MESKI ISTRIKU BUTA

MESKI ISTRIKU BUTA
36. Dia Istri Saya, Dok


__ADS_3

Setelah melalui beberapa proses, cuti tahunan yang diusahakan Dalvin akhirnya mendapatkan persetujuan kantor.


"Hari ini kita ke rumah sakit..." Ucap Dalvin senang.


"Hari ini?" Tanya Soraya tampak berpikir. Ia bukan tidak senang, tapi ia lebih ke tidak percaya diri.


"Tidak perlu memikirkan apapun, Sora... Berhasil atau tidak, yang pasti kita sudah berusaha keras... Dan aku akan terus mengusahakan yang terbaik untuk kesembuhan matamu..." Tutur Dalvin meyakinkan Soraya.


"Sangat sulit untuk mendapatkan donor mata, apalagi jika tidak cocok..." Keluh Soraya masih belum percaya diri.


Dalvin menggenggam jemari Soraya. "Ada aku yang akan jadi mata untukmu... Percayalah, semua akan baik-baik saja... Dan percayalah, sinar dunia selalu menunggumu... Kamu pasti bisa melihat lagi..."


Soraya memaksakan senyumnya, dan kemudian ia mengangguk.


"Jangan cegah aku untuk berterima kasih kali ini, Vin... Aku ingin mengucapkannya..." Ujar Soraya sambil membalas genggaman tangan Dalvin.


"Ucapkanlah jika itu membuat kamu sedikit lega dan tenang..."


"Terimakasih..." Ucap Soraya dengan suara terdengar parau.


Dalvin hanya tersenyum. Ia meletakkan telapak tangannya di pipi Soraya. "Jika kamu nanti bisa melihat lagi, apa hal pertama yang ingin kamu lihat?"


"Eh?" Soraya bingung.


"Apa aku harus menemui keluargamu? Mungkin kamu merindukan mereka..." Ujar Dalvin.


Soraya menggeleng cepat. "Tidak perlu..."


"Kenapa?" Tanya Dalvin bingung.


"Aku akan menemui keluargaku setelah aku dapat melihat nanti... Aku hanya ingin terlebih dahulu melihat orang yang sudah berjuang dalam kesembuhan mataku, Vin... Dan itu pastinya kamu..." Papar Soraya.


Dalvin kembali tersenyum. "Aku mengerti... Aku akan berada di sampingmu, dan selalu menggenggam tanganmu..."


Dalam perjalanan ke rumah sakit, Dalvin sering mengamati wajah Soraya. Ia dapat melihat kecemasan di wajah istrinya, lebih kepada berharap.


Sesampai di rumah sakit, ia langsung membawa Soraya menemui dokter yang pernah menanganinya dulu. Ia memang sudah mengadakan janji pertemuan dengan dokter itu seminggu sebelumnya.


"Dia...?" Dokter itu menunjuk kearah Soraya dengan wajah keterkejutan.


"Dia istri saya, Dok..." Jawab Dalvin cepat.


Wajah Dokter itu masih terlihat bingung, namun ia hanya mengangguk menyahuti ucapan Dalvin.

__ADS_1


Soraya dibawa oleh dokter lain untuk melakukan pemeriksaan dengan menggunakan mikroskop lampu celah atau slit lamp.


"Anda berhasil menemukannya, Tuan... Saya sangat salut dengan Anda... Bahkan Anda sampai menikahinya..." Ucap Dokter itu merasa takjub sepeninggal Soraya.


"Maksud, Dokter?" Dalvin terkejut mendengar ucapan Dokter itu.


"Dia perempuan yang telah menyelamatkan Anda, Tuan... Saya yakin Anda sudah tahu itu, kalau tidak, mana mungkin dia menjadi istri Anda sekarang?" Ucap Dokter itu lagi.


"Saya benar-benar tidak mengerti, Dok..." Dalvin menatap wajah Dokter di hadapannya dengan rasa penasaran yang cukup tinggi.


"Dia memberikan mata suaminya yang baru sejam meninggal dunia... Dia bahkan menunggui Anda, dan memantau perkembangan Anda sampai sembuh, Tuan... Dia ikut menangis setiap kali Anda mengamuk karena Anda tidak terima dengan kebutaan yang menimpa mata Anda waktu itu..." Tutur Dokter itu menjelaskan panjang lebar.


Dalvin terhenyak.


"Kenapa dia melakukan itu, Dok?" Tanya Dalvin dengan bibir bergetar tidak percaya.


"Dia menangis dan mengutuk dirinya sendiri... Dia merasa, dialah penyebab kecelakaan yang Anda alami..."


^^^^


Soraya sangat khawatir. Rio awalnya cuma pamit untuk cek up, akan tetapi sudah tengah malam Rio belum juga kunjung pulang. Ia berusaha keluar dari rumah dan menyusuri jalan yang sepi.


Soraya berharap akan ada taksi yang lewat dan memberi tumpangan terhadapnya.


Alangkah terkejutnya ia, mobil itu malah memberinya klakson panjang. Ia panik lalu menutup wajahnya. Ia pasrah jika mobil itu malah menabrak dirinya.


Benturan keras terdengar memekakkan telinganya. Ia terduduk lemas di atas aspal jalan merasa lega jika mobil itu tidak jadi menghantamnya.


"To- loooooong..." Tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara seseorang yang meminta tolong.


Soraya segera bangkit dan berjalan kearah suara. Ia meraba mobil itu dengan susah payah, lalu mencoba mengulurkan tangannya ke dalam mobil itu.


"Bertahanlah..." Ucapnya begitu panik.


Tidak lama, orang-orang yang tinggal di dekat kejadian berdatangan. Mereka mengantarkan Dalvin yang sudah tidak sadarkan diri ke rumah sakit.


Beberapa hari diam-diam Soraya memantau keadaan Dalvin di rumah sakit. Ia merasa bersalah karena telah menyebabkan terjadinya kecelakaan itu.


Ketika ia baru saja kembali dari tempat Rio dirawat, ia tidak sengaja mendengar percakapan dokter dengan Dean mengenai kondisi Dalvin yang buta. Soraya sangat merasa bersalah sekali terhadap Dalvin.


Sementara itu keadaan Rio malah semakin memburuk, dan sahabat Rio juga tidak kunjung datang.


"Bagaimana, Nona Soraya? Apa Anda sudah siap menerima donor mata dari Rio?" Tanya dokter Nino yang menangani kasus Rio.

__ADS_1


"Saya sudah memikirkannya, Dok... Akan ada seorang dokter lainnya yang mau menemui Anda nanti... Tolong berikan mata Rio untuk pasien dokter itu, Dok... Katakan saja jika saya adalah istri Rio yang memberikannya..." Tutur Soraya.


"Untuk orang lain? Padahal Nona sudah lama menantikan ini, tapi kenapa dengan mudahnya memberikan kesempatan ini untuk orang lain?" Tanya dokter Nino heran.


"Saya membuat kesalahan... Saya penyebab dia buta, Dok... Saya tahu persis bagaimana rasanya tidak bisa melihat, dan saya tidak ingin orang itu merasakan hal yang sama dengan saya, apalagi saya sendiri menjadi penyebabnya..." Jelas Soraya dengan perasaan sedih bercampur rasa bersalah.


Dokter Nino menatap Soraya sendu. Ia begitu iba setelah mendengar pengakuan Soraya, karena ia tahu betul tidaklah mudah mendapatkan pendonor untuk mata.


"Terimakasih, Dok... Setelah dari pemakaman Rio nanti, saya akan langsung pulang... Sesuai permintaan saya, dokter rahasiakan saja tentang ini kepada mereka..." Pinta Soraya.


"Oh ya, Dok... Apa sahabatnya Rio ada datang?"


"Belum, Nona... Saya juga telah beberapa kali mencoba menghubungi nomornya sejak terakhir kali, tapi nomor teleponnya tidak pernah aktif lagi... Tapi Nona tenang saja, saya akan terus mencobanya... Ini juga amanat tuan Rio. Selain beliau pasien saya, beliau sudah saya anggap sebagai saudara sendiri..." Jawab dokter Nino memberi kejelasan.


"Terimakasih, Dok... Kalau begitu saya pamit dulu..." Ucap Soraya seraya bangkit dari duduknya.


"Biar saya antar ke depan, Nona... Saya akan bantu mencarikan taksi untuk Anda..."


Soraya mengangguk.


****


Dalvin bergeming. Ia tidak tahu harus berucap apa setelah mendengar cerita dokter di hadapannya. Air matanya sampai meleleh membayangkan Soraya yang mengulurkan tangan kepadanya waktu itu.


"Jadi, tidak salah jika aku mengatakan bahwa aku pernah melihatnya..." Gumam Dalvin.


"Apa papa saya juga tahu, Dok?" Tanya Dalvin sambil menatap lekat wajah dokter itu.


Dokter tampak berpikir. "Saya rasa tidak... Jangankan beliau, saya sendiri ketika kedatangannya terakhir kali barulah saya menyadari..."


"Tapi, karena dokter Nino mengatakan bahwa keluarga almarhum meminta ini dirahasiakan, makanya saya tidak pernah membahasnya lagi... Sungguh ini kebetulan yang benar-benar tidak bisa disangka..." Ucap dokter itu sambil tersenyum.


"Dan lebih kebetulan lagi, Dok, Pendonor adalah sahabat saya yang menghubungi saya tepat di malam saya mengalami kecelakaan..." Sambut Dalvin.


Mendengar pengakuan Dalvin, dokter itu pun malah terpelongo.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2