
Pintu berdaun dua dengan kualitas terbaik itu terbuka dari arah luar. Semua karyawan perusahaan yang berada di dalam ruangan meeting segera berdiri untuk menyambut kedatangan mereka semua.
Baginya Sayed yang harus ia lakukan adalah menunjukkan dan menampilkan yang terbaik yang ia miliki sebagai menejer keuangan. Hingga pintu itu terbuka lebar dari luar. Beberapa orang rombongan pemilik perusahaan dan saham tertinggi ikut dalam barisan rombongan tersebut.
Tapi, ada satu sosok yang mampu membuat Sayed Alfarizi Satya Muller tersenyum penuh kebahagiaan menyambut kedatangan mereka.
Sayed Alfarizi Satya Muller tersenyum menyambut kedatangan para petinggi perusahaan. Wajahnya semakin berseri ketika melihat salah satu dari mereka. Senyuman kebahagiaan itu tersungging di sudut bibirnya.
"Sanjana, Istriku!" Beo Sayed.
Sanjana hanya membalas senyuman Sayed dengan seulas senyuman termanisnya tanpa ada basa-basi dari nya itu.
Betapa terkejutnya Sayed dan Sania ketika Tuan Alexander Agung Miller memperkenalkan Sanjana sebagai putri tunggalnya sekaligus sebagai CEO pengganti dari anak sulungnya yaitu Halim Jaelani Alexander Miller.
"Sanjana adalah putri tunggalnya pemilik perusahaan? Apa aku tidak salah dengar dengan informasi yang diutarakan oleh Pak Alexander sendiri," batinnya Sayed yang merasa tidak percaya dengan kenyataan yang ada.
"Jadi Sanjana adalah istrinya Sayed, tapi kenapa selama ini saya tidak mengetahuinya, apa Sayed juga tidak mengetahui kebenaran ini atau selama ini hanya berpura-pura menutupi kenyataan yang ada?" Sania Mirza Hakim membatin.
Keduanya dibuat terperangah melihat Sanjana yang seperti seorang yang sama sekali tidak memiliki beban sedikit pun dan juga seolah ia tidak memiliki hubungan dengan salah satu karyawannya.
Padahal Sanjana memang seperti itu, sedari dulu tidak pernah ingin mencampur adukkan kehidupan pribadinya dengan kehidupan pekerjaannya sedikit pun. Lagian Sayed selama ini tidak peduli dengan kehidupan Sanjana.
Sayed peduli baru beberapa bulan terakhir yaitu sekitar tiga bulan lebih setelah mereka baru pulang dari bulan madu. Sanjana mengutarakan visi dan misinya sebagai CEO selanjutnya dengan lantang dan tanpa ada sedikitpun rasa gentar.
Dengan tutur sapanya yang penuh kelembutan tapi, tegas dan disiplin serta memiliki dedikasi yang tinggi mendapatkan pujian dari beberapa pemegang saham dan juga karyawan perusahaan Global Ones tbk.
Setiap divisi satu persatu maju ke depan untuk mengutarakan pencapaian dari divisi masing-masing. Tanpa terkecuali Sayed, dengan sesekali melirik ke arah Sanjana yang selalu fokus pada pekerjaannya seolah mereka tidak saling kenal.
__ADS_1
"Ternyata istriku adalah pemilik perusahaan, kenapa baru sekarang aku menyadarinya, di perusahaan aku harus memanggilnya dengan sebutan Ibu sedangkan di rumah aku memanggilnya dengan sebutan sayang, istriku, semoga saja hanya Sania Mirza yang mengetahui jika Ibu CEO kita adalah istriku Sanjana, kenapa aku sama sekali tidak menyadari jika Sanjana adalah putri Sultan sedangkan aku hanya karyawan biasa saja, jika dibanding dengan Sanjana sama sekali aku tidak ada apa-apanya," batinnya Sayed.
Satu persatu Menejer dari setiap divisi keuangan maju ke depan untuk memaparkan hasil pencapaian divisi mereka selama beberapa tahun terakhir. Tiba gilirannya Sayed, suasana terasa canggung, ia seolah untuk menyebut nama ibu Sanjana membuat lidahnya sangat keluh dan kaku. Tapi, Sayed berusaha agar orang-orang lain tidak mengetahui jika Sanjana adalah istrinya.
Jika mereka mengetahui hal itu akan timbul banyak spekulasi yang beredar dan semakin berkembang dengan berbagai bumbu-bumbu kehidupan yang nantinya akan membuat Sayed seperti seorang suami yang posisinya rendahan jika dibandingkan dengan isterinya.
Setelah rapat selesai, Tuan Alessander dan Tuan Muda Halim berpamitan untuk kembali. Tuan Alexander Agung akan ke Qatar sedangkan Tuan Halim akan ke Belanda untuk membuka dan memimpin cabang perusahaannya yang baru.
Sayed duduk termenung di dalam kantor pribadinya, tatapannya tertuju pada pemandangan yang ada di luar sana, tapi pikirannya selalu tertuju pada Istrinya.
"Jika ada orang yang mengetahui jika Sanjana adalah istriku, mereka mungkin akan beranggapan jika jika aku sengaja menikahi putri dari pemilik perusahaan karena posisi dan harta," Sayed mengusap wajahnya dengan gusar.
Hingga ketukan pintu yang berulang kali tidak disadarinya, dering hpnya pun ia tidak mengetahui hal itu.
"Aku bangga pada pencapaian istriku, tapi orang akan membandingkan posisiku dengan Sanjana dan bahkan mungkin mereka akan mengira jika aku hanya mengandalkan koneksi bukan semata-mata karena atas dasar kemampuanku," cicitnya Sayed.
Sania yang datang dengan setumpuk berkas yang harus ditandatangani dan diperiksa terlebih dahulu oleh Sayed sebelum diserahkan ke CEO mereka.
"Apa aku hubungi Nona Sanjana saja dan mengatakan jika Sayed dalam keadaan yang tidak baik saja, atau aku memanggil security!" Gumamnya Sania.
"Selamat siang! Maaf apa yang terjadi di sini?" Intrupsi seseorang dari arah belakangnya mampu membuatnya tersentak terkejut mendengar seruan tersebut yang datang dengan tiba-tiba.
Sania segera mengarahkan pandangannya ke arah belakang dan betapa kagetnya setelah melihat dan menyadari siapa orang yang berbicara di belakangnya.
"Ehh… itu Nona Muda Pak Sayed sedari tadi aku ketuk pintunya tapi, tidak tanggapan sama sekali dari dalam, kami pun sudah menelepon nomor hpnya tapi, hasilnya sama tidak digubris sama sekali," jelas Sania Mirza seraya menundukkan sedikit kepalanya di hadapan Sanjana pemilik perusahaan tempat ia bekerja.
Sanjana segera mengalihkan pandangannya ke arah Pak Willy, sedangkan yang ditatap sudah mengerti dan cepat tanggap darurat. Willy adalah asisten pribadinya Sanjana, ke manapun ia bekerja pasti Willy adalah akan menjadi asisten pribadinya sehingga semua kehidupannya Sanjana sangat jelas ia mengetahui hal itu.
__ADS_1
Hanya berselang beberapa saat saja, beberapa orang yang berpakaian serba hitam dengan tubuh yang gempal,kekar dan tinggi berjalan beriringan menuju depan kantornya Sayed. Willy segera memerintahkan kepada anak buahnya untuk bergegas membuka pintu itu.
Tetapi, anak buahnya dan juga bodyguard nya baru ingin bertindak untuk membuka pintu itu dengan kunci cadangan, pintunya sudah terbuka dengan lebar dari arah dalam. Sanjana yang melihat Sayed dalam keadaan baik-baik saja merasa lega dan bersyukur karena tidak terjadi sesuatu apapun terhadap suaminya.
Sayed menatap intens satu persatu orang yang berdiri di depan pintunya dengan wajah yang keheranan. Hingga seseorang berlari ke arahnya langsung memeluk tubuhnya tanpa sepatah kata pun.
Apa yang dilakukan oleh perempuan itu mendapatkan tatapan tajam dan tatapan tidak percaya dengan apa yang saat itu mereka lihat langsung.
"Mas Sayed!" Lirihnya seraya mendekap erat tubuh tegap dan jangkung itu tanpa peduli dengan tatapan mata liar dari semua orang yang kebetulan hadir berdiri di sekitar ruangan menejer keuangan.
Sayed yang diperlakukan seperti itu dibuat cukup terkejut karena dia tidak menyangka jika orang nomor satu di perusahaan tersebut akan berani memeluknya di hadapan anak buahnya tanpa ragu sedikitpun.
Sanjana tidak pernah berfikiran untuk menutupi hubungannya dari khalayak umum hanya saja, Sayed sebagai suaminya selama ini seperti sama sekali tidak perduli dengan kehidupan pribadinya apa lagi hanya untuk bertanya sekedar tentang asal usul keluarganya dan juga tempat ia bekerja maupun posisinya sebagai apa.
Beberapa karyawannya saling bertatapan satu sama lainnya dan dibuat bertanya-tanya tentang hubungan apa kira-kira yang terjadi di antara mereka.
"Apa jangan-jangan Pak Sayed berhasil menggoda Nona CEO kita yah!' ketus seseorang.
"Tapi, menurut aku pak Sayed tidak bisa diragukan dalam hal menggoda wanita apa kalian lupa jika Pak Sayed adalah mantan casanova, apa istrinya sama sekali tidak marah dan cemburu yah dengan kelakuan perselingkuhannya itu," dengus yang satu lagi.
"Harus diviralkan kalau gini, kira-kira tanggapan semua orang gimana yah?" Sarkasnya orang itu lagi.
Sanjana dan Sayed bukannya tidak mendengar suara sumbang dan sindiran semakin gencar mereka dengar, tapi Sanjana sama sekali tidak peduli dengan semua perkataan jelek dan tatapan nyinyir dari anak buahnya langsung.
Sanjana malah sengaja melakukan hal itu agar semua orang mengetahui jika Sayed adalah suaminya. Sanjana melirik sekilas ke arah Willy untuk mengatasi orang-orang yang bergosip itu. Willys pun berjalan ke arah kumpulan mereka.
Willy tersenyum penuh maksud ke arah beberapa orang tersebut yang semuanya adalah wanita, "Maaf untuk kalian yang ada di sini tolong angkat kaki dari perusahaan mulai hari ini kalian dipecat!" Geramnya Willy.
__ADS_1
Semua orang yang berada disekitar tempat itu dibuat tidak percaya dan wajah mereka pucat pasi dan terkejut hingga ada yang nangis saking kagetnya dengan perkataan dari Willy.