MESKI ISTRIKU BUTA

MESKI ISTRIKU BUTA
10. Lebam


__ADS_3

Soraya tampak murung. Sudah dua hari ini ketukan pintu dari luar hanyalah kedatangan kurir pengantar makanan saja. Entah mengapa hatinya jadi merindukan kedatangan Dalvin. Ia mulai merasa kesepian kembali.


Tok Tok Tok


Suara ketukan pintu siang ini membuat ia menghela napas. Ia mulai merasa enggan. Baginya lebih baik makan roti seperti biasanya, daripada menunggu sesuatu yang tidak pasti.


Soraya bangkit dengan malas. Ia berjalan perlahan-lahan sambil meraba dinding menuju pintu.


"Aaaawww..."


Soraya menjerit kesakitan. Ia tidak menyadari bahwa ia berada di sudut yang salah. Kepalanya kepentok sudut lemari.


BRUUUK


Suara pintu rumah terdengar di buka paksa dari luar. Soraya tersurut mundur penuh ketakutan. Namun tiba-tiba saja tangannya serasa ditarik seseorang.


"Siapa kamu?" Pekik Soraya cemas. Ia berusaha memberontak.


"Tenanglah... Aku Dalvin..." Suara tak asing di telinga Soraya membuat ia mulai sedikit tenang. Jemarinya meraba-raba wajah Dalvin, berusaha meyakinkan dirinya bahwa yang datang memanglah sosok Dalvin.


Soraya tersenyum. Ia tidak mampu menyembunyikan rasa bahagianya.


"Kamu kemana saja?" Tanya Soraya tak berhenti tersenyum.


"Mencari kerjaan..." Jawab Dalvin singkat.


"Kamu pengangguran?" Soraya berusaha menyembunyikan tawanya di balik pertanyaannya yang terdengar mengejek.


"Kenapa jika aku pengangguran? Setidaknya aku bisa membelikanmu makanan tiga kali sehari setiap harinya..." Ketus Dalvin berlagak marah.


"Maaf..." Soraya merasa bersalah. Ia pikir perkataannya hanya bercanda, namun ucapannya malah membuat ia terpojok sendiri oleh balasan kata Dalvin yang terdengar menohok.


"Cckkk... Baru dua hari saja aku tidak datang kesini, wajahmu sudah dipenuhi warna begitu..." Oceh Dalvin seraya menarik lembut tangan Soraya menuju sofa.


"Warna? Warna apa memangnya?" Tanya Soraya sambil mengusap-usap wajahnya sendiri.


"Aww..." Lagi-lagi ia menjerit. Ia tidak menyadari dahinya yang baru saja kejedot lemari itu pun gores dan mengeluarkan sedikit darah.

__ADS_1


"Hati-hati... Nanti kukumu bisa membuat lukamu bertambah lebih besar lagi..." Ucap Dalvin sambil menahan tangan Soraya.


"Tunggu disini, aku akan mengambil kotak obat untukmu..." Perintah Dalvin, dan Soraya mengangguk pelan.


Dalvin mengambil kotak P3K di tempat yang sama sebelumnya. Lalu ia kembali duduk di hadapan Soraya.


"Kakimu sudah baik, kan?" Tanya Dalvin sambil membuka kotak obat di tangannya.


"Sepertinya sudah tidak sakit lagi... Terima kasih, Dalvin..." Ucap Soraya terdengar sungkan.


"Tidak perlu mengucapkannya..."


"Kenapa?" Soraya bingung. Ucapan Dalvin begitu judes menurutnya.


"Berapa kali kamu akan mengucapkannya? Sementara, kamu butuh aku setiap saat..." Jawab Dalvin tanpa memerdulikan perasaan Soraya setelah mendengarnya.


"Dasar menyebalkan... Jika aku beban bagimu, tidak perlu repot-repot datang kesini..." Ketus Soraya seraya bangkit.


Dalvin menarik lengan Soraya, sehingga gadis itu terhenyak kembali di atas sofa.


"Jangan sok ambekan..." Sarkas Dalvin.


"Kalau tidak ngambek, biar aku obati lukamu sekarang..." Ucap Dalvin.


"Tidak perlu..." Elak Soraya lantang.


"Soraaa..." Dalvin berteriak. Ia meremas kedua bahu Soraya, lalu menatap wajah gadis itu.


"Nikmati alat pendengarmu, sebelum ia hilang seperti penglihatanmu. Meski yang kamu dengar sangatlah menyakitkan, kamu harus bisa belajar menerimanya. Karena akan ada suatu hari nanti orang-orang yang menghina dan mengejek kekuranganmu, Sora... Tapi jangan patah semangat... Kamu harus bisa beradaptasi dengan dunia luar, meski kamu tidak bisa melihat."


Soraya tiba-tiba terisak.


"Aku tidak mau..." Tolak Soraya di balik sesenggukannya.


"Lalu sampai kapan kamu akan mengurung diri di rumah ini? Tanpa berbuat apa pun, dan tanpa ada orang-orang di sekitarmu..." Ucap Dalvin mulai melunak.


"Aku tidak berani... Aku takut..." Soraya menangis, tubuhnya menggigil membayangkan jika apa yang diucapka. Dalvin menjadi kenyataan, dan ia tidak bisa mengendalikan diri pada saat itu.

__ADS_1


"Aku akan menemanimu..." Bujuk Dalvin sambil menggenggam jemari Soraya.


"Tapi..."


"Sudahlah... Hentikan perdebatan ini sekarang. Aku akan mengobati lebam di wajahmu..." Paksa Dalvin.


Soraya mulai sedikit tenang. Semua lebam di wajahnya diakibatkan benturan benda-benda keras di rumah itu.


"Memangnya kamu tidak mengenal sedikit saja sudut rumah ini?" Dalvin bertanya dengan jengkel. Ia merasa kesal melihat gadis buta ini begitu menderita karena keterbatasannya.


Soraya menggeleng.


"Memangnya Rio tidak membantumu selama ini?" Tanya Dalvin lagi.


"Dia sering keluar. Mungkin aku membuatnya tidak nyaman atas kehadiranku disini..." Jawab Soraya sendu.


"Aneh... Kamu kan tidak datang sendiri ke rumah ini..." Ucap Dalvin merasa penasaran.


"Ah sudahlah... Apa pun alasan Rio, dia pasti melakukannya untuk kebaikanmu... Sebaiknya kita makan sekarang, aku juga sudah lapar..." Ucap Dalvin sambil menyiapkan makanan yang ia bawa tadi.


Siang ini mereka makan tanpa diselingin obrolan sedikitpun. Namun sesekali Dalvin melirik Soraya. Walau bagaimanapun, di balik wajah pucat dan kusut itu tersimpan keindahan yang tidak semua orang dapat melihatnya.


"Setelah ini, aku akan pergi..." Ucap Dalvin seraya menghentikan makannya.


"Sudah waktunya pulang?" Soraya berusaha menyembunyikan kesedihannya.


"Aku bisa saja tidak pulang-pulang ke rumahku sendiri..." Ucap Dalvin. "Aku ada perlu sebentar, nanti aku kembali..."


"Maksudnya, kamu nanti kesini lagi?" Tanya Soraya tak mampu menyembunyikan rasa senangnya.


"Iya... Jadi, kamu tidak perlu kemana-mana. Tunggu saja aku di sofa, aku akan mengantarmu kesana..." Ucap Dalvin sambil menuntun Soraya kembali ke sofa usai makan siang itu.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2