MESKI ISTRIKU BUTA

MESKI ISTRIKU BUTA
54. Testpack


__ADS_3

Soraya termangu menatap testpack yang dipegangnya. Dua garis merah membuat ia syok berat. Sejak Bu Yas membahas tentang kehamilan kemarin, ia jadi kepikiran. Dan ternyata apa yang ia takutkan akhirnya terjadi juga.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?"


Rasanya begitu sulit, baru saja ia merasa tenang karena hampir berhasil melupakan Dalvin. Namun setelah ini bagaimana mungkin? Ia tengah mengandung anak dari lelaki yang ingin ia lupakan itu.


"Apa yang harus aku katakan kepada mama dan papa?" Gumamnya sambil terisak-isak.


Soraya bersandar di tepi tempat tidurnya. Pikirannya berkecamuk dalam kebimbangan, namun satu hal yang pasti, ia tidak akan pernah mencari keberadaan Dalvin lagi.


Malam ini orang tuanya kembali dari luar kota, sementara ia sama sekali belum siap untuk memberitahukan permasalahannya. Ia terus merenung, memikirkan bagaimana caranya ia memulai mengatakan hal yang sebenarnya.


Di luar rumahnya yang mewah, tampak sebuah mobil masuk ke pekarangan. Sepasang suami istri yang tidak lain adalah sahabat mendiang mama Dalvin keluar dari dalam mobil itu.


"Aku sudah merindukan putriku..." Ucap Raya pada suaminya.


"Tidak diragukan lagi, jika dekat dengannya, maka aku akan terlupakan..." Jawab suaminya berlagak cemburu.


"Sayangnya dia hanya memikirkan kamu..." Raya berubah sendu, lalu suaminya tertawa seraya merangkulnya.


"Mandilah dahulu, nanti kita akan bicarakan mengenai rencana kita tadi kepada Sora..." Ucap suaminya sambil mengecup kening Raya. Mereka saling merangkul ke dalam rumah menuju ke kamar mereka.


"Mama sangat yakin, Pa... Jika nanti Dalvin bertemu Sora, ia akan langsung jatuh cinta..." Celoteh Raya sambil tersenyum-senyum.


Angkasa, suami Raya hanya mengelus lembut kepalanya. Ada guratan keraguan terlukis di wajahnya. "Semoga saja, ya, Ma..."


Raya mengangguk. "Entah mengapa aku melihat Wulan dalam diri anak itu... Aku langsung saja berambisi untuk menikahkan anak kita dengannya. Kamu tahu, kan, aku juga sudah janji dengan Wulan?"


"Iya... Tapi kamu harus ingat, jangan bersikap seperti yang terakhir kali... Dengan memaksakan keinginanmu, bisa saja anak kita yang terluka... Aku tidak mau Sora kabur lagi, Ma... Kasihan dia... Gara-gara kita memaksanya menemui Dalvin dalam keadaan buta, ia marah..." Ujar Angkasa berusaha membuat istrinya mengerti.


"Iya, Pa... Mama jadi menyesal jika mengingat hal itu..."


Sementara itu, Soraya masih saja dirundung kepedihan. Ia mulai pasrah dan mengelus lembut perutnya. "Mama tidak pernah menyesali kehadiran kamu, Sayang... Mulai hari ini kita akan hidup bersama meski tanpa adanya seorang papa..."


Soraya mendengar pintu kamarnya diketuk dari luar. Ia segera menghapus sisa air matanya, lalu turun dari tempat tidur untuk membukakan pintu.


"Mama? Papa?" Ia tersenyum Dan kemudian memeluk Raya, mamanya.


"Papa tidak dipeluk?" Angkasa pura-pura menggerutu.

__ADS_1


Soraya tertawa kecil, lalu menghamburkan dirinya ke dalam pelukan papanya itu.


"Ayo kita bicara di dalam, Sayang..." Ajak Raya sambil menarik tangan Soraya dengan lembut .


Mereka bertiga duduk di sofa depan tempat tidur Soraya. Angkasa memandang Soraya dengan keraguan, sosok ayah yang terlihat mengkhawatirkan putrinya.


"Sora..." Panggil Raya ragu-ragu.


"Iya, Ma? Ada apa?" Tanya Soraya sambil menatap wajah mamanya dengan seksama.


""Emmmm... Sebenarnya Mama masih ingin sekali mempertemukan kamu dengan putra dari mendiang teman Mama..." Ujar Raya memulai pembicaraan di antara mereka.


"Kamu sekarang mau, kan, Nak?" Tanya Raya lagi dengan nada penuh harap.


Soraya terdiam. Wajahnya memerah ketakutan, ia dilema dipenuhi kebimbangan. "Jika Sora menolak lagi, apa Mama akan kecewa?"


Raya melirik suaminya sesaat. "Apalagi yang membuatmu menolak, Sayang?"


Soraya mengambil testpack miliknya tadi, lalu dengan penuh ketakutan berjalan ke arah orang tuanya sambil menggenggam alat itu erat-erat.


"Apa, Sayang? Apa yang kamu coba sembunyikan dari papa dan Mama?" Tanya Raya keheranan.


Angkasa berdiri menghadap ke tubuh Soraya, lalu menggamit kedua bahunya. "Papa mohon, jangan ada kabar buruk, Sayang... Tidak apa-apa jika kamu menolak permintaan mamamu, Nak..."


Angkasa seakan tahu apa yang terjadi, meski ia belum mendengar penjelasan apapun dari Soraya. Ia seorang ayah yang bertahun-tahun mengenal watak putrinya, dan pada malam ini ada permasalahan besar dalam firasatnya tentang Soraya.


Raya terlihat bingung, namun jika sudah begini suasananya, maka firasat suaminya tidak akan salah.


"Sora, kamu tidak pernah berbohong... Waktu kamu pergi, kamu selalu menghubungi pak Dwi dan memintanya agar memberitahu papa dan mama bahwa kamu baik-baik saja, sehingga kami percaya apapun yang menjadi keputusanmu..." Ujar Angkasa menunggu penjelasan Soraya yang masih bungkam. Ia terus menunduk sambil menggenggam testpack miliknya.


"Sora..." Panggil Raya memelas.


"Maafin Sora, Ma..." Soraya menjatuhkan dirinya di hadapan mamanya sambil terisak-isak. Angkasa dan Raya pun semakin dibuat bingung olehnya.


"Katakan, Sora, ada apa?" Desak Angkasa mulai cemas.


Soraya membuka telapak tangannya yang berisi testpack positif dua garis merah itu dengan tersedu-sedu. Mata Raya dan Angkasa terbelalak, tiba-tiba wajah mereka berdua berubah tegang.


"Apa ini, Sora?" Tanya Raya seakan tidak ingin mengerti.

__ADS_1


"Jangan bilang ini milikmu, Nak..." Ujar Angkasa seolah tak terima.


"Maafin Sora, Ma, Pa..." Ucap Soraya sambil menangis tersedu-sedu.


Angkasa menggeleng. "Siapa? Dengan siapa kamu berbuat, hmm?"


Angkasa mencengkram kedua bahu Soraya. Ia terlihat sangat marah mendengar pengakuan Soraya.


Soraya menggeleng. "Sora tidak tahu, Pa... Dia, dia meninggalkan Sora sebelum Sora sempat mengenali wajahnya..."


Angkasa terhenyak ke sandaran sofa, ia mengusap kasar wajahnya yang memerah.


"Maa...." Soraya menahan lengan Raya yang hendak berdiri.


"Ma... Maafkan Sora, Ma... Untuk kali ini tolong maafkan Sora..." Isak Soraya sambil berlutut di hadapan mamanya.


"Pa..." Soraya beralih memandangi Angkasa yang masih bergeming. "Tolong percaya Sora sekali ini, Pa..."


Soraya memelas berharap belas kasih kedua orangtuanya. Ia masih belum berani jujur, karena semua akan terasa percuma jika ia mengatakan siapa ayah dari bayi yang dikandungnya. Ia yang hampir setahun bersama tidak tahu siapa, apalagi kedua orangtuanya yang tidak pernah bertemu.


Angkasa menghela napas berat. "Setelah perutmu membesar, tinggallah di desa kelahiran pak Dwi... Untuk kali ini menurut lah, Sora..."


Soraya dengan berat hati mengangguk. "Maafkan Sora, Pa..."


Ia masih menangis, merasa menyesal telah membuat kedua orangtuanya merasa kecewa karena ulahnya.


Kedua orang tua Soraya keluar dari kamarnya dengan perasaan sedih. Mereka tidak bisa marah, karena itu tidak sepenuhnya kesalahan putrinya.


"Andai waktu itu Mama tidak egois dengan memaksakan perjodohan Sora dengan Dalvin, Pa... Mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi... Mama pikir Sora memang bertemu orang baik, tapi ternyata..." Raya terisak di dada suaminya.


"Ini sudah jadi takdir Sora, Ma... Papa yakin, dengan dukungan kita, Sora akan lebih kuat menjalaninya..." Ucap Angkasa menenangkan Raya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2