Meraih Cintanya

Meraih Cintanya
Bab. 53


__ADS_3

"Iya benar apa yang dikatakan oleh Mama mertuamu Nak! Kami tahu pasti kamu ingin melihat anak kembarmu kan!' tebak Bu Ratih yang berusaha untuk menutupi kenyataan yang ada walaupun kedua hati dan perasaannya mereka sedang berduka dan sedih tapi, mereka berusaha untuk tidak menampakkan di hadapan Sanjana.


Nyonya Ratih dan besannya Bu Siska saling bertatapan satu sama lain dengan seolah menuntut jawaban apa sudah saatnya Sanjana mengetahui semuanya sekarang saja atau menundanya hingga beberapa hari kedepannya untuk melihat kondisi kesehatan dari Sanjana terlebih dahulu.


"Sayang! Pasti kamu menunggu dan mencari anak kembarmu kan?" Imbuhnya Bu Siska yang sambil menggendong cucu perempuannya untuk diserahkan kepada mamanya kedalam gendongan dan pangkuannya Sanjana karena selama lahir keduanya di dunia ini baru sekali mereka berada dalam pangkuannya Sanjana ketika bayinya ditaruh di atas tubuhnya Sanjana untuk inisiasi dini.


"Aku sangat bahagia Mama, pasti yang kalian rasakan sama dengan yang aku rasakan saat ini," ujarnya Sanjana yang tersenyum penuh kebahagiaan sambil mulai menyusui anak keduanya itu.


"Papa sudah memberi mereka nama namanya Yardan dan Yasmine,apa kamu senang sayang?" Ucapnya Bu Ratih yang sedari tadi berusaha untuk mengalihkan perhatiannya Sanjana dari hpnya.


"Nama yang sungguh cantik dan bagus seperti kedua anakku yang cantik dan ganteng," pujinya Sanjana seraya mengelus pipi tembem dan chubby milik Yardan.


"Kalau gitu kita tidurkan mereka of dalam bosnya karena mamanya harus makan siang dulu supaya memiliki tenaga untuk kuat menjaga mereka, nutrisi makanan yang sangat penting yang diperlukan oleh ibunya agar asinya lancar jadi kedua pangeran dan putri kecilnya tidak kelaparan," tuturnya ibu Siska.


Berselang beberapa menit kemudian,kedua anaknya sudah kenyang dan kembali tertidur pulas di dalam box bayinya. Mbak Tuti kembali membawa kedua bayi lucu ini ke ruangan khusus bayi.


"Mama, kok sedari tadi aku tidak menemukan hpku? Padahal aku mau nelpon Mas Sayed untuk ngabarin kalau kedua anaknya sudah lahir," terangnya Sanjana dengan raut wajahnya yang kebingungan dengan keberadaan hpnya itu.

__ADS_1


Bu Ratih dan Bu Siska saling bertatapan satu sama lainnya lalu menatap ke arah Mbak Titin Jayanti yang masih tinggal bersama mereka di dalam ruangan tersebut karena hanya Mbak Tuti dan Annisa yang mengantar kedua bayi mungil itu ke tempat semula.


"Sanjana ada yang ingin kami sampaikan kepada kamu, tapi Mama harap dan mohon dengan sangat tolong bersabar dan jangan gegabah ataupun emosi," pintanya Bu Siska sambil mengelus punggungnya Sanjana yang tertutup hijab.


Sanjana segera menatap ke arah ibu mertuanya itu," maksudnya Mama apa, kalau bisa langsung ngomongnya tidak perlu berbelit-belit," imbuhnya Sanjana dengan tegas.


Bu Ratih dan Bu Siska menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskan nafas dengan perlahan-lahan. Apa yang dilakukan oleh kedua orang tua tersebut yang masih muda diusianya itu. Ada kegelisahan, kekalutan, kebimbangan, keraguan dan ketakutan yang mendera pikiran, hati dan benaknya itu.


"Kenapa feeling aku mengatakan jika ada hal penting yang mereka sembunyikan dariku tapi, apa itu yang menurutku sangat urgen," Sanjana membatin hingga gerakan tangannya tanpa sengaja menyenggol remote control televisi.


Prang….


"Mbak apa bedanya sudah ketemu?" Tanyanya Sanjana yang menunggu Mbak Titin Jayanti yang sudah sekitar lima menit menunduk dan sedikit membungkukkan badannya untuk meraih remote tersebut tapi, belum berdiri juga.


"A-nu… i-tu…" jawabnya Mbak Titin yang tiba-tiba gagap saat menjawab pertanyaan dari Nona mudanya itu.


Bu Siska dan Bu Ratih mengetahui apa sebenarnya yang terjatuh tadi sehingga mereka bereaksi karena menurut mereka sudah menggangu aktifitasnya. Sehingga mau tidak mau memaksa Mbak Titin untuk mengangkat benda itu padahal Mbak Titin sedang mencari cara untuk menyembunyikan remote itu.

__ADS_1


"Mbak Titin! Ambil barang sekecil itu saja susahnya minta ampun, kalau sudah ketemu barangnya bawa sini!" Gerutunya Bu Ratih yang dongkol melihat tingkahnya Mbak Titin yang memberikan kode kepada Nyonya besarnya tapi, mereka malah tidak mengerti juga.


"Iya nih, tumben kerjamu lambat, apa bedanya sangat berat sampai-sampai kamu enggak bisa angkat gitu!" Ketusnya Bu Siska yang mulai jengkel.


Mbak Titin dengan terpaksa mengangkat ke atas remote tersebut tepat dihadapannya Sanjana. Dan tanpa sengaja Mbak Titin menekan tombol on dari remot itu. Hingga layar tv itu menyala secara otomatis dan menampilkan siaran swasta yang menampilkan berita penting tentang pesawat terbang dari Singapura ke Jakarta Indonesia yang jatuh di perairan Indonesia sendiri.


Hingga matanya tanpa sadar meneteskan air matanya karena tanpa sengaja melihat dengan jelas nama-nama list penumpang tersebut ada nama suaminya Sayed Alfarizi Satya Muller.


"Itu…. Itukan namanya Mas Sayed! Ini pasti ada kekeliruan aku yakin itu, kalau mereka salah rilis nama penumpang!" Ungkap Sanjana yang masih tidak percaya dan tidak ingin mempercayai kebenaran itu.


Bu Siska dan Bu Ratih nampak pucat pasi karena akhirnya rahasia besar kematian Sayed terbuka dan terungkap sudah.


"Sanjana! Mama mohon sabarlah Nak, ingat ada dua orang anakmu yang harus kamu perhatikan, apa yang terjadi pada suamimu sudah ditentukan oleh Allah SWT, jadi Mama mohon ikhlas dan kamu harus kuat menerima kenyataan ini semua," imbuh Bu Siska.


"Betul sekali apa yang dikatakan oleh Mama mertuamu, karena apa yang kamu alami kami juga ngalaminya, kami berharap semoga Sayed selamat dalam insiden kecelakaan jatuhnya pesawat boeing SJ-178 dengan maskapai tersebut, kita meski berharap dan terus berharap karena Allah selalu bersama kita semua dalam keadaan suka maupun duka dan juga Mama dan papa selalu berada disampingmu untuk melalui semua ini, jadi teruslah berdoa untuk keselamatan Sayed agar ada keajaiban datang dan mukjizat untuk suamimu," ungkap Bu Ratih yang tidak bisa menahan kesedihannya itu sehingga dengan terpaksa di depan puteri tunggalnya itu dia meneteskan air matanya kembali untuk kesekian kalinya hingga suara mereka serak basah, hidung mampet dan memerah.


"Diam!! Aku yakin itu bukan suamiku, aku yakin suamiku masih hidup dan selamat dalam keadaan yang baik-baik saja, karena Mas Sayed sudah janji padaku jika dia akan kembali berkumpul dengan kami lagi apapun yang terjadi dan berapa tahun pun lamanya aku akan menunggu kepulangan Mas Sayed, jadi stop untuk menganggap suamiku telah tiada dan meninggalkan saya istri dan kedua anaknya.!" Tegasnya Sanjana yang tidak ingin meyakini jika suaminya sudah meninggal dunia.

__ADS_1


"Sayang, putrinya Mama please! Sabarlah dan tenangkan dirimu ingat kamu itu punya dua anak yang masih bayi dan mereka sangat butuh kasih sayang dan perhatianmu terutama asi kamu jika kamu terbebani, banyak pikiran dan emosional mulu hingga akan berpengaruh kepada kualitas asimu sayang, Mama juga sangat sedih dan kehilangan tapi, ini semua sudah Sunnahtulllah Allah SWT jika semua yang bernyawa cepat atau lambat pasti akan kembali ke sang Khaliq, karena mama yakin Allah SWT tidak akan memberikan ujian ini kepada kita semua jika kita tidak mampu untuk menanggungnya semua sudah ada takarannya masing-masing," nasehatnya Bu Siska yang sebenarnya dia yang paling sedih karena putranya itu termasuk anak yang sudah sangat lama ia impikan hampir enam tahun mereka menikah barulah diberi karunia resky berupa keturunan.


__ADS_2