
Air matanya terus menetes membasahi pipinya,hanya air matanya yang mampu ia tunjukkan. Serasa mulutnya tak mampu berucap sepatah katapun. Lidahnya keluh seketika melihat pria yang disayanginya itu berpelukan dengan wanita lain.
Sedangkan Sayed yang diperlakukan seperti itu tidak tahu harus berbuat apa, ia hanya terdiam terpaku dan tidak bergeming tanpa membalas perlakuan dari orang itu.
Tapi, sepasang mata sejak tadi menjadi saksi bisu dari keduanya. Air matanya perlahan membasahi pipinya. Untuk pertama kalinya air matanya menetes membasahi wajahnya melihat keduanya berpelukan padahal sebelumnya ia tidak pernah sedikitpun untuk menangis padahal hal ini bukan yang pertama kalinya ia melihatnya.
Sanjana sangat menyayangkan dan yang paling menyedihkan dan dia sesali adalah di hari ulang tahun pernikahannya kenapa suaminya harus melakukan hal itu.
"Ya Allah… aku harus bagaimana?" Batinnya Sanjana.
Terasa kakinya seperti jeli yang tidak bisa bergerak sedikitpun apa lagi untuk berjalan. Seolah kakinya menginjak lem yang sangat banyak sehingga ia kesulitan dalam bergerak dan melakukan apapun itu. Hanya air matanya yang mewakili perasaannya dikala itu.
Sedangkan Sayed yang sama sekali tidak menduga dan diluar ekspektasi jika perempuan yang datang saat itu adalah mantan kekasihnya yang dipacarinya hampir tujuh tahun itu.
"Sarah Azzahra Maiyer!" Cicitnya Sayed sambil menghempaskan pelukannya Sarah.
Sarah cukup terkejut dengan sikapnya Sayed yang tidak seperti biasanya jika mereka bertemu. Sayed selalu bersikap romantis, ramah, lemah lembut terhadapnya.
Sarah menarik tengkuk lehernya Sayed dengan paksa yang berniat untuk mencium bibirnya Sayed. Sarah tersenyum penuh arti ketika Sayed tidak mampu untuk menahan dan menolak ciuman itu.
Air matanya Sanjana semakin deras mengalir membasahi pipinya itu ketika melihat suaminya dengan perempuan yang tidak dikenalnya berciuman. Sanjana hanya menutup mulutnya saking tidak percayanya melihat kenyataan pahit dan menyedihkan yang mampu meruntuhkan tembok besar kepercayaannya itu.
Sayed segera mengakhiri ciuman paksa itu dan alangkah terkejutnya ketika menyadari jika istri sahnya telah berdiri tidak jauh dari tempat mereka. Sayed mengelus wajahnya dengan cukup kasar.
__ADS_1
Sayed segera berlari meninggalkan tempat tersebut dan mendorong Sarah dari hadapannya karena menghalangi jalannya itu. Ia segera mempercepat langkahnya dan sudah berlari ke arah Sanjana.
Sanjana segera mengakhiri lamunannya dan ketika menyadari jika suaminya yang dicintainya,dihormatinya dan diberikan kasih sayang yang tulus dari hatinya.l itu. Sanjana berlari dari dalam rumah milik suaminya itu.
"Sanjana, Istriku! Tunggu Mas sayang, Mas akan menjelaskan semuanya!" Teriaknya Sayed sambil mengejar istrinya itu.
Sanjana sama sekali tidak peduli dengan panggilan dan teriakan dari suaminya itu. Ia terus berlari ke arah depan dan bergegas masuk ke dalam mobilnya. Dia sesekali menyeka air matanya yang meneteskan air matanya tersebut.
Sanjana mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Sayed baru ingin meraih pintu mobilnya tapi, langkahnya terhenti ketika mobil berwarna putih itu berjalan dengan kecepatan tinggi membelah jalan raya.
"Sanjana!! Tunggu Mas akan menjelaskan semuanya padamu!!" Pekiknya Sayed yang memukul angin saking jengkelnya dengan kejadian yang baru saja terjadi padanya.
Sayed segera berlari ke arah mobilnya yang terparkir di carport rumahnya tersebut.
"Ya Allah… semoga saja istriku baik-baik saja aku sangat khawatir dengan kondisinya karena mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi," gumamnya Sayed.
"Aku harus pergi jauh dari sini karena jika aku tetap berada di Jakarta sama saja aku memberikan kesempatan pada diriku untuk berlarut larut dalam kepedihan dan penyesalan, aku juga tidak mau melihat dan mendengar kedekatan mereka untuk kedepannya," lirihnya Sanjana.
Tidak ada seorang pun dari keluarga dan sahabatnya jika ia akan segera pergi jauh dari Indonesia.
"Sudah cukup aku menjadi orang bodoh dan saksi perselingkuhannya Mas Sayed, aku capek berjuang sendiri mempertahankan hubungan pernikahanku, hanya aku sendiri yang berjuang, dulu dengan Sania Mirza Hakim aku masih sanggup untuk bersantai dan menerimanya dan berdamai dengan kehidupan rumah tanggaku, tapi hari ini aku sudah tidak sanggup untuk menjalaninya lagi," kesalnya Sanjana yang sudah berada di area bandara.
Sanjana segera berjalan ke arah dalam lokasi bandara internasional Soekarno Hatta tanpa menolehkan kepalanya sedikitpun ke arah belakang. Seolah-olah ia tidak akan pernah kembali lagi ke tanah air Indonesia.
__ADS_1
Tanpa sepengetahuan anggota keluarganya, Sanjana memilih untuk pergi ke luar negeri. Dengan kekuasaan yang dimiliki oleh papanya pak Alexander Agung Miller menbuatnya perjalanan cukup lancar tanpa hambatan.
Sanjana sudah memikirkan negara yang akan ditujunya itu. Negara yang sama sekali tidak akan diketahui oleh Sayed karena tempat itu daerah yang jarang keluarganya datangi selama ini. Sayed kehilangan jejaknya Sanjana Alexandra Agung Miller, karena tiba-tiba lampu merah menyala.
Sayed memukul kuat setir mobilnya saking jengkel dan marahnya karena serasa lampu merah itu tidak bersahabat dengannya.
"Maafkan aku sayang, aku membuat kamu kecewa lagi, tapi perlu kamu ketahui jika aku sama sekali tidak mengetahui kenapa bisa Sarah datang, aku juga heran melihatnya saat memelukku langsung,aku pikir kamu orangnya yang datang memelukku dari belakang," lirihnya Sayed.
Malam sabtu menjadi malam kelabu dari hubungan pernikahan antara Sayed dan Sanjana. Willy yang kebetulan datang karena ingin meminta persetujuan langsung dari Sanjana, melihat secara langsung mobilnya Sayed melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi yang berpapasan saat ia akan akan masuk ke lokasi perumahan rumahnya Sayed.
"Apa yang terjadi padanya, aku pikir hari ini adalah hari anniversary mereka, tapi sepertinya ada yang tidak beres aku harus segera ke rumahnya untuk melihat jelas apa yang sudah terjadi," gumam Willys.
Willy turun dari mobilnya dan berjalan ke arah dalam rumahnya Sayed,tapi langkahnya terhenti ketika mendengar percakapan seseorang dari balik tembok besar yang menghubungkan ruangan tengah dengan bagian paling belakang rumahnya Sayed bersama Sanjana.
Willy hanya menggeleng kepalanya setelah tanpa sengaja mendengar dua orang yang berbicara secara sembunyi-sembunyi dan diam-diam itu. Willy segera mengambil hpnya untuk merekam semua percakapan kedua orang itu yang sangat dikenalinya.
"Ternyata ini tujuannya kembali ke tanah air Indonesia padahal sudah hampir tiga tahun tidak pernah kembali, tapi aku tidak akan biarkan rencana kalian berjalan lancar begitu saja," umpatnya Willy dengan menggenggam kepalan tangannya dengan kuat.
Sayed mencoba terus menghubungi nomor hpnya Sanjana berulang kali bahkan sudah lebih dari ratusan kali, tapi selalu saja tidak aktif.
"Ya Allah… kenapa hpnya Sanjana tidak aktif, apa yang terjadi padanya? Ya Allah… jaga dan lindungilah istriku dimana pun dia berada, jika terjadi sesuatu pada istriku aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri!" geramnya Sayed.
Sayed semakin dibuat pusing,galau, ketakutan, cemas, khawatir dan juga penuh penyesalan yang sudah prustasi karena tidak tahu harus mencari keberadaan istrinya dan tidak mungkin juga ia mendatangi kediaman kedua mertuanya karena akan sia-sia saja usahanya itu. Karena semua anggota keluarga intinya Sanjana berada di luar negri.
__ADS_1
"Ya Allah.. maafkanlah aku… saya ingin bertemu dengan istriku dan meminta maaf padanya serta akan menjelaskan kronologi kejadian yang terjadi tadi," imbuhnya Sayed.
Malam semakin larut tetapi,ia belum bertemu dengan Sanjana. Sedangkan Sanjana sudah meninggalkan tanah air Indonesia yang kemungkinannya tidak akan kembali dalam waktu dekat.