan panjang lebar.


"Apa yang terjadi di sini, kenapa orang-orang pada ribut?" Tanyanya Pak RT yang baru saja datang karena mendengar informasi dari beberapa warga masyarakat yang katanya Pak Hasan menemukan seseorang yang tenggelam.


Pak Hasan Ishaaq segera menjelaskan awal kejadiannya. Mereka terlebih dahulu menyelamatkan pria korban tenggelam ke rumahnya Pak mantri.


"Bagaimana dengan kondisinya pria itu Tuan Dokter?" Tanyanya Bu Siti Aminah yang masih memakai pakaian basahnya sedari tadi hingga tubuhnya mulai kedinginan dan menggigil.


"Alhamdulillah berkat bantuan dan ijin Allah SWT kita bisa menyelamatkan nyawanya walaupun kondisinya sekarang masih belum stabil," jelasnya Pak Anwar Zahid selaku dokter besar di kampung itu.


Pak Hasan mengelus kumisnya yang cukup panjang, "Syukur Alhamdulillah… kalau Pria itu bisa diselamatkan Tuan Dokter!" Jawabnya Pak Hasan Ishaaq yang baru bisa bernafas lega karena masih sanggup menyelamatkan nyawa orang lain yang membutuhkan bantuan.


"Kalau gitu saya permisi dulu karena masih ada pasien yang harus ditangani secepatnya," ujar Pak Tuan Dokter.


Semua orang tersenyum bahagia karena bisa berhasil menyelematkan pria tersebut. Terutama pak Hasan dan Bu Siti serta kedua anaknya Faizah dan Faqih yang masing-masing baru duduk di bangku sekolah dasar kelas lima dan empat itu tapi, sudah sering turun tangan langsung membantu bapak dan Ibunya menangkap ikan.


Pak Budi selaku Pak RT cukup bangga dan bersyukur memiliki salah satu warganya yang memiliki kepedulian yang tinggi untuk menolong orang lain walaupun kondisinya juga cukup serba kekurangan.

__ADS_1


Mereka berjalan ke arah bagian depan klinik untuk duduk di kursi panjang yang khusus disediakan untuk para pengunjung klinik baik untuk pasien maupun keluarga pengantar. Mereka mendudukan diri masing-masing.


"Makasih banyak Pak Budi sudah menolong pria yang kita tidak tahu asal usulnya, perbuatan Pak Hasan patut diteladani dan dicontoh oleh masyarakat lainnya," imbuhnya Pak Budi di depan beberapa warganya yang turut hadir untuk membantu dan melihat secara langsung kondisi dari pria malang itu.


"Sama-sama pak, kalian tidak perlu berterima kasih kepada kami karena semua yang terjadi di sini atas naluri kami sebagai manusia untuk saling tolong menolong dalam kebaikan, lagian pertolongan kami ini tanpa membutuhkan uang sedikit jadi saya bisa dengan mudah melaksanakan dan melakukannya, coba pakai uang aku mau ambil dimana Pak," jelasnya Pak Hasan Ishaaq yang sedikit bergurau.


"Kalau begitu Bapak dan Ibu silahkan pulang untuk ganti pakaian kalian, karena kalau dibiarkan terus seperti ini bisa-bisa kalian juga masuk angin," ujarnya Mbak Santi salah satu perawat yang membantu Pak Tuan Dokter Anwar.


"Tapi, kalau kami pulang siapa yang akan menjaganya? Pria ini kasihan belum diketahui asalnya dari mana, apa korban kapal tenggelam, pesawat terbang yang jatuh atau korban pembunuhan," ucapnya sendu Pak Hasan.


"Kalau masalah itu untuk sementara waktu disaat bapak Hasan dan Ibu Siti pulang, saya yang akan membantu bapak untuk menjaganya lagian kondisinya belum sadarkan diri jadi tidak akan merepotkan kami disini," ungkap Perawat itu yang melihat keraguan dan kegelisahan yang terpancar dari raut wajah kedua pasangan suami istri itu yang terkenal kebaikan karena suka menolong orang yang kesusahan.


"Baiklah karena Mbak yang meminta kami maka kami bisa tenang untuk pulang karena masih ada juga kerjaan yang belum kami selesaikan juga, tapi kami tidak merepotkan kan Mbak?" ucapnya polos Bu Siti.


Mereka sudah memutuskan untuk pulang terlebih dahulu ke rumahnya karena, pekerjaannya untuk menangkap ikan tertunda beberapa saat karena gara-gara pria yang ditemukan di dalam salah satu kailnya.


Kedua pasangan suami istri pulang terlebih dahulu ke rumahnya bersama kedua anaknya yaitu Muhammad Faqih Hasan dan juga Nur Faizah Hasan.


Mereka dari rumahnya ke klinik Tuan Dokter berjalan kaki saja karena sepeda tidak mungkin mereka pakai jika mereka bepergian empat orang sekaligus.


"Istriku apa kamu llelah?' tanyanya Pak Hasan sambil menikmati perjalanannya itu.

__ADS_1


Seperti itulah panggilan Pak Hasan untuk Istrinya jika mereka hanya berempat saja tanpa ada orang luar yang bergabung dengan mereka.


Bu Siti menatap ke arah suaminya yang sudah ia nikahi sekitar 13 tahun lalu itu," tidak kok pak,masa perjalanan seperti ini saja sudah buat kami kelelahan," tampiknya Bu Siti dengan senyuman yang merekah disudut bibirnya itu.


"Kalau kalian Nak gimana?" Tanyanya lagi pak Hasan sekarang giliran pada kedua anaknya itu yang membuat pak Hasan terenyuh melihat apa yang dilakukan oleh kedua putri putranya itu.


Pak Hasan Ishaaq dan Bu Siti Aminah saling berpandangan satu sama lainnya karena melihat kedua anaknya menelan air liurnya melihat beberapa makanan yang terpajang di etalase salah satu warung makan yang dilaluinya itu.


Bu Siti segera memeluk kedua anaknya itu," insya Allah… kalau bapak sama ibu punya uang kita akan makan di sana yah!" Tuturnya Bu Siti yang berusaha untuk membujuk kedua anaknya itu agar segera kembali berjalan.


Pak Hasan menyeka air matanya itu, karena sudah hampir lima tahun terakhir ini mereka selalu menjanjikan hal seperti itu di depan anaknya sejak warung Padang itu berdiri di kampungnya.


"Ya Allah… andai aku bisa pasti aku akan belikan anakku walaupun satu bungkus makanan saja, tapi untuk beli setengahnya saja kami untuk saat ini sama sekali tidak punya uang karena hasil tangkapan ikan sudah hampir lima bulan selalu sedikit dan harganya turun di tempat pelelangan ikan," batinnya pak Hasan.


"Aku sudah sering bilang sama mereka bahkan sudah berulang kali juga, mungkin anak-anakku sudah bosan mendengar perkataan kami ini," Bu Siti membatin.


Dengan berat hati kedua bocah kecil itu meninggalkan halaman depan warung makan itu dengan kedua matanya yang berkaca-kaca.


Keluarga kecil Pak Hasan Ishaaq sudah terkenal dengan kemurahan hati dan kebaikannya bahkan karena ketulusannya itu. Mereka sering mendapatkan pujian dan juga tidak banyak mendapat cibiran dan hinaan dari beberapa orang yang mungkin cemburu kepada kebaikan dan keikhlasannya.


Kadang ada juga yang hina mereka karena katanya sok baik, sok suci,sok dermawan menolong orang lain yang kesusahan padahal kehidupan mereka sendiri sudah cukup memprihatinkan juga.

__ADS_1


Tapi, bagi pak Hasan sekeluarga kebahagiaan setiap orang itu relatif berbeda-beda. Mungkin banyak yang mengatakan dan menganggap jika banyak uang itu baru bisa dikatakan bahagia padahal,hal itu tidak menjadi jaminan akan kebahagiaan seseorang.


__ADS_2