MESKI ISTRIKU BUTA

MESKI ISTRIKU BUTA
55. Bisakah Kita Mulai Dari Awal Lagi?


__ADS_3

Soraya berdiri di pelataran rumah, menatap laut lepas sambil mengelus perutnya yang membesar. Deru ombak memecah keheningan. Ia begitu kesepian. Air matanya tiba-tiba bergulir begitu saja. Hampir setengah tahunan berlalu, dan ia habiskan hanya di desa kelahiran pak Dwi untuk menyembunyikan dirinya yang tengah hamil tanpa suami.


Sesekali kedua orangtuanya akan berkunjung untuk melihat keadaannya, membawa segala kebutuhannya meski terkadang ia tidak membutuhkan itu.


"Sungguh aneh, tapi ini benar-benar nyata... Mama masih merindukan kehangatan dalam pelukan papamu, Nak..." Bisik Soraya mengarah pada perutnya itu.


Tak lama, sebuah mobil berhenti di depan rumah. Tampak kedua orangtuanya bersama pak Dwi turun dari mobil itu. Soraya cepat-cepat menyeka air matanya, lalu mendekat dengan perlahan kearah papanya.


"Semua baik-baik saja, kan?" Tanya Angkasa sambil merangkul bahu Soraya dan masuk ke dalam rumah.


Ia mengangguk sambil tersenyum. "Hanya saja Soraya merasa sedikit mules, Pa..."


Mendengar pengaduan putrinya, Raya segera mendekat. "Kita ke rumah sakit sekarang..."


Angkasa menatap Raya begitu tajam. Ia lebih panik, karena pada dasarnya ia pernah melewati hal seperti itu ketika istrinya melahirkan Soraya dulu. Ia lebih cepat tanggap dari siapapun meski bukan dirinya yang merasakan sakit mengandung dan melahirkan.


Ia begitu karena menyaksikan sendiri bagaimana perjuangan Wulan untuk melahirkan Dalvin, sehingga ia takut hal yang sama terjadi pada Raya atau pun Soraya.


"Biar saya siapkan mobil, Tuan..." Ucap Pak Dwi.


Di luar gerimis mulai turun, lalu tak lama hujan deras mengguyur. Soraya berhenti sesaat merasakan guyuran derasnya hujan, hatinya terasa pedih. Ini kali pertama ia hujan-hujanan sejak terakhir kali berdansa dengan Dalvin.


"Sora, ayo masuk..." Panggil Raya sambil menarik tangannya.


Soraya seakan tuli, ia terbius akan kenangan indah itu.


"Sora, apa yang kamu lakukan?" Panggil Angkasa sambil merangkul paksa bahu Soraya menuju ke dalam mobil.


"Semua akan baik-baik saja, kamu jangan khawatir..." Ucap Raya yang melihat kesedihan dalam raut wajah putrinya. Ia menyeka tubuh Soraya yang basah dengan handuk kecil.


Mobil melaju menembus derasnya hujan. Soraya mulai merintih, tiba-tiba perutnya terasa sangat sakit. Angkasa segera memeluknya dengan erat.


"Tahan sebentar ya, Nak..." Ucap Angkasa menenangkan.


"Sakit, Pa..." Ucap Soraya meringis. Beberapa kali ia menahan nafas, berharap rasa sakit itu mereda.


Hujan semakin deras, bunyinya begitu berisik mengalahkan erangan Soraya yang menyayat hati.


"Tahan, Sayang... Tahan sebentar saja, kita hampir sampai di rumah sakit..." Ucap Raya tak kalah panik.


Angkasa memeluk tubuh Soraya dengan erat. Ia tahu, ini antara hidup dan mati untuk Soraya, dan ini juga kali pertama bagi putrinya itu. Apalagi tanpa didampingi seorang suami yang seharusnya bisa membuat Soraya merasa lebih tenang dan hangat.

__ADS_1


Mereka sampai di rumah sakit, dan Angkasa segera menggendong putrinya ke ruang bersalin.


Setelah diperiksa dokter, Soraya dinyatakan akan segera melahirkan. Memang lebih cepat dari yang seharusnya karena adanya pelepasan hormon yang disebabkan oleh dirinya yang banyak pikiran.


"Apa suami nona Soraya belum kembali?" Tanya dokter kepada orang tua Soraya.


Angkasa terlihat gugup seketika.


"Be-belum, Dok... Kemarin sempat kembali, dan tadi pagi harus keluar kota lagi..." Raya menatap suaminya untuk meminta bantuan.


"I-iya, Dok..." Jawab Angkasa begitu tegang. "Bisakah saya yang menemani putri saya, Dok...? Ini pertama kali baginya.


****


Duta terus berada di sisi Dalvin pada saat senggang. Ia berharap adiknya terbangun dari komanya yang sudah berbulan-bulan lamanya, lalu melihat ketulusan dari wajahnya bahwa ia benar-benar telah berubah dan siap menjadi kakak tiri yang baik.


"Aku belum menemukannya, Vin... Aku tidak tahu harus mencarinya kemana lagi..." Ucap Duta terlihat putus asa.


"Bangunlah... Mari kita cari dia bersama-sama. Aku sedikit kesulitan karena tidak memiliki satu pun gambarnya... Kamu mencintainya, bukan?" Ucap Duta lagi seolah membujuk.


Duta menggenggam jemari Dalvin, namun alangkah terkejutnya ia ketika merasakan gerakan di jari Dalvin.


Gerakan itu terhenti dan membuat Duta kembali tak berdaya. Ia tertunduk lesu, harapan agar Dalvin tersadar telah pupus.


"Sora..."


Duta menoleh kembali ke wajah Dalvin. Ia begitu terpana melihat gerakan di bibir Dalvin yang beberapa kali menyebut nama Soraya.


"Vin..." Panggil Duta seraya bangkit dan mendongakkan wajahnya lebih dekat ke wajah Dalvin.


"Sora..." Lagi-lagi Dalvin memanggil nama istrinya.


"Vin... Vin..." Duta sedikit mengguncang bahu Dalvin, berharap agar mata adiknya yang terpejam segera terbuka lebar.


Kakinya gemetaran melangkah keluar untuk menemui dokter. Ia terlihat antusias menyambut kehadiran adiknya yang telah lama terbaring koma di rumah sakit itu, dan begitu optimis bahwa Dalvin benar-benar akan sadar.


Mendengar keterangan Duta, dokter segera menuju ke ruangan Dalvin. Ternyata Dalvin telah tersadar ketika Duta keluar tadi.


Duta membiarkan dokter memeriksa Dalvin, ia menghubungi kedua orangtuanya dan memberitahukan kabar bahagia itu kepada mereka.


"Sudah berapa lama saya disini, Dok?" Tanya Dalvin dengan suara terdengar parau.

__ADS_1


"Hampir sembilan bulan, Tuan..." Jawab dokter itu sembari tersenyum.


"Sembilan bulan?" Dalvin terperangah, ia berusaha bangkit dari tidurnya, namun dokter malah menahannya.


"Jangan dipaksakan, Tuan... Tubuh Anda masih lemah..."


"Istri saya kemana, Dok? Apa dia ada mengunjungi saya?" Tanya Dalvin.


"Istri? Saya tidak pernah melihat istri Anda, Tuan... Hanya ada kakak dan kedua orang tua Anda yang sering berkunjung. Beruntung sekali Anda memiliki kakak yang pengertian seperti Tuan Duta..." Jawab dokter itu sembari tersenyum.


"Kakak? Beruntung?" Dalvin berucap dengan nada mengejek.


"Iya... Beliau yang selalu datang kemari untuk menemani Anda... Memastikan bahwa Anda baik-baik saja, menunggui Anda, bahkan sampai Anda tersadar..." Jelas dokter itu meyakinkan Dalvin.


"Bagaimana, Dok?" Tiba-tiba Duta datang untuk memastikan keadaan Dalvin.


"Tuan Dalvin sudah sadar sepenuhnya. Ia akan segera pulih, Tuan..."


Duta berjalan perlahan kearah Dalvin. Ada rasa gugup melanda hatinya. Sementara Dalvin hanya menatapnya dengan kemarahan. Ia juga telah sepenuhnya ingat apa yang telah terjadi sebelumnya.


"Bisakah kita mulai dari awal lagi?" Tanya Duta sambil menunduk.


"Lalu istriku? Apa aku harus memulai lagi dari awal mencari istri?" Ketus Dalvin.


"Aku sudah mencarinya kemana-mana... Tapi aku tidak dapat menemukan keberadaannya..." Ucap Duta terlihat menyesal.


"Lalu?"


"Aku minta maaf, Vin... Jika itu semua tidak cukup dengan kata maaf, katakan apa yang kamu mau dariku untuk menebusnya?" Duta mulai tak kuasa menahan perasaannya. Matanya memerah menahan diri.


"Apa karena aku telah menyelamatkanmu?" Ketus Dalvin masih belum percaya bahwa Duta benar-benar telah berubah.


Duta menatap Dalvin cepat. Air matanya mengalir begitu saja setelah mendengar ucapan Dalvin.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2