MESKI ISTRIKU BUTA

MESKI ISTRIKU BUTA
49. Perempuan Di Trotoar


__ADS_3

Dalvin sangat kecewa dengan kebodohannya sendiri. Sekarang ia menyesali, lalu bingung harus mencari istrinya kemana. Sudah berjam-jam ia berkeliling kota, namun tidak ada tanda-tanda kepastian untuk dirinya dapat menemukan keberadaan Soraya.


Ia lelah dan kemudian memutuskan berhenti di pinggiran jalan. Dalvin menyandarkan tubuhnya, rasa-rasanya ia sudah tidak sanggup menahan sesak yang membelenggu hatinya. Ia bagai mati dalam keputusasaan dan kerinduan yang ia tanggung sejak berpisah dari Soraya.


Dalvin memejamkan matanya untuk sesaat, namun ketika ia membuka kembali, ia melihat seorang perempuan tengah duduk di trotoar jalan sambil memeluk lutut. Gaun yang dipakai perempuan itu sangat mirip dengan gaun yang pernah ia belikan untuk Soraya dulu.


Dalvin terpana, hatinya begitu senang lalu segera keluar dan berlari mengejar posisi perempuan itu.


"Sora!" Panggil Dalvin dengan tersenyum lebar sambil memegang pundak si perempuan.


Senyuman Dalvin perlahan memudar ketika perempuan itu menengadahkan wajahnya.


"Maaf, ternyata aku salah orang..." Ucap Dalvin dengan raut lemas karena kecewa.


Dalvin tiba-tiba menjadi gugup. Hatinya pedih karena merasa dipermainkan keadaan, lalu perlahan-lahan berjalan mundur hendak meninggalkan perempuan yang disangkanya Soraya.


"Tunggu, Tuan..." Panggil perempuan itu menahannya.


"Ke- kenapa?" Tanya Dalvin seperti tak berselera.


"Saya lapar, bisakah Tuan memberi saya makanan?" Tanya perempuan itu memelas sambil menampung tangannya kearah Dalvin.


Dalvin terpelongo, namun sejurus kemudian ia mengeluarkan dompetnya dari dalam kantong celananya. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang bernilai tinggi, lalu disodorkannya kepada perempuan itu.


"Belilah makanan, aku tidak punya makanan sama sekali..." Ucap Dalvin.


Perempuan itu tersenyum girang. Walau ragu-ragu ia menerima uang pemberian Dalvin, namun raut wajahnya tidak bisa berbohong bahwa ia sangat senang.


"Terimakasih, Tuan... Semoga kebaikan selalu menyertai Tuan..." Ucap perempuan itu, lalu berlari dengan kaki telanjang meninggalkan Dalvin yang masih dirundung kepedihan.


Dalvin tergelak memandangi punggung perempuan itu yang semakin menjauh dari pandangan matanya. Ia tersenyum getir mengingat kondisi perempuan itu yang sangat menyedihkan.

__ADS_1


Bayangan Soraya kembali menari di ingatannya. "Bagaimana nasib Soraya sekarang? Apa dia juga merasa lapar? Apa dia akan terlihat menyedihkan juga seperti wanita tadi?"


Dalvin berkata-kata sendiri, sibuk mengira-ngira hal apa yang tengah dialami istrinya di luaran sana. Ia terduduk di trotoar tempat ia semula berpijak, mengusap kasar wajahnya yang terlihat kusut.


"Duta..." Kemarahannya tiba-tiba mencuat kembali ketika ia mengingat bahwa semua itu terjadi karena kejahatan kakak tirinya.


"Iya, benar... Ini semua karena dia..." Ucap Dalvin seraya bangkit dan kemudian kembali menuju ke mobilnya.


Perasaan Dalvin berubah-ubah. Ia bisa saja sedih, dan kali ini kembali marah. Ia segera melajukan mobilnya ke rumah untuk mencari keberadaan Duta.


Dalvin sama sekali tidak menghiraukan keselamatan dirinya sendiri, yang ada dalam benaknya hanya Soraya, dan mengapa kakak tirinya itu begitu kejam ingin memisahkan mereka.


Meski dengan kecepatan tinggi, beruntung Dalvin dapat sampai ke rumah dalam keadaan baik-baik saja. Kemarahannya semakin menjadi-jadi ketika matanya menemukan keberadaan mobil Duta tengah terparkir di pekarangan yang luas itu.


"Dutaaaaa!!!" Seru Dalvin sekencang-kencangnya. Ia berdiri di tengah-tengah rumah untuk menunggui kedatangan Duta memenuhi seruannya.


Beberapa kali memanggil, Duta datang dengan pongahnya. "Ada apa lagi denganmu? Tidak bosan-bosannya kamu berteriak di rumah ini, meskipun ini rumah peninggalan mendiang ibumu..."


Dean dan Sandra juga berlari ke arah mereka, menyaksikan kemarahan Dalvin kepada putra sulung di rumah itu.


Duta terpana untuk sesaat, lalu ia tersenyum sinis sambil mengibaskan tangan Dalvin dari tubuhnya. "Memangnya kenapa? Sudah punya uang untuk menggantinya?"


Dalvin semakin naik pitam. "Biadaab..." Teriak Dalvin seiring tinjunya mendarat keras di pipi Duta.


"Berani kamu menipuku, binataang..." Maki Dalvin sambil terus bertubi-tubi melayangkan pukulan ke tubuh Duta.


Duta tidak sempat mengelak, ia beberapa kali mundur dan terhuyung ketika mendapat pukulan Dalvin. Hal yang sama juga terlihat pada kedua orang tua mereka, kemarahan Dalvin yang membabi buta membuat mereka panik dan tidak tahu harus berbuat apa.


Sandra tampak menarik lengan Dean agar berusaha menghentikan perkelahian di antara kedua kakak beradik itu.


Dean melangkah maju, dan kemudian menarik kerah baju Dalvin di bagian belakang. "Kamu berniat membunuh kakakmu, hah?" Hardiknya.

__ADS_1


Dalvin terdiam, tatapannya masih tajam dan kuat mengarah kepada Duta yang telah babak belur dihajarnya. Ia menepis lengan Dean sekuat tenaganya.


"Dulu mamamu, sekarang kamu... Kalian benar-benar perusak kebahagiaan orang lain..." Kecam Dalvin, lalu berulang-ulang mengucapkan kata yang sama didasari hatinya yang panas.


"Berhenti berkata seperti itu, Vin... Tidak ada yang merusak kebahagiaan siapapun disini... Jika kamu membahas masa lalu, maka Papa orang yang patut dipersalahkan..." Ucap Dean menegaskan. Mata paruh baya itu memerah entah menahan amarah atau malah menahan kepedihan hatinya.


Dalvin menyunggingkan senyuman sinis. "Saya juga tidak butuh pembelaan, jadi, terus saja menyalahkan saya... Saya sudah biasa, sudah kebal..."


Dalvin hendak berlalu meninggalkan keluarganya itu, namun tiba-tiba telinganya mendengar sesuatu berderik. Ia menengadah ke atas, tampak rantai lampu gantung di ruang itu terlepas, tinggal kabel yang sudah genting menahannya dan siap terjatuh mengikuti gaya gravitasi.


Dalvin berlari kencang mengejar posisi kakak tirinya yang tampak terpana melihat dirinya.


"Dutaaaa..." Dalvin mendorong tubuh Duta hingga tersandar ke sofa. Sementara dirinya, PYAAAARRRR... Lampu itu berderai menimpa tubuh Dalvin.


Sandra menutup wajahnya, tidak kuat melihat apa yang telah terjadi di depan matanya saat ini. Sedangkan Dean segera berlari mengejar Dalvin yang sudah tidak sadarkan diri dengan tubuh dipenuhi banyak luka.


Duta menatap Dalvin tak percaya. Ia baru saja diselamatkan oleh saudara tirinya yang sering ia sakiti selama ini, yang membuat ia merasa benci dan selalu kalah di hadapan dunia.


"Panggil ambulaaaan..." Perintah Dean berteriak dengan tubuh menggigil mendekap tubuh Dalvin yang berdarah-darah.


Bi Yuna yang diam-diam menyaksikan di balik dinding, segera berlari ke tempat telepon rumah. Ia sambil menangis menghubungi ambulan.


"Vin, bertahanlah, Nak..." Ucap Dean gemetaran. Sandra perlahan mendekat, ada raut penyesalan di wajahnya. Air matanya terjatuh ketika mengusap pipi Dalvin yang dilumuri darah.


"Maafkan Mama, Vin..." Ucap Sandra membuat hati Duta semakin tersakiti. Duta tidak berani mendekat, ia hanya merasa malu dan menyesali dirinya sendiri dari kejauhan.


Duta bangkit perlahan-lahan dan kemudian berjalan mundur menuju ke kamarnya. Ia terlihat syok berat menyaksikan apa yang menimpa Dalvin demi menyelamatkan hidupnya.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2