Meraih Cintanya

Meraih Cintanya
Bab. 33


__ADS_3

"Kenapa datang kemari! aku masih sanggup untuk menjaga dan menafkahi kedua calon bayiku tanpa bantuan dari Mas sedikitpun!" ketusnya Sanjana seraya menolehkan wajahnya ke arah samping kiri.


Sayed hanya tersenyum menanggapi sikap ketus dan judesnya Sanjana malahan ia tersenyum dan bahagia karena kalau seperti itu pertanda Sanjana istrinya sudah membuka pintu hatinya untuk memberikan kesempatan kepadanya.


"Kamu marah tapi isi hatimu itu menyatakan jika kamu tidak mungkin bisa menggantikan posisi aku dihatimu," batinnya Sayed.


"Tidak perlu repot-repot tersenyum, karena aku sama sekali tidak butuh senyuman jelek kamu itu!" cibirnya Sanjana yang sangat mengetahui apa yang terjadi pada suaminya sekarang ini karena dibantu oleh kakak sepupunya Sofia.


Sanjana sebenarnya tersenyum simpul karena pasti mengetahui apa yang terjadi pada suaminya setelah ia berbicara seperti itu.


"Kamu mengajak Mas berbicara itu sudah syukur Alhamdulillah berarti marahnya sudah reda," batinnya Sayed Alfarizi Satya Muller.


Sayed segera bangkit dari duduknya di atas ranjangnya Sanjana sedangkan Mbak Sofia sudah meninggalkan tempat tersebut karena ingin memberikan kesempatan dan waktu agar mereka bisa berbicara empat mata dari hati ke hati. Sayed tersenyum penuh kelicikan dan maksud.


Pintu tertutup rapat dari arah luar sehingga Sanjana merasa bahagia karena perkataannya berhasil mengusir Sayed suaminya sendiri pergi dari dalam kamar perawatannya.

__ADS_1


Sanjana tersenyum lebar," Yes! Aku berhasil mengusirnya, dia sudah pergi dari sini, emangnya enak dicuekin gitu makanya jangan sok ganteng dan keganjenan banget jadi pria dipeluk mesra oleh seorang wanita sampai-sampai tidak menyadari kedatangan dan kehadiranku di belakangnya," cicitnya yang suaranya masih mampu di dengar oleh orang lain.


Sofia berdoa agar apa yang direncanakannya berhasil membuat mereka berdamai," ya Allah… bukakanlah pintu hati kedua pasangan suami istri itu agar tidak lagi jaga image dan saling terbuka untuk membicarakan dengan kepala dingin dan berbesar hati untuk saling terbuka membahas kesalah pahaman keduanya," Sofia membatin dengan senyuman liciknya sambil berjalan ke arah kembali kamar tersebut karena berniat untuk mengunci rapat pintu tersebut dari arah luar.


Sayed berjalan ke arah pintu karena berniat untuk meninggalkan Sanjana seorang diri saja agar bisa berfikir jernih dan tenang. Tapi, usahanya tidak berjalan sesuai dengan rencananya. Pintunya tertutup rapat.


"Ya Allah… kok pintunya enggak bisa dibuka, tidak mungkin kan kalau pintunya macet atau mengalami kerusakan, kamar VVIP termahal bisa kualitasnya seperti ini, tidak masuk akal banget!" Umpatnya Sayed yang terus-menerus berusaha untuk memutar kenop pintu tersebut.


Apa yang dikerjakannya seketika terhenti ketika mendengar gumaman istrinya, diam-diam dia berjalan mengendap-endap menuju sekitar tempat istirahatnya Sanjana. Sayed menarik ke atas sudut bibirnya lalu tersenyum tipis.


Sayed menutup mulutnya saking terkejutnya dengan kejujuran dari Sanjana," aku bersyukur dan harus bahagia dengan pernyataan kejujurannya Nana, Alhamdulillah semoga saja rasa sayangnya Nana padaku tidak akan luntur hingga akhir waktu walau apapun yang datang menguji cinta dan kesetiaan kami," Sayed membatin dengan tersenyum simpul.


"Hore!! Kita bisa pulang kampung setelah hampir lima tahun enggak pulang!' teriaknya Mbak Titin Jayanti Kharisma yang lompat-lompat sambil memeluk tubuhnya Mbak Annisa seperti seseorang anak kecil yang juara satu dan mendapatkan banyak hadiah hari itu juga.


"Iya benar sekali, aku kalau sudah sampai di Jakarta mau minta liburan satu minggu untuk pulang kampung dulu kangen aku sama nenek dan emak aku di kampung," jelasnya Mbak Annisa sambil berjalan menuruni anak undakan tangga satu persatu.

__ADS_1


Wajah mereka sangat bahagia karena setelah penantian panjang akhir mereka memiliki kesempatan untuk pulang kampung dan bekerja di tanah air kelahiran mereka.


"Banyak pepatah mengatakan hujan emas di negeri orang lebih baik hujan batu di negeri sendiri, iya kan bestiku?" Mbak Tuti merangkul pinggangnya Mbak Annisa bagaikan sepasang kekasih saja yang dimabuk asmara padahal hanya mendapatkan hadiah untuk pulang ke negara asalnya.


"Andai saja aku tidak hamil aku akan nuntut balas sama perempuan yang bernama Sarah itu agar dia tahu gimana rasanya mengusik ketenangan seorang istri!" Kesalnya Sanjana yang melempar buku majalah yang kebetulan ada di dekat samping kirinya.


Sayed segera berjalan mendekat ke arah istrinya takutnya emosinya meningkat drastis dan hal tersebut sangat berbahaya mengingat Sanjana sedang hamil calon anak kembar mereka.


Tapi, usahanya kembali menuai kegagalan disaat ingin memeluk dari arah belakang tubuhnya Sanjana. Sehingga tangannya menggantung bebas karena Sanjana tiba-tiba tertawa terpingkal-pingkal sehingga Sayed malah dibuat sedikit merinding dan terkejut karena selama menikah, ini pertama kalinya Sanjana tertawa terbahak-bahak seperti itu.


"Apa yang terjadi padanya seolah aku memiliki lebih dari satu istri saja, tadi marah-marah lalu ngomel-ngomel sekarang tertawa terbahak-bahak ya Allah… apa yang terjadi pada istriku," lirih Sayed yang bergidik negeri melihat perubahan drastis sikapnya Sanjana dalam sekejap saja.


"Aku yakin penilaian kamu tentang aku pasti berubah aku perhatikan sedari tadi wajahnya menyiratkan kebingungan dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya dengan mata kepalanya sendiri," batinnya Sanjana yang mengetahui jika suaminya sedari tadi mengetahui kalau suaminya berada di dalam ruangan perawatannya.


Awalnya Sanjana mengira jika suaminya sudah pergi dari dalam kamarnya. Dia sudah marah-marah melampiaskan kejengkelannya tapi, ketika tanpa sengaja ia melihat bayangan Sayed dari layar hpnya itu. Sanjana menutup mulutnya saking tidak percayanya karena mendapati suaminya diam-diam memperhatikan apa yang sedang ia lakukan.

__ADS_1


__ADS_2