
Sepulang dari rumah sakit, Dalvin langsung ke pemakaman Rio. Ia diberitahu dokter Nino dimana lokasi pemakaman sahabatnya itu.
Dalvin yang terbiasa kuat, pada akhirnya harus menitikkan air mata. Ia tak kuasa menahan tangisnya di samping onggokan tanah tempat Rio ditanamkan.
"Ini kenyataan, ya, Yo? Kok aku masih belum percaya kamu pergi begitu cepat? Kamu tidak pernah sekalipun mengeluh sakit kepadaku. Berarti selama ini aku yang paling cengeng, ya? Sedikit-sedikit mengeluh, sedikit-sedikit mengomelkan kelakuan keluargaku kepadamu?"
Dalvin mengeluarkan amplop yang diberikan dokter Nino tadi dari kantong kemeja yang ia pakai.
"Aku akan membaca surat ini disini, Yo... Biar aku bisa merasakan bahwa kamu saat ini yang sedang berbicara denganku..."
Dear Dalvin...
Hehehe... Saya nggak tahu cara menyapa yang benar, soalnya kita nggak pernah saling menyapa secara formal, kan? Terkadang bila saya perlu kamu, saya akan langsung menelepon... Dan begitu juga sebaliknya, bahkan aku harus dibuat kaget karena kedatanganmu yang tiba-tiba... Dan paling menyebalkan, setiap kamu mencariku tidak lain untuk menceritakan sakit hatimu seperti jeng-jeng arisan yang suka curhat... Hak hak hak...
Kali ini pasti berbeda, kan, Vin? Saya menyapamu melalui surat ini... Dimana aku sudah tidak lagi berada di dunia ini... Saya minta maaf karena tidak pernah menceritakan kondisi saya selama ini kepadamu... Saya tidak sampai hati menambah bebanmu, Vin...
Oh ya, Vin... Selama ini kamu selalu bertanya, apa keinginanku darimu, kan? Kenapa akhir-akhir ini saya melarangmu datang ke rumah? Setelah ini kamu akan tahu jawabannya, Vin... Datanglah ke rumahku, Vin... Temui dia... Tolong dia, Vin... Dia rapuh... Jaga dan lindungi dia... Saya mohon... Cuma ini permintaan saya darimu... Pertama dan terakhir kalinya...
Dalvin kembali melipat surat yang baru saja ia baca. Ia terlihat bingung, tidak mengerti sama sekali maksud isi surat itu.
__ADS_1
"Temui dia? Siapa memangnya dia?" Pikirnya. Ia tak hentinya bertanya-tanya di dalam hati. Dia siapa yang dimaksud sahabatnya itu. Dalvin tahu betul bahwa Rio hidup sebatang kara semenjak ayah angkatnya meninggal beberapa tahun lalu, sementara selain itu, ia tak punya saudara mana pun.
Dalvin meninggalkan area pemakaman, lalu segara menuju ke rumah Rio. Ia tahu betul dimana rumah sahabatnya itu, bahkan ketika ia malas pulang, ia akan menginap disana. Tapi anehnya, beberapa hari sebelum ia mengalami kecelakaan, sahabatnya selalu melarangnya untuk datang. Berbagai alasan diucapkan Rio kala itu.
Taxi online mengantarkannya ke rumah mendiang sahabatnya. Rumah mini malis tempat biasa ia melepas penat, kini terlihat sunyi dan tak ada aura kehidupan di dalamnya. Ia semakin dibuat penasaran, siapa yang tinggal disana, sementara rumah seperti kosong tak berpenghuni.
Dalvin melangkah memasuki pekarangan rumah. Hatinya mulai berdenyut nyeri. Sekilas bayangan ia sedang bermain gitar bersama sahabatnya di beranda rumah itu pun kembali berputar di memorinya.
Dalvin menggeleng. Meski itu hanyalah tinggal kenangan, namun ia memiliki tugas dari Rio, yang akan membuat sahabatnya itu akan selalu hidup terus bersamanya.
"Permisi!!!" Seru Dalvin dengan hati-hati sambil celingak-celingukan melihat lewat jendela kaca samping pintu rumah.
"Ada orang di dalam?" Tanya Dalvin lagi. Sesekali ia mengetuk pintu.
"Siapa di dalam?" Panggil Dalvin sambil mendongakkan kepalanya ke dalam rumah. Bari kali itu ia merasa asing dengan rumah yang selama ini sudah dianggapnya rumah sendiri. Ia juga ngeri dan merasa takut dengan suasananya. Gelap dan mencekam.
PRAAANNKK...
Dalvin terperanjat. Ia begitu kaget. Bukan sambutan baik, sebuah gelas berasal dari sudut rumah terhempas dan berserakan di hadapannya.
__ADS_1
"Siapa disana?" Tanya Dalvin dengan suara keras. Ia merasa dipermainkan oleh seseorang yang belum terlihat olehnya.
"Jangan bermain-main... Anda bisa melukai saya..." Hardik Dalvin seakan tidak sabar atas kelakuan orang itu.
"Saya datang baik-baik kesini, ya... Jadi, saya mohon untuk bersikap baik pula terhadap saya..." Ucap Dalvin masih dengan amarah yang meletup bagai larva panas.
"Pergi!!!" Teriak seseorang mengusirnya dari rumah itu.
"Perempuan? Siapa dia? Sejak kapan Rio menyimpan perempuan di rumah ini?" Guman Dalvin semakin dibuat penasaran ketika suara orang itu terdengar.
"Siapa kamu? Boleh saya masuk?" Tanya Dalvin mulai melunakkan suaranya. Sepertinya ia harus berhati-hati menghadapi perempuan tak dikenalinya itu.
"Pergi!!!" Teriak perempuan itu lagi menandakan ia menolak permintaan Dalvin.
"Sa-saya... Saya temannya Rio... Saya diminta Rio untuk datang kesini..." Ucap Dalvin tak berputus asa.
.
.
__ADS_1
.
.