Meraih Cintanya

Meraih Cintanya
Bab. 6. Galang Aryanta Martadinata


__ADS_3

Pria itu pun berdehem, "Heemm!! Sepertinya tanganku mulai pegal nih! Apa kamu bisa turun sekarang!?" Ketusnya Pria itu.


Sanjana segera melepaskan pegangan tangannya lalu berdiri tegap dan betapa malunya karena baru menyadari jika dirinya telah menjadi pusat perhatian dari seluruh pengunjung bandara. Wajahnya memerah menahan rasa malunya itu. Hingga wajahnya tersipu merona malu seperti buah tomat merah.


Apa yang terjadi di dalam bandara itu cukup mampu menarik perhatian dari sebagian pengunjung bandara internasional tersebut.


Sanjana segera memperbaiki posisi berdirinya dan juga pakaiannya yang sedikit berantakan gara-gara kejadian tersebut. Sanjana tidak menyangka jika pria yang berhasil menolongnya itu bukanlah suaminya sendiri Sayed Alfarizi Sungkar melainkan pria lain yang tidak kalah ganteng dengan suaminya itu.


"Ya Allah… kenapa bukan Mas Sayed yang menolongku malahan pria ganteng yang sama sekali aku tidak mengenalinya, tapi kalau diperhatikan dan dilihat secara detail dan seksama seperti pria ini mampu membantuku untuk melancarkan rencanaku untuk menunjukkan bahwa Sayed suamiku memiliki perasaan padaku, "batinnya Sanjana yang tersenyum penuh maksud.


Sania yang berdiri dari kejauhan melihat kejadian itu cukup dibuat marah karena apa yang sudah ia rencanakan dengan cukup matang tidak berhasil dengan baik dan malahan terkesan gagal total.


"Aku terlambat selangkah untuk menolong istriku tapi, aku tidak setuju jika ada pria lain yang menyentuh tubuhnya Sanjana, aku saja suami sahnya belum pernah memeluknya erat seperti itu! Aku akan mencari tahu siapa pria yang cukup kelihatan akrab dengan istriku Sanjana," kesalnya Sayed sang Casanova pura-pura itu.


"Sial! Kenapa juga ada orang yang rela menolongnya sih! Pria itu sok jadi jagoan dan pahlawan kesiangan yang sudah menggagalkan rencanaku kali ini, tapi jika ini gagal aku masih punya banyak waktu dan harus sukses tidak boleh gagal lagi!" Umpatnya Sania Mirza Hakim yang mencengkram erat kepalan tangannya saking marah dan jengkelnya dengan keadaan.


Sedang Pria tampan dan baik hati itu diam-diam memperhatikan Sanjana dengan seksama dari ujung kaki hingga ujung rambutnya.


"Kamu Sanjana kan?" Tanyanya Pria itu saat Sanjana berpura-pura membersihkan dan merapikan penampilannya untuk menutupi rasa grogi karena cukup malu harus berpelukan dengan pria lain di depan khalayak umum lagi.

__ADS_1


Sanjana yang disapa segera menolehkan kepalanya ke arah pria yang memanggil namanya itu," iya! Maaf apa Anda mengenal saya?" Tanyanya Sanjana penuh selidik.


Pria itu bukannya menjawab pertanyaan malah tertawa terbahak-bahak melihat orang yang sudah lama ia cari keberadaannya ternyata berdiri di depannya dengan jelas dan nyata.


"Iya benar aku Sanjana, kenapa emang?" Tanyanya lagi dengan keheranan.


Sanjana mengerutkan keningnya dan menautkan kedua alisnya tanda tidak mengerti dengan maksud pria itu memanggil namanya. Pria tersebut hanya nyengir lebar saja tanpa menggubris perkataannya Sanjana.


"Pria aneh!" Cicitnya Sanjana yang masih mampu di dengar oleh telinganya orang itu yang semakin membuatnya tertawa terpingkal-pingkal.


"Apa kamu sudah melupakan aku Sanjana?" Timpalnya pria itu.


Selama menikah dengan Sayed yang baru beberapa bulan saja, Sanjana harus menjadi pribadi yang berbeda dari kebiasaannya dan karakternya harus kalem, polos dan lugu dan penurut agar menarik perhatian dari suaminya itu.


Tapi usahanya belum membuahkan hasil yang maksimal jadi kemungkinannya Sanjana akan berubah taktik dan rencananya itu untuk mendapatkan seluruh kasih sayang,hati dan perhatiannya Sayed pria yang sejak sekolah menengah atas sudah diam-diam ia idolakan itu.


Sayed adalah salah satu dari sahabat abangnya Salim yang sering datang berkunjung ke rumahnya. Dari pertemuan mereka yang intens sehingga menimbulkan benih-benih cinta pertama dari Sanjana dan sejak mereka dijodohkan perasaan itu semakin besar, tetapi hal itu sulit untuk ia buktikan karena sudah ada nama seorang perempuan yang mendiami hati dan jiwanya Sayed.


"Apa benar kamu sudah melupakan temanmu yang sering kamu ajak manjat pohon mangga dua jambu yang ada di belakang sekolah setiap jam istirahat?" Tanyanya yang sekedar untuk mengingatkan semua kenangan mereka beberapa tahun silam.

__ADS_1


Sanjana akhirnya tertawa terbahak-bahak dikala mengingat kejadian tersebut. Ia sering kali mengajak beberapa teman kelasnya untuk menikmati buah dari pohon yang tumbuh di belakang sekolah mereka tepatnya di samping kelasnya.


"Kamu Galang atau Gilang?" Tanya balik Sanjana sambil berjalan mengitari pria yang mengaku sahabat terbaiknya itu yang los kontak ketika kedua orang tuanya Sanjana memilih untuk tinggal di Singapura dan setelah lima tahun baru kembali lagi ke tanah air tercinta Indonesia raya.


Galang tersenyum penuh arti," coba kamu tebak, kira-kira aku siapa dan aku mau lihat apa kamu masih bisa dan sanggup untuk membedakan kami berdua!" Imbuh Galang.


Interaksi dan kedekatan mereka membuat Sayed semakin murka dan amarahnya sudah membuncah hingga ke puncak ubun-ubunnya itu.


Tapi, Sayed selalu berusaha untuk menyembunyikan dan menutupi perasaan benci, jengkelnya dengan berpura-pura tidak peduli dan sok gengsi untuk berkata jujur di hadapan Sanjana. Karena sebenarnya Sayed pun masih ragu dengan apa yang terjadi padanya tentang perasaan itu. Apakah dia mencintai Sanjana ataukah hanya sekedar rasa iba atau rasa memiliki sebagai suami istri biasa saja.


"Apa kamu sudah bisa membedakan aku ini siapa?" Galang malah tersenyum melihat reaksi Sanjana yang masih seperti dulu saat mereka duduk di bangku sekolah menengah atas SMA.


Sanjana langsung berdiri di depan Galang dengan seringai liciknya, "Hal itu sangat mudah kok, aku yakin kamu itu Galang!" Jawabnya Sanjana yang masih mengingat beberapa teman dan sahabat dekatnya semasa putih abu-abu itu.


Galang tertawa cengengesan menanggapi perkataan dan tebakan dari Sanjana yang sangat benar dan tepat sekali.


"Aku kira kamu sudah melupakan dan tidak bisa membedakan antara aku dengan Abang Gilang," ujarnya yang tersenyum sumringah.


Sanjana tersenyum penuh kemenangan," hal itu sangat mudah, kamu itu memiliki tanda lahir di lengan kananmu yaitu tahi lalat dan juga ada di pergelangan tanganmu bekas luka dan luka itu kamu dapatkan saat terjatuh dari pohon mangga! Gimana dengan tebakanku kali ini!" Pungkas Sanjana yang berjalan ke arah kursi tunggu penumpang.

__ADS_1


Galang Aryanta Martadinata adalah sahabat terbaik yang Pernah dimiliki oleh Sanjana. Dia sejak dulu lebih dekat dan akrab dengan teman pria dari pada teman sebayanya sama-sama perempuan. Sanjana berpendapat bahwa perempuan itu terlalu banyak ulah dan tingkahnya jadi ia lebih suka bersahabat dengan pria yang lebih hidup simple dan tidak banyak tingkah berbeda dengan anak perempuan yang terlalu banyak maunya.


__ADS_2