MESKI ISTRIKU BUTA

MESKI ISTRIKU BUTA
17. Selamat Datang Di Kediaman Fernando, Sora


__ADS_3

Dalvin menatap wajah Soraya sejenak. Gadis itu tampaknya sudah kebal dengan rasa takut, atau mungkin ia merasa aman karena berada di sisi Dalvin yang selalu menguatkannya beberapa hari ini.


"Kamu sudah siap?" Tanyanya kemudian.


"Ummm..." Jawab Soraya sambil menganggukkan kepalanya mengarah pada suara Dalvin.


"Kita akan masuk sekarang..." Ucap Dalvin. Ia mengambil tangan Soraya yang tepat di sebelahnya, lalu meletakkan tangan Soraya yang satu lagi ke lengannya.


"Satu langkah di hadapan kita ada dua anak tangga, Sora... Berhati-hatilah..." Bisik Dalvin, dan Soraya kembali mengangguk.


Mereka mulai melangkah dan memasuki rumah mewah itu. Soraya masih dengan memakai gaun putih pernikahan, sementara Dalvin pun masih dengan pakaian yang sama ketika ia meninggalkan rumah itu tadi pagi.


"Selamat datang di kediaman Fernando, Soraya Amarta..." Ucap Dalvin.


Soraya tersenyum.


Dean, Duta dan Sandra ternyata memang sedang berkumpul di ruang keluarga. Mendengar kedatangan mereka berdua, Dean segera menyongsongnya.


"Darimana saja kamu, Vin? Dan, perempuan ini siapa?" Tanya Dean menatap curiga pada Soraya. Ia memerhatikan Soraya dari bawah hingga ke atas dengan berbalut gaun pengantin.


"Perempuan di sampingku ini adalah istriku, Pa... Namanya Soraya Amarta... Kami baru saja melangsungkan pernikahan..." Sahut Dalvin seolah tidak terjadi apa-apa.


Dean terperangah. Bahkan Duta dan Sandra yang berada sedikit jauh dari mereka pun ikut terkejut mendengar pengakuan Dalvin.


"I-istri?" Ucap Duta tak percaya.


"Kenalkan, Sora, ini papaku..." Ucap Dalvin terlihat membangga.


"Sora, Om..." Soraya mengulurkan tangannya, namun yang membuat keluarga Dalvin semakin terpelongo ketika tangan Soraya terulur kearah yang berbeda dari hadapan Dean.

__ADS_1


Dalvin yang melihat itu hanya tersenyum, lalu ia membenarkan arah tangan Soraya tepat di hadapan papanya.


Dean menarik paksa tangan Dalvin untuk menjauh dari sana.


"Sora, kamu disini sebentar, ya... Aku tidak akan lama." Pamit Dalvin sambil menurunkan tangan Soraya kembali. Soraya hanya mengangguk. Ia merasa bagai di sebuah ruang pengap tanpa udara. Begitu sesak, dan tak pula berawal dari perkenalan yang baik.


"Ada apa, Pa?" Tanya Dalvin acuh.


"Apa-apaan kamu ini, Vin? Pulang-pulang bawa gadis buta, dan mengakui istrimu pula?" Tanya Dean penuh amarah.


"Bukankah Papa menginginkan Aku menikah agar aku bisa menjadi lelaki yang lebih bertanggung jawab? Nah, ini aku wujudkan keinginan Papa... Harusnya Papa bangga padaku..." Jawab Dalvin mengejek.


"Dalviiin..." Hardik Dean.


"Inikah caramu membalas sakit hati karena Amira lebih memilihku? Kenapa harus melibatkan gadis lain, Vin? Buta lagi... Dengan ini kamu hanya akan merendahkan dirimu saja..." Cemooh Duta ikut menimpali.


"Seharusnya kamu tidak perlu ikut campur... Ini keputusanku... Lagian aku menolak tawaran papa karena memiliki gadis lain, dia adalah istriku ini, bukan Amira..." Kilah Dalvin sambil tersenyum puas penuh kemenangan.


"Kami baru saja melangsungkan pernikahan yang sah. Jika tidak percaya, lihat saja surat nikah ini..." Dalvin memperlihatkan dua buah buku nikah ke hadapan Duta dan Dean.


Mata Duta membulat ketika melihat buku nikah Dalvin ternyata asli adanya. Darahnya tiba-tiba terasa mendidih sampai ke ubun-ubun.


"Silakan nikmati keserakahanmu, Kakak Tiri..." Ucap Dalvin membalas cemoohan Duta Seraya kembali ke posisi Soraya.


"Ayo, Sora... Kamu pasti kelelahan... Kita akan bersenang-senang dan menikmati kebahagiaan kita..." Ajak Dalvin sambil menggandeng tangan Soraya menuju ke kamarnya.


Tangan Duta mengepal. Ia merasa terkecoh ketika melihat ketulusan Dalvin terhadap Soraya.


Awas kamu, Vin... Beraninya kamu menipuku... Batin Duta. Ia begitu kesal dengan kebenaran yang baru saja ia ketahui.

__ADS_1


"Lucu ya, Pa... Dijodohkan dengan putri orang kaya, putramu itu malah memilih gadis buta..." Sandra yang sedari tadi hanya diam, kini bersuara hanya untuk mengompori suaminya yang terlanjur panas sedari awal.


****


"Keluargamu pasti marah, ya? Mereka pasti tidak menyukaiku..." Ucap Soraya sendu. Ia ikut merasa bersalah mendengar keributan yang terjadi antara Dalvin dan keluarganya tadi.


"Kamu tidak perlu memikirkan itu... Kamu cukup tenang-tenang saja di kamarku ini. Di rumah ini ada aku, papaku, mama tiriku, dan juga Duta... Duta itu kakak tiriku... Aku sangat membencinya..." Jelas Dalvin sambil membuka jasnya.


"Kenapa kamu membenci kakakmu sendiri?" Tanya Soraya bingung.


"Dia sangat jahat kepadaku..." Jawab Dalvin sembarangan.


"Jahat? Apa hanya karena seorang gadis, lalu kamu mengatakan kakakmu jahat?" Tanya Soraya seolah menuding Dalvin iri kepada Duta.


Dalvin menoleh kearah Soraya dan menatap gadis itu dengan perasaan jengkel.


"Kamu tidak tahu apa-apa... Jadi, tidak perlu ikut campur..." Bentak Dalvin meluapkan kekesalannya.


"Maaf... Aku hanya tidak sengaja mendengarnya tadi..." Ucap Soraya merasa bersalah.


"Sekarang ganti pakaianmu. Dua langkah di depanmu, aku meletakkan kopermu... Lalu berjalanlah sepuluh langkah dari sana kearah kiri, kamu akan masuk ke kamar mandi..." Perintah Dalvin.


Soraya dengan cepat menurut. Ia melakukan apa yang diinstruksikan Dalvin dengan benar, walau sesekali ia merasa kesulitan.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2