Meraih Cintanya

Meraih Cintanya
Bab. 67


__ADS_3

Keesokan harinya, Sayed Alfarizi Satya Muller dan Galang Aryanta Dewantara sudah berada di dalam mobil menuju ke rumahnya Sanjana Alexandra Agung istrinya.


Hari ini Faqih anak bungsunya pak Hasan Ishaaq dan Bu Siti Aminah kedua pasangan suami istri itu yang menolong Sayed ketika tenggelam dan mengapung di permukaan laut sekitar lima tahun yang lalu.


Faqih hari ini akan mengikuti pertandingan sepakbola semifinal mewakili daerahnya untuk bertanding di Jakarta. Nantinya akan diseleksi menjadi calon tim sepakbola junior u18 kedepannya.


"Abang Sayed semoga kamu segera bertemu dengan keluarganya Abang, saya sungguh kasihan melihat Abang yang hampir setiap malam bermimpi bertemu dengan anak dan istrinya Abang," harapnya Faqih sembari menatap kepergian Galang dan Sayed dari kamp pelatihannya itu.


"Saya harus segera berkata jujur di hadapan Istriku jika saya masih hidup, sudah hampir lima tahun kepergian ku, mungkin ke-dua anakku sudah besar dan kira-kira apa ya tanggapannya Sanjana jika mengetahui dan melihatku masih hidup,"


Berselang beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai tepat di dalam garasi rumahnya Sanjana. Rumah pemberian dari suaminya Sayed ketika mereka balik dari Qatar.


Ya Allah… rumahnya masih seperti dulu dan sama tidak ada bedanya ketika aku tinggalkan untuk ke Singapura," Sayed memperhatikan dengan seksama rumah berlantai dua itu yang berdiri kokoh dan nampak sangat terawat dan terurus dengan baik oleh pemilik rumahnya.


Galang berjalan mendahului Sayed yang masih berdiri mematung memperhatikan keadaan sekitar rumahnya itu. Rumah yang selalu dirindukannya itu, walaupun dirinya sempat hilang ingatan tapi, perasaannya terhadap rumah itu dan pemiliknya tidak pernah hilang dari bayangan mimpinya setiap malamnya.


Pintu berdaun itu terbuka lebar ketika Galang menekan bel pintu tersebut. Dua orang anak kecil yang kira-kira berusia lima tahun berlarian saling berkejaran ke arah pintu yang sedang diburu oleh baby Sitternya itu.

__ADS_1


"Tuan Muda Yardan Mikail jangan ksriy, Mbak Tuti tidak sanggup mengejar Tuan Muda!" Teriaknya Mbak Tuti art yang sejak Sanjana masih gadis sudah tinggal bersamanya.


"Mbak Tuti cemen sih masa kami anak kecil saja enggak bisa dikejar," ketusnya Yasmine yang berhenti sesaat sebelum berlari ke arah pintu dengan berpakaian seragam taman kanak-kanaknya.


Galang tersenyum melihat tingkah laku kedua keponakannya yang selalu jahil kepada pengasuhnya itu.


Yardan yang terus berlari tanpa henti dengan menatap ke arah adik kembarnya itu tanpa sengaja menabrak tubuh seseorang.


"Ahh bunda!" Teriaknya anak kecil itu.


Mbak Tuti Maryati yang melihat kejadian itu ikut berteriak, "Tuan Muda Yardan!" Jeritnya Mbak Tuti yang membuat suasana rumah itu menjadi ramai seketika akibat ulahnya ketiga orang itu.


Sanjana yang kebetulan mengisi beberapa makanan untuk bekal makan siang kedua anak kembarnya di dapur, segera berjalan terburu-buru karena mendengar teriakkan anaknya.


"Apa yang terjadi pada putraku, semoga saja tidak terjadi sesuatu pada mereka," gumamnya Sanjana Alexandra Agung Miller.


Bu Tuti berjalan tergopoh-gopoh menghampiri Sayed dan Yardan anak majikannya itu," Makasih banyak atas pertolongannya Tuan," ucapnya Mbak Tuti sambil memeriksa tubuhnya Yardan.

__ADS_1


"Mbak Tuti saya baik-baik saja kok, tidak perlu diputar-putar segala seperti ini," dengusnya Yardan.


Sayed segera jongkok di depan Yardan dan langsung memeluk tubuh putranya itu dengan erat.


"Putranya Papa," cicitnya Sayed.


Apa yang dilakukan oleh Sayed diperhatikan langsung oleh Mbak Tuti dan betapa terkejutnya melihat siapa pria yang memeluk tubuh tuan mudanya itu.


"Tuan Sayed!" Jeritnya Tuti yang heboh saking bahagianya melihat suami dari Nona mudanya yang masih hidup.


Semua orang berdatangan ke arah depan pintu karena ulah teriakannya Tuti Maryati itu. Semuanya langsung bungkam tanpa kata, karena melihat pria yang menjadi pemilik rumah besar dan megah itu masih hidup yang dikabarkan sekitar lima tahun itu pesawat terbang yang ditumpanginya terjatuh ke laut.


"Alhamdulillah Tuan Muda masih hidup berarti Nyonya Muda Sanjana bukan janda," bisiknya semua orang yang berdiri di depan pintu menyaksikan hal yang sangat mustahil terjadi di dalam kehidupan mereka.


Sanjana yang melihat dengan jelas siapa pria yang memeluk tubuh anaknya itu menangis histeris saking bahagianya melihat suaminya berdiri di dalam rumahnya yang sudah dikabarkan meninggal dunia.


"Abang Sayed!" Jeritnya Sanjana yang berhamburan memeluk tubuh suaminya itu.

__ADS_1


__ADS_2