
Dimana ada pertemuan disitu pasti ada yang namanya perpisahan. Perpisahan itu penuh haru dan air mata, beberapa rekan sekolahnya dan juga beberapa guru serta kepala sekolah dan kepala desa turut hadir untuk turut ikut mengantar kepergian mereka.
Mereka sedih tapi sekaligus bangga karena satu-satunya putra dari desa dan juga kabupaten mewakili daerahnya yang terpilih sebagai pemain u-18. Satu kata untuk Faqih Muhammad Iqbal Ishaaq kami bangga padamu. Kejarlah cita-citamu setinggi langit hingga mampu menunjukkan pada dunia jika Indonesia bisa bersaing di kancah internasional.
"Bapak makasih banyak atas bantuannya selama ini,aku tidak mampu membalas kebaikan kalian semua yang telah menolongku, andaikan kalian tidak ada mungkin aku sudah mati mengambang di dalam lautan," ujarnya Mueller yang satu persatu memeluk tubuh Pak Hasan Ishaaq dengan Bu Siti Aminah Istrinya Pak Hasan yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri.
"Kami yang seharusnya mengucapkan banyak terima kasih karena kehadiran kamu di kampung kami membawa berkah yang luar biasa, semoga di ibu kota kamu menemukan keluargamu Nak, kami sangat berharap besar tentang itu tapi, jangan pernah lupakan kami keluarga kamu di pulau kecil ini," tuturnya Pak Hasan sambil memeluk tubuhnya Muller dengan penuh kehangatan dan kasih sayang.
Muller tersenyum smirk," insya Allah… saya tidak akan pernah melupakan kebaikan kalian dan pasti suatu saat nanti aku akan kembali ke pulau walau dalam keadaan yang berbeda," sahutnya Muller.
"Bawalah kemenangan ke bumi Pertiwi Nak,kami bangga padamu, tunjukkan pada mereka jika putra daerah mampu mengharumkan nama bangsa Indonesia," Itu ucapan terakhir yang diucapkan oleh kepala sekolahnya Faqih sebelum bis yang akan mengantar Faqih ke kota Provinsi berangkat.
Senyuman tulus dari Muller dan Faqih menutup perpisahan sementara waktu hari itu. Mereka bangga dan sekaligus sedih karena harus berpisah dengan buah hati pertamanya dan juga anak angkatnya itu.
Perjalanan yang mereka tempuh menghabiskan waktu beberapa jam,barulah mereka sampai di kota propinsi. Mereka beristirahat sekitar tiga jam baru pesawat mereka berangkat ke Jakarta.
__ADS_1
"Welcome Jakarta aku kembali lagi," gumamnya yang spontan terucap dari bibirnya ketika sudah menginjakkan kakinya di bandara Internasional Soekarno Hatta.
"Abang, Bandara di Jakarta gede banget yah beda dengan yang ada di kampung yah!" Teriaknya Faqih yang tidak bisa menyembunyikan perasaan kagum dan bangganya melihat bandara negaranya yang cukup besar dibandingkan bandara internasional sebelumnya.
Muller hanya tersenyum menanggapi perkataan dan sikap lucunya Faqih yang seumur hidupnya baru kali ini menginjakkan kakinya di Jakarta kota paling terbesar dan maju yang ada di Indonesia tanah air tercinta.
"Bang katanya kita akan dijemput setelah dari bandara," ujarnya Faqih seraya memasang tas ranselnya di punggungnya itu.
Muller hanya menunjukkan ke arah pria yang sedari tadi menunggu kedatangannya yang berdiri di depan pintu keluar kedatangan. Faqih tertawa cengengesan menanggapi perkataan dari abangnya itu.
"Ayok jalan jangan lama-lama jalannya," pintanya Muller yang menatap ke arah adik angkatnya itu.
Karena Faqih yang berjalan terburu-buru dan cukup tergesa-gesa sehingga tanpa sengaja ia menabrak tubuh seseorang yang berjalan berlawanan arah dengannya.
Brukk!!!
__ADS_1
Faqih terjatuh ke atas lantai dan pria itu hanya bergeser sedikit ke arah belakang saja. Muller yang menyadari yang menyadari jika Faqih tidak lagi berjalan d belakangnya segera menolehkan kepalanya.
"Faqih," cicitnya sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling lobi bandara.
"Itu anak kemana? Langsung menghilang begitu saja padahal ini kota besar bukan pulau kecil tempat tinggalnya kalau kesasar gimana?" Gerutunya yang sudah seperti emak-emak saja.
Muller terus mengedarkan pandangannya ke sekeliling bandara dan melihat ada beberapa orang yang berkerumun di sekitar sana. Muller segera berjalan ke sana karena ingin mencari keberadaan Faqih yang tiba-tiba menghilang itu. Muller tersenyum ketika menyadari siapa pemilik tas ransel yang sedang berdiri membelakanginya.
"Ya Allah… Faqih Abang kan sudah ngomong sedari tadi kamu tidak boleh jauh-jauh dari Abang kalau kamu ke….," Ucapannya terhenti ketika pria yang sama sekali tidak dikenalnya langsung berhamburan memeluk tubuh tegap dan atletis milik Mueller.
Faqih dan Muller dibuat terkejut dengan sikap perempuan yang sama sekali tidak dikenalnya oleh keduanya.
"Abang Sayed!!' teriaknya wanita yang memakai hijab itu yang sebelumnya mendorong stroller bayi.
Pria yang bertabrakan dengan Faqih dibuat shock dengan reaksi dari Istrinya itu. Yang paling menbuatnya terkejut adalah pria yang selama ini dinyatakan telah meninggal dunia berdiri di depan matanya sedang dipeluk oleh istrinya.
__ADS_1