
"Kita mau kemana?" tanyanya Galang yang sudah menggendong tubuhnya Sania dengan ala bridal style.
"Ada di dalam ruangan pribadi yang sering dipakai oleh Sayed bersama istri Sanjana bagaimana kalau hari ini kita pinjam dulu, aku yakin mereka pasti tidak akan keberatan kita pakai untuk menjenguk calon anakmu!" imbuhnya Sania yang semakin gencar menggoda Galang.
Setelah pertandingan sepakbola piala dunia antara Argentina melawan Kroasia mereka memutuskan untuk pulang ke rumah.
"Argentina memang the best lah," ujarnya Mbak Tuti.
"Yes, benar apa yang kamu katakan Argentina memang patut masuk final walaupun pernah dikalahkan oleh Arab Saudi 2-0 waktu penyisihan grup," tuturnya Mbak Aisyah.
Sanjana hanya tersenyum menanggapi perkataan dari asisten rumah tangganya itu. Karena Sanjana mengidolakan Maroko dan Prancis. Sebab itu dia menonton hanya turut meramaikan saja.
"Nona Muda apa kita langsung pulang ke rumah atau masih mau jalan-jalan?" Tanyanya Mbak Aisyah.
Sanjana melirik ke arah Mbak Aisyah," aku ingin jalan-jalan keliling stadion dulu lihat apa saja keramaian yang terjadi setelah permainan usai," jawab Sanjana.
Ketiga asisten rumah tangganya itu berjalan mengekor di belakang Sanjana. Mereka bergabung dengan banyaknya suporter dari dua negara bahkan masyarakat Qatar pun tidak mau ketinggalan dan turut hadir di tempat tersebut.
Sanjana saking asyiknya berjalan hingga ia tidak terlalu mempedulikan dengan kondisi jalan yang dilaluinya itu. Tiba-tiba ada seseorang yang berjalan tergesa-gesa menuju ke arahnya dan menabrak lengannya dan tubuhnya terhuyung.
"Aahhhh!!" Pekiknya Sanjana yang tubuhnya sudah hampir terbalik ke belakang.
Mbak Aisyah, Mbak Tuti dan Mbak Titin segera berlari ke arah Sanjana dengan raut wajah yang khawatir,takut dan cemas dalam waktu bersamaan.
"Nona Muda!!" Teriak ketiganya.
Beberapa orang yang berada di lokasi kejadian banyak yang berhenti dan menolehkan kepalanya ke arah Sanjana. Banyak orang yang sudah menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya karena mereka sudah yakin dan pasti jika perempuan yang berhijab biru muda itu, punggungnya akan terbentur dengan pembatas taman dengan jalan utama.
__ADS_1
Sanjana sudah ketakutan dan keringat bercucuran disekujur tubuhnya itu. Tangannya ada yang menarik kuat hingga bukannya terhuyung ke belakang malah terhuyung ke depan.
Ia sudah menyangka jika sudah jelas terjadi sesuatu pada tubuhnya itu. Dia segera membuka kelopak matanya secara perlahan.
"Tidak terasa sakit apapun pada tubuhku, tapi kenapa serasa ada seseorang yang memelukku," batinnya Sanjana seraya menajamkan penglihatannya itu.
Nafasnya tercekat, matanya melotot dan terbelalak melihat siapa orang yang telah menolongnya itu. Hingga mulutnya menganga saking tidak percayanya dengan penglihatannya sendiri.
"Mas Sayed!" Lirihnya Sanjana yang masih menganga lebar membentuk huruf O besar.
"Semoga saja Nona Muda baik-baik saja begitupun dengan calon bayinya," bathin Mbak Yuni.
Sayed hanya tersenyum penuh bahagia karena ternyata orang yang ditolongnya itu adalah perempuan yang hampir dua bulan dia cari keberadaannya.
"Nona Muda apa yang terjadi?" Tanyanya Mbak Titin.
"Bagaimana dengan kandungannya Nona baik-baik saja kan?" Tanya Mbak Tuti Maryati yang sudah sangat khawatir jika terjadi sesuatu dengan kandungannya calon baby kembarnya itu.
Sanjana segera melepaskan pegangan tangannya Sayed dipunggungnya itu. Dia tidak ingin Sayed bertanya lebih banyak lagi tentang apa yang sedang terjadi padanya.
Sanjana buru-buru berjalan meninggalkan Sayed yang masih bertanya-tanya dalam hati dan pikirannya tentang perkataan dari Mbak Tuti tersebut. Ia pun terus mengikuti langkah kakinya Sanjana ke manapun melangkah di tengah kerumunan orang-orang yang berlalu-lalang meninggalkan stadion Al Tumama Doha Qatar.
Mbak Titin mencubit lengannya Mbak Aisyah," itukan suaminya Nona Muda, kapan datangnya dari Indonesia kok dia tahu kalau Nona ada di sini?" Tanyanya Mbak Titin dengan sedikit mengecilkan suaranya yang lebih berbisik-bisik.
"Betul sekali, itu Tuan Muda Sayed aku pernah melihat fotonya terpampang di tembok di dalam kamarnya Nona Muda," timpalnya Mbak Tuti.
"Sanjana, please! Berhenti!" Jeritnya Sayed yang semakin mempercepat jalannya agar segera menyusul istrinya itu.
__ADS_1
Sanjana tidak peduli dengan panggilan, teriakan dan seruan dari Sayed sedikitpun.
"Aku harus cepat pergi dari sini, jika tidak ia akan mengetahui jika aku hamil anaknya," gumam Sanjana yang semakin mempercepat langkahnya.
Tapi, usahanya sia-sia karena tiba-tiba banyak orang yang berjalan berlawanan arah dengannya yang otomatis membuat langkahnya terhenti sejenak hingga Sayed mampu mengejarnya.
Sayed segera menarik tangannya Sanjana kembali ke dalam dekapan hangat pelukannya itu. Sayed mengeratkan pelukannya di tubuhnya Sanjana.
"Nana! Aku mohon berikan aku kesempatan untuk menjelaskan semua yang terjadi, aku mohon maafkanlah aku yang saat itu tidak mampu mengejarmu," tatapnya Sayed dengan menghibah di depannya Sanjana istrinya itu.
Sanjana terus berontak melepaskan diri dari dalam pelukan Sayed suaminya sendiri," aku mohon lepaskan! Kalau seperti ini kamu sama saja menyakitiku!" Sarkasnya Sanjana yang jengah melihat Sayed.
Sayed sama sekali tidak menggubris perkataannya Sanjana, karena menganggap bahwa kalau hanya pelukan seperti itu hanya pelukan biasa saja bagi Sanjana sama sekali tidak ada artinya.
Hingga nafasnya Sanjana ngos-ngosan, kepalanya pusing, serasa semua bangunan yang ada di sekitarnya seolah berputar. Keringat bercucuran membasahi sekujur tubuhnya Sanjana. Dan tanpa terduga Sanjana jatuh pingsan dalam pelukannya Sayed.
Sayed yang merasakan ada keanehan yang terjadi pada Sanjana karena tiba-tiba tidak berontak lagi dan sebelumnya merasakan nafasnya Sanjana yang kesulitan untuk bernafas.
"Nana! Sanjana! Istriku apa yang terjadi padamu sayang!" Imbuhnya Sayed yang sudah memeriksa kondisi dan keadaannya Sanjana yang sudah tidak sadarkan diri lagi dalam pelukan itu.
Sayed segera menggendong tubuhnya Sanjana dan berjalan tergesa-gesa ke arah mobilnya yang terparkir. Ia merebahkan tubuhnya Sanjana di jok kursi belakang mobilnya itu.
Ketiga asisten rumah tangganya itu segera berjalan dan sedikit berlari kecil ke arah kedua pasangan suami istri itu.
"Tuan Muda! Apa yang terjadi pada Nona Sanjana?" Tanyanya yang sudah nampak cemas.
"Jangan banyak tanya lagi, cepat masuk ke dalam mobil satu orang dan yang lainnya ikuti mobilku dari belakang kita akan segera ke rumah sakit, sekarang!" Teriak Sayed lalu secepatnya masuk ke dalam mobilnya untuk menyalakan mesin mobilnya itu tanpa ragu dan perasannya yang bercampur aduk saking cemasnya melihat kondisinya Sanjana yang pucat pasi peluh keringat terus membasahi seluruh pipi dan tubuhnya itu.
__ADS_1
Mbak Tuti dan Aisyah segera berlari ke arah mobilnya dan menyuruh supir pribadi untuk mengantar mereka sambil mengikuti terus ke mana laju mobilnya Sayed.
"Saya harus segera menelpon nomor hpnya Tuan Willy dengan Nona Sofia agar mereka segera mengetahui kondisi kesehatan dari Nona Sanjana," lirihnya Mbak Titin.