
Dalvin membenarkan ucapan Soraya semalam, bahwa ia sebenarnya tidak sanggup jika harus menjual mobil kesayangannya. Bukan karena mewahnya, melainkan karena berharganya mobil itu dalam hidupnya.
"Mobil itu sering aku pakai ke makam mama, mobil itu juga yang sering aku pakai bersama Rio… Dan mobil itu juga yang membuat aku mengerti bagaimana kehidupan Soraya. Soraya benar, tidak seharusnya aku menjual mobil itu…." Gumam Dalvin sambil menikmati perjalanan menuju kantor dengan menumpangi busway.
Ini pertama kali bagi Dalvin menumpangi busway, sehingga ia sedikit terheran-heran dan takjub dengan kehidupan sederhana yang banyak dirasakan oleh orang-orang biasa.
Di dalam busway, ia juga bisa ngobrol ringan bersama penumpang lainnya, terutama penumpang yang sebangku dengannya.
Seperti yang diperintahkan oleh atasannya semalam, Dalvin harus terlebih dahulu menyiapkan segelas kopi untuknya. Dan itu ia kerjakan setiap pagi.
Hari-hari terus berlanjut, hingga sebulan bekerja ia menerima gajinya.
Dalvin membuka slip gaji yang ia terima, dan ia malah tersenyum melihat nominal yang tertera di kertas itu.
"Sebulan bekerja keras, aku hanya mendapatkan segini? Ya Tuhan, rasanya aku tidak pernah mencela dan merendahkan siapapun, tapi kenapa aku merasa bersalah sendiri ketika aku kembali mengingat diriku yang dulu? Dulu, aku dengan mudahnya menghasilkan uang banyak tanpa harus bekerja sekeras ini… Aku hanya perlu menandatangani dokumen-dokumen penting, lalu tak lama dananya cair…."
Dalvin terduduk lesu di halte, ia masih tidak percaya bahwa ia sanggup bertahan menjadi pegawai biasa selama sebulanan ini.
"Semangat, Dalvin… Semangat…." Ucapnya menyemangati dirinya sendiri lalu berjalan menghampiri bus yang baru saja datang.
Sesampai di rumah, ia juga disambut dengan senyuman oleh Soraya.
"Kalau nggak salah hari ini ada yang gajian, kan?" Soraya datang menghampiri Dalvin.
"Iya, aku… Temui dulu aku, maka aku akan memberikan separuhnya padamu." Ucap Dalvin segera berpindah posisi menjauh dari Soraya.
"Tiga per empat?" Tantang Soraya.
"Baiklah…" Jawab Dalvin, lalu ia kembali berpindah tempat.
"Pejamkan matamu…." Perintah Soraya.
Dalvin menurut, ia memejamkan matanya dan tetap berdiri di posisinya.
__ADS_1
Tak lama, Dalvin merasakan tangan halus Soraya telah bergerilya di wajahnya.
"Dapat!" Seru Soraya terdengar senang.
Dalvin membuka kembali matanya. Ia melihat senyuman Soraya yang begitu polos seperti anak kecil. Tidak canggung dan tidak pula malu-malu.
Dalvin menggamit kedua pipi istrinya yang mulai bersemu merah. "Kenapa secepat itu dapat menemukan keberadaan diriku?" Tanyanya.
"Entah…, aku hanya mengandalkan telinga dan hidungku. Dan terutama hatiku…. Aku bisa menyadari keberadaanmu karena aku sudah terbiasa dengan kehadiranmu… Entah apa jadinya jika aku tanpamu…." Lirih Soraya.
Dalvin mengusap-usap pucuk kepala Soraya. Ia sadar jika ia sangat dibutuhkan oleh gadis buta ini sampai kapanpun.
Malamnya mereka makan bersama. Dalvin terus memerhatikan Soraya. Benar-benar polos, namun hatinya begitu iba melihat kondisi Soraya. Harusnya Soraya bisa menikmati makanannya sendiri dengan nyaman.
"Aku ingin mencari pekerjaan tambahan, mungkin aku akan terlambat pulang setiap harinya…." Kata Dalvin.
"Memangnya gajimu kurang? Kenapa harus mencari pekerjaan tambahan? Aku cuma bercanda tadi, kamu tidak perlu memberikan sepersen pun uangmu padaku… Ikut menikmati seperti ini saja aku sudah senang…." Ucap Soraya.
"Bukan begitu, Sora…. Ada yang ingin aku beli, tapi mahal. Dua puluh kali lipat gajiku sekarang, tidak akan cukup…, sementara aku sangat berambisi…" Tutur Dalvin benar-benar membutuhkan uang tambahan.
"Belum tahu... Yang penting aku akan mengusahakannya..." Jawab Dalvin begitu yakin.
"Terserah kamu. Aku hanya bisa berdoa-"
"Semoga berhasil…." Potong Dalvin cepat.
Soraya menyemburkan tawanya. "Memang seharusnya, kan?"
Dalvin membenarkan sambil ikut tertawa. Ia tersenyum melihat betapa cerianya Soraya meskipun dalam keadaan buta.
****
Duta terlihat tidak bersemangat, meskipun ia sekarang sedang bersama Amira. Sepanjang Amira bercerita, tidak satupun yang ia dengarkan dengan baik.
__ADS_1
Bayang-bayang Soraya terus menghantuinya. Bukan karena Dalvin mencintai Soraya, melainkan ia yang telah tertarik dengan gadis buta itu.
"Jadi bagaimana, Kak? Apa lebih baik pernikahan kita diselenggarakan di taman Matahari Biru saja? Biar kesannya lebih mewah, sekaligus launching untuk taman yang Kak Duta bangun." Ujar Amira bersemangat.
Duta tidak menjawab. pikirannya melayang membayangkan Soraya yang begitu cantik.
"Kak Duta... Kak... Kak Dutaaa..." Amira mengguncang bahu Duta. Ia mulai kesal.
"Eh... I-iya, kenapa?" Tanya Duta gelagapan.
"Kak Duta mikirin apa? Kenapa Kak Duta lebih sering melamun sekarang? Kak Duta seperti orang yang terpaksa jika jalan bersama Amira... Kenapa?" Amira kesal. Wajahnya memerah menahan rasa jengkel.
"Benar kata Dalvin, Amira... Aku tidak suka kamu... Tujuanku mendekatimu hanya untuk menyakiti perasaan Dalvin..."
Bagai disambar petir, Amira terkejut mendengar pengakuan Duta.
"Kak Duta bercanda, kan?" Tanya Amira mendesak.
"Tidak, Amira... Itulah yang sebenarnya. Tidak ada yang istimewa dari kamu..., " kata Duta tak berperasaan. Ia bahkan mengabaikan air mata Amira yang telah berlinangan.
"Apa ini karena Dalvin? Apa Kak Duta diminta Dalvin untuk bicara begini pada Amira?" Tanya Amira tak percaya.
"Untuk apa aku memikirkan perasaan Dalvin? Aku lebih suka dia sengsara dan menderita, Amira... Bahkan aku sampai terpaksa menyatakan cinta kepadamu hanya karena aku menyangka dia menyukaimu..." Jelas Duta mulai kesal.
"Kamu sering bertanya kemana cincinku, kan? Aku membuangnya, dan kemarin aku mencarinya untuk dikembalikan kepadamu..." Duta merogoh kantong kemejanya, lalu mengeluarkan sebuah cincin dan kemudian ia berikan kepada Amira.
Amira terperangah. Ia menangis, tapi sesaat kemudian ia menghapus air matanya dan menanggalkan cincin di jari manisnya. Ia menyatukan kedua cincin itu, lalu menghempaskannya ke dada Duta.
"Tega kamu, Kak?" Bentak Amira seraya pergi meninggalkan Duta.
.
.
__ADS_1
.
.