MESKI ISTRIKU BUTA

MESKI ISTRIKU BUTA
40. Kamu Istriku Dan Selamanya Milikku


__ADS_3

Dalvin baru saja mengantarkan penumpang, tiba-tiba ponselnya berdering. Ia melihat ke layar ponselnya yang terletak di depannya.


"Dokter Sony?"


Dalvin segera menekan headset bluetooth yang tergantung di telinganya untuk menjawab telepon itu.


"Siang, Dok..." Sapa Dalvin dengan hati berdebar tak karuan. Mendadak saja wajahnya berubah senang saat mendengar perkataan dokter Sony dari seberang.


"Pasien ini masih muda. Ia mengalami kecelakaan beberapa hari yang lalu dan mengalami pendarahan di otak. Keluarga pasien telah ikhlas, dan mereka bersedia mendonorkan kornea mata pasien kepada yang membutuhkan." Jelas dokter Sony.


Di sisi lain Dalvin bersedih hati setelah mendengar cerita dokter Sony. Ia sangat Tahu betul betapa terlukanya hati keluarga pasien saat ini karena telah kehilangan salah seorang anggota keluarganya.


"Boleh saya menemui keluarga pasien itu terlebih dahulu, Dok...?" Pinta Dalvin. Suaranya terdengar serak menahan perih di hatinya.


"Tentu boleh, Tuan... Orang tua pasien masih berada di rumah sakit ini untuk menungguinya... Jenazah pasien juga akan dipulangkan nanti malam setelah semua urusan selesai..." Jawab dokter Sony.


Setelah telepon berakhir, Dalvin segera melajukan mobilnya ke rumah sakit. Ia sangat berterima kasih sekali kepada keluarga pendonor yang telah bersedia dengan sukarela memberi izin.


Sesampai di rumah sakit Dalvin langsung menemui dokter Sony untuk meminta tolong agar dipertemukan dengan keluarga pasien. Ia tidak mengerti dengan perasaannya yang bercampur aduk antara bahagia dan berduka.


Bahagia bahwa sebentar lagi istrinya akan dapat melihat, dan berduka untuk keluarga pendonor yang ditinggal anak mereka.


"Putra kami baru berusia dua puluh dua tahun... Dia anak yang baik dan suka sekali menolong orang-orang... Jadi, kami berpikir jika kami mendonorkan organ tubuhnya, maka ia akan berbahagia di surga..." Cerita ibu pendonor dengan berlinang air mata, sementara suaminya terus mengusap lembut bahunya.


Dalvin berkali-kali mengedipkan matanya yang basah. Ia tak tahan mendengar penuturan ibu itu yang tampak tabah meski sedang kehilangan putranya untuk selamanya.


Ia menatap wajah kaku yang terbaring di hadapannya dengan perasaan bersalah. Bukan ini yang ia harapkan, namun kenyataannya memang inilah kesempatan bagi Soraya untuk bisa melihat lagi.


"Izinkan saya untuk membalasnya suatu hari nanti, Bu... Setidaknya anggaplah saya putra Ibu dan Bapak, karena ibu kandung saya juga sudah lama meninggal..." Ucap Dalvin penuh kasih dan ketulusan.


Ibu itu menatap Dalvin sambil tersenyum, lalu beliau menghamburkan diri ke dalam pelukan Dalvin dan menangis sejadi-jadinya.


****


Dalvin merenung di dalam mobilnya. Ia terus saja memikirkan mayat pendonor tadi.


"Jika saja kecelakaan itu membuatku meninggal seperti dia, mungkin ceritanya akan berbeda... Tuhan, terimakasih telah beri aku kesempatan..." Ucap Dalvin sambil menengadahkan kepalanya ke langit-langit mobil. Dadanya kembang kempis menahan sesak.


Ia melajukan mobilnya ke rumah untuk menjemput Soraya.

__ADS_1


Dalvin begitu emosional, sehingga ketika ia sampai di rumah, ia langsung memeluk Soraya dengan erat.


"Ada apa?" Tanya Soraya merasa heran.


"Biar aku memelukmu sebentar, Sora..." Lirih Dalvin. Matanya mengkristal karena membendung tangis.


"Tapi, apa semua baik-baik saja?" Tanya Soraya semakin dibuat penasaran.


"Ummm..." Dalvin mengangguk. Ia mulai mengurai pelukannya, namun jemari Soraya malah ditahannya. Ia menatap wajah Soraya dengan penuh cinta dan dada yang berdebar kencang.


"Aku punya berita bagus untukmu..." Ucap Dalvin dengan suara terdengar serak.


"Apa itu?"


"Sebentar lagi, kamu akan bisa melihat, Sora... Ada mata untukmu... Kamu akan segera bebas dari kegelapan ini..." Terang Dalvin begitu bahagia.


Soraya terpana untuk sesaat, lalu bibirnya mulai menyunggingkan senyuman. "Benarkah?"


"Iya, Sora..." Dalvin kembali memeluk Soraya. "Apa kamu bahagia?"


"Ummm..." Soraya mengangguk. "Aku sangat bahagia..."


"Ada apa? Kenapa kamu malah terlihat tidak bersemangat begitu?" Tanya Dalvin dengan lembut.


"Jika nanti aku bisa melihat, apa kamu akan tetap melindungi aku? Apa kamu tidak akan pernah membiarkan aku sendiri?" Tanya Soraya dengan raut cemas.


"Tidak ada alasan untuk aku meninggalkan kamu, Sora... Kamu istriku, dan selamanya milikku..." Tegas Dalvin sambil menekuk leher belakang Soraya.


Soraya kembali tersenyum. Ia perlahan meraba dada Dalvin dan kemudian memeluknya. "Terimakasih, Vin... Aku tidak tahu apa jadinya aku tanpamu..."


Dalvin menggiring Soraya untuk duduk di sofa. Ia membelai rambut Soraya sambil terus menatap wajah istrinya itu.


"Sebenarnya dokter Sony telah menceritakan sesuatu sebelumnya, tapi aku baru berani bertanya sekarang...," kata Dalvin terdengar berat.


"Mengenai apa?"


"Kamu pernah datang ke rumah sakit itu sebelumnya, dan dokter Sony sangat hapal betul dengan Wajahmu, Sora..." Tutur Dalvin ragu-ragu.


"Rumah sakit Mitra Cahaya?" Tebak Soraya.

__ADS_1


"Bukan... Rumah sakit Alaska..." Ucap Dalvin cepat.


"Rumah sakit Alaska?" Soraya terlihat berpikir sejenak, lalu tiba-tiba ia tercengang.


"Apa yang dikatakan dokter itu?" Tanya Soraya cepat.


"Kamu pernah datang ke sana untuk menyelamatkan seseorang..." Ucap Dalvin


Soraya menggeleng.


"Dokter itu salah... Aku hanya berusaha untuk tanggung jawab terhadap kesalahan yang aku perbuat... Aku hampir saja membuat nyawa seseorang melayang karena kecerobohan diriku..." Ujar Soraya terdengar getir.


"Padahal itu sama sekali bukan kesalahanmu, Sora... Seseorang itulah yang ceroboh... Ia mengemudi dengan kencang, dan hampir saja mencelakai dirimu..." Bantah Dalvin.


"Tetap saja, waktu itu aku terburu-buru untuk menemui Rio ke rumah sakit... Dia tidak kembali dalam waktu yang ia janjikan, sehingga aku cemas dan langsung menyusulnya ke rumah sakit Mitra Cahaya... Tapi di jalan, aku malah membuat kesalahan dengan menyeberang tidak hati-hati... Aku panik..." Jelas Soraya berurai air mata.


"Oke, kalau memang begitu perasaanmu... Tapi mengapa masih saja mengkhawatirkan orang lain? Harusnya setelah kamu memastikan bahwa orang itu baik-baik saja, kamu bisa langsung pergi, kan?" Desak Dalvin kesal. Kesal karena tahu istrinya itu begitu sempurna karena kebaikan hatinya.


"Kamu bahkan memilih bertahan dalam kebutaan, dan membiarkan orang lain menikmati mata kekasihmu sendiri..." Ucap Dalvin berusaha menyembunyikan rasa cemburunya.


"Rio lelaki baik... Siapapun pasti sangat beruntung memiliki dirinya..." Ucap Soraya.


Dalvin semakin disakiti oleh perasaan cemburunya, namun ia tetap bertahan untuk tidak mengucapkan apa-apa.


"Akan mungkin aku sulit melepas kepergiannya jika aku benarlah kekasih Rio... Tapi aku dan Rio hanya kenal beberapa hari sebelum ia meninggal..." Tutur Soraya membuat dahi Dalvin mengerut heran.


"Ma-maksudmu?"


"Ya... Aku dan Rio sama sekali tidak punya hubungan apa-apa... Bukan sepasang kekasih, ataupun sepasang suami istri... Pertemuan kami hanya kebetulan di rumah sakit Mitra Cahaya... Dia orang baik..."


Dalvin masih terdiam menatap Soraya untuk mendengar lebih lanjut penjelasan dari istrinya itu tentang hubungannya dengan Rio.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2