
Dalvin menggenggam ponselnya dengan erat. Dia kecewa terhadap dirinya sendiri karena telah membuat Soraya menangis terisak-isak.
Ada yang hilang dalam dirinya, kosong dan hampa. Sebelumnya hanya jarak yang memisahkan mereka dalam hari-hari berjuang bagi Dalvin untuk kesembuhan mata Soraya, bukan waktu. Ia hanya pergi pagi dan pulang tengah malam, namun tetap akan kembali kepada Soraya dalam hari yang sama. Tapi kali ini, ia pergi demi memenuhi tekanan dari kakak tirinya yang kejam untuk menjauh dari kehidupan istrinya sendiri selamanya.
Ia benar-benar tidak diizinkan bahagia oleh Duta, dan sepertinya Duta sangat phobia dengan kebahagiaan yang ia rasakan, sehingga ada saja kejahatan yang dilakukan Duta untuk memastikan dirinya terpuruk dalam kehancuran.
Dalvin membuka ponselnya dan mengirimkan sebuah pesan kepada Soraya. Setelah itu ia malah terisak sendiri. Wajahnya memerah hingga ke telinganya menahan kepedihan hatinya.
"Maafkan aku, Sora... Maaf..." Tangis Dalvin. Sepertinya ia sudah jatuh dalam lubang kecintaan terhadap istrinya itu, sehingga ia berasa tidak bernyawa jika keluar darinya.
Dalvin bergegas masuk ke dalam mobilnya setelah lama berdiri di balik gerbang rumah minimalis yang ia tempati selama pernikahannya dengan Soraya. Ia terus mengamati pergerakan Soraya dari dalam mobilnya itu.
Sementara di dalam rumah, hati Soraya sangat hancur ketika membaca pesan dari Dalvin.
"Aku tahu dari Duta bahwa operasi matamu berhasil, jadi lebih baik jika kamu langsung membaca pesan dari aku, kan? Hitung-hitung mengganti aktivitas yang selama ini tak mampu kamu lakukan, MEMBACA... Pergilah kamu dari hidupku, aku sudah tidak mungkin berjalan bersamamu lagi... Duta telah melepaskan perempuan yang aku suka, dan aku akan kembali bersamanya... Amanat Rio sungguh merepotkan bagiku, makanya aku berusaha keras untuk kesembuhan matamu... Ya, walau sia-sia, setidaknya ada Duta yang membantuku membayar operasinya... Oh ya, untuk beberapa malam waktu yang kamu habiskan melayaniku, anggap saja sebagai bayaran semua kebutuhanmu yang aku tanggung selama ini..."
Soraya menjerit kesal. Ia kesal karena belum juga percaya bahwa lelaki yang dianggapnya sebagai malaikat selama itu melainkan hanya seorang lelaki biasa yang berhati iblis.
Ia membanting ponselnya ke lantai hingga berderai. Bukan kesalahan ponsel, akan tetapi karena ponsel itu merupakan pemberian Dalvin.
"Setidaknya kenapa tidak datang menemui aku, hah? Aku ingin menatap manik matamu, mencari kebohongan di dalamnya..." Isak Soraya.
Soraya perlahan bangkit dari duduknya, ia berjalan mendekati lemari tempat ia biasa menenangkan diri apabila ia merajuk kepada Rio, hal yang tidak pernah ia lakukan ketika bersama Dalvin.
"Benarkah sahabatmu seperti ini? Biar aku tidak hidup dalam kemewahan bersamanya, tapi aku selama ini bahagia... Mungkinkah dia tertekan oleh kakak tirinya yang psikopat itu? Kalau ia, aku akan membantunya untuk memberi pelajaran kepada kakak tirinya itu..."
Soraya meremas kedua lututnya sendiri. Tatapannya tajam membayangkan wajah Duta yang diingatnya telah banyak memberi kesakitan kepadanya dan Dalvin.
__ADS_1
Tapi ia bingung, ia bahkan tidak tahu dimana kediaman Fernando, meskipun ia sadar Dalvin tidak akan pernah datang ke sana setelah peristiwa terakhir kali.
Soraya menggeleng, "aku tidak akan mencari jalan yang mudah untuk mendapatkan kamu, Vin... Jika kamu sudah memutuskan untuk pergi, maka kamu sendiri yang harus berjuang untuk kembali..."
****
Dalvin melirik ke kursi sebelahnya, disitu telah tertumpuk barang-barang miliknya yang telah ia ambil sebelum Soraya masuk ke dalam rumah.
"Maafkan aku, Sora, aku harus pergi... Semoga setelah ini kamu baik-baik saja..."
Dalvin segera melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah itu dengan berat hati. Ia harus pergi, karena ia tahu orang-orang suruhan Duta sedang mengintai dirinya. Ia takut jika Duta malah menyakiti Soraya.
Dalvin kembali ke rumahnya, tempat ia dibesarkan tanpa kasih sayang. Ia mendengus melihat rumah itu, teringat kejadian terakhir kali.
"Sora tidak akan percaya jika aku kesini, sehingga aku terpaksa harus menjilat ludahku sendiri di depan mama Sandra dan papa..." Gumam Dalvin.
"Pulang juga kamu?" Sindir Sandra.
"Ini rumah mamaku yang dibelikan mertuanya, jadi, tidak ada salahnya jika aku mau keluar masuk ke rumah ini... Hati-hati saja, sebaiknya Anda segera meminta suami Anda membelikan rumah baru untuk Anda dan putra Anda tinggal, sebelum anak dari pemilik rumah ini mengusir Anda..." Jawab Dalvin tak kalah ketus, dan kemudian berlalu meninggalkan Sandra yang terlihat panik tak berani berkata-kata karena merasa terhimpit lidah.
Sandra menghempas majalah yang ia pegang karena begitu kesal mendengar jawaban Dalvin yang tampak berani melawannya.
"Sejak kapan dia jadi berani begitu?" Sungut Sandra.
Dalvin masuk ke dalam kamarnya. Ia menutup kembali pintu kamar dengan pelan-pelan. Bayangan Soraya tengah selonjoran di atas tempat tidur menunggu dirinya setiap pulang bekerja, membuat ia merindukan masa-masa itu.
Ia berjalan perlahan ke tempat tidur, lalu membaringkan tubuhnya tanpa membuka sepatu terlebih dahulu. Hatinya masih terasa perih mengingat istrinya sendirian, perempuan polos dari desa.
__ADS_1
Aku pernah meminta Tuhan untuk kembalikan mama sekali saja, tapi Tuhan tidak kabulkan... Kali ini, aku akan merengek kepada Tuhan untuk dapat mempertemukan kita lagi di lain waktu... Sora, sampai aku menyelesaikan masalahku dengan Duta, bersabarlah menungguku sebentar... Aku pasti akan menjemputmu kembali... Aku suamimu, kamu istriku, dan benar kamu selamanya milikku...
Dalvin tertidur dalam keputusasaan. Dalam hati yang begitu perih menahan kerinduan. Ingin sekali ia bertanya kepada Soraya, apa semua baik-baik saja ketika menjalani pencangkokan kornea mata itu.
Di sekeliling kamar masih sama, kamar yang berantakan setelah terakhir kali ia dan Duta berkelahi demi sebuah harga diri. Harga diri perempuan yang hampir dilecehkan oleh kakak tirinya, dan harga dirinya sendiri sebagai seorang suami dari perempuan itu.
Setelah waktu beranjak petang, Dean pulang dari kantor. Sandra berlari menyambut suaminya sambil mengadukan anak tirinya yang tiba-tiba saja datang tadi siang.
"Kapan papa akan membelikan rumah untuk mama?" Tanyanya menggerutu.
"Rumah?" Dahi Dean mengernyit.
"Anak kesayanganmu baru saja pulang, ia berencana akan mengusirku dan Duta..." Cerita Sandra.
"Memang begitu?" Tanya Dean tak lantas percaya dengan aduan Sandra.
"Tanya saja padanya..." Ketus Sandra mulai kesal melihat sikap Dean yang tidak serius menanggapi aduannya.
Dean tak lagi menggubris ucapan istrinya itu, ia langsung berjalan ke kamar Dalvin untuk memastikan kepulangan putra keduanya.
Ketika ia membuka pintu kamar Dalvin, ia tersenyum melihat Putranya itu tengah tertidur pulas sambil memeluk guling. Sementara ia tidak tahu penderitaan apa yang dirasakan Dalvin sekarang oleh putra pertamanya.
.
.
.
__ADS_1
.